Surat Al Hujurat Ayat 12, Larangan Bergunjing Dan Prasangka Buruk

Reporter : Ulyaeni Maulida
Rabu, 27 Januari 2021 11:40
Surat Al Hujurat Ayat 12, Larangan Bergunjing Dan Prasangka Buruk
Bergunjing laksana memakan bangkai saudaranya sendiri

Dream - Berprasangka buruk kepada sesama manusia sebenarnya dilarang oleh agama manapun. Larangan berparasangka buruk dan bergunjing disebutkan dalam firman Allah SWT dalam surat al Hujurat ayat 12.

Surat Al Hujurat merupakan surat ke-49 dalam Al Quran. Al Hujurat merupakan surat Madaniyah. Madaniyah adalah istilah yang diberikan kepada ayat Al Quran yang diturunkan di Madinah atau diturunkan setelah Rasulullah SAW hijrah ke Madinah.

Al Hujurat ayat 12 ini berisi tentang larangan bergosip. Mengingat dalam keseharian tanpa sadar manusia sering melakukan hal ini. Menggunjingkan orang lain menjadi makanan sehari-hari.

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda: “ Tahukah kamu apa itu ghibah? Mereka (para sahabat menjawab), Allah dan Rasul-Nya lebih tahu. Kemudian beliau Saw bersabda, “ Engkau menyebut-nyebut saudaramu tentang sesuatu yang ia benci.”

Lalu ada yang bertanya, “ Bagaimana menurutmu jika sesuatu yang aku sebutkan tersebut nyata-nyata ada pada saudaraku?” Beliau Saw menjawab, “ jika memang apa yang engkau ceritakan tersebut ada pada dirinya itulah yang namanya ghibah, namun jika tidak berarti engkau telah berdusta atas namanya.” (HR. Muslim)

1 dari 2 halaman

Bacaan Surat Al Hujurat Ayat 12

 

Surat Al Hujurat ayat 12 menggambarkan tentang pentingnya bagi kita semua untuk menjauhi prasangka buruk dan ghibah.

Bacaan Arab

 

Surat Al Hujurat Ayat 12© Dream.co.id

Bacaan Latin

Yaa ayyuhal ladziina aamanuj tanibuu katsiirom minadh dhonni inna ba’dlodh dhonni itsm. Walaa tajassasuu walaa yaghtab badlukum ba’dloo. Ayuhibbu ahadukum ay ya’kula lahma akhiihi maitan fakarihtumuuhu wattaqullooha innallooha tawwaabur rohiim

 

Terjemahan

Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.

2 dari 2 halaman

Isi Kandungan Surat Al Hujurat Ayat 12

Ilustrasi Berdoa© Ilustrasi Berdoa (Shutterstock.com)

Berikut ini isi kandungan Surat Al Hujurat ayat 12 yang diambil dari sejumlah tafsir. Yakni Tafsir Al Qur’anil ‘Adhim karya Ibnu Katsir, Tafsir Al Munir karya Syaikh Wahbah Az Zuhaili, Tafsir Fi Zilalil Quran karya Sayyid Qutb dan Tafsir Al Azhar karya Buya Hamka.

  • Surat Al Hujurat ayat 12 memerintahkan orang-orang yang beriman untuk menjauhi prasangka buruk.
  • Ayat ini melarang memata-matai dan mencari-cari keburukan orang lain. Dalam Tafsir fi Zilalil Quran disebutkan kata tajassasuu merupakan kegiatan yang mengringi dugaan dan kadang sebagai respon awal untuk menyingkap aib dan mengetahui keburukan orang lain. Dalam Tafsir Ibnu Katsir menyebutkan bahwa surat al Hujurat ayat 12 ini Allah melarang hamba-hamba-Nya yang beriman untuk berprasangka buruk kepada yang lainnya. Yaitu mencurigai seasamanya dengan tuduhan yang tidak ada dasarnya. Sebagian dari dugaan adalah dosa maka harus dijauhi.
  • Ayat ini juga melarang ghibah. Bahkan menjelaskan ghibah laksana memakan bangkai saudaranya sendiri. Di masa Rasulullah SAW, kadang bau busuk ghibah benar-benar tercium.  Imam Ahmad meriwayatkan ketika Jabir bin Abdullah dan sejumlah sahabat bersama Rasulullah Saw, terciumlah bau bangkai yang sangat busuk. Maka Rasulullah Saw bersabda: “ Tahukah kaliah bau apakah ini? Ini adalah bau orang-orang yang suka menggungjingkan orang lain.” (HR. Ahmad)
  • Buruk sangka, memata-matai dan mencari-cari keburukan orang lain serta ghibah adalah haram serta menjadi perusak persatuan. Padahal orang-orang beriman itu bersaudara dan harus menjaga persatuan sebagaimana dijelaskan dalam Surat Al Hujurat ayat 10.
  • Ayat ini memerintahkan orang-orang beriman untuk bertaqwa. Jika orang beriman masih melakukan perbuatan buruk tersebut, hendaklah bertaubat dan bertaqwa. Dengan taqwa, terjagalah diri dari sifat-sifat buruk tersebut dan dengan taqwa Allah akan menerima taubatnya.
  • Allah senantiasa membuka pintu taubat dan pintu kasih sayang bagi hamba-hamba-Nya yang bertaubat dan bertaqwa.

 

(Diambil dari berbagai sumber)

 

Beri Komentar