Surat Al Imran Ayat 159 Arab, Latin, Terjemahan, Asbabun Nuzul dan Kandungan

Reporter : Arini Saadah
Rabu, 20 Januari 2021 11:10
Surat Al Imran Ayat 159 Arab, Latin, Terjemahan, Asbabun Nuzul dan Kandungan
Rasulullah Saw merupakan sosok yang pantas dan seharusnya dijadikan teladan dalam bersikap, baik kepada sahabat maupun kepada lawan.

Dream – Rasulullah Saw merupakan sosok yang pantas dan seharusnya dijadikan teladan dalam bersikap. Utusan Allah paling terakhir itu memiliki akhlak yang mulia. Hal ini dijelaskan dalam surat Al Imran ayat 159.

Surat ini berusaha mengajak umat muslim untuk memahami akhlak mulia Rasulullah Saw dalam menyelesaikan persoalan yang sedang dihadapi. Ayat ini berisi tentang cara seseorang dalam menyikapi masalah serta anjuran untuk berbuat baik kepada semua orang termasuk lawan.

Apabila sebagai muslim mampu memahami dan mengamalkan isi surat Al Imran ayat 159 ini dengan benar, maka kebaikan dan pahala akan ia dapatkan. Selain itu juga tercipta kebersamaan dan kedamaian antar manusia secara harmoni.

Di tengah krisis akhlak seperti sekarang ini, manusia mudah tersulut emosi yang menimbulkan perpecahan bahkan di kalangan umat muslim sendiri. Maka dari itu, belajar dari Surat Al Imran ayat 159 ini kita perlu memahami akhlak Rasulullah Saw dalam menyikapi permasalahan dengan kepala dingin dan musyawarah. Serta perintah untuk berbuat baik termasuk kepada orang yang berbeda pendapat. Supaya lebih jelas, mari kita pahami bersama tafsir surat Al Imran ayat 159 berikut ini.

1 dari 3 halaman

Bacaan Surat Al Imran Ayat 159

Dikutip dari Bincang Syariah, berikut bacaan quran surat Al Imran ayat 159:

Ilustrasi© bincangsyariah.com

Fabimaa rohmatim minallohi linta lahum. Walau kunta fadhdhon gholiidhol qolbi lanfadldluu min haulik. Fa’fu ‘anhum wastaghfirlahum wasyaawirhum fil amr. Fa,idzaa azamta fatawakkal ‘alallooh. Innallooha yuhibbul mutawakkiliin.

Artinya:

Maka dengan rahmat Allah Swt kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Alla. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.

2 dari 3 halaman

Asbabun Nuzul Surat Al Imran Ayat 159

Surat Al Imran ayat 159 turun dilatarbelakangi oleh peristiwa perang Uhud yang melibatkan kaum muslim di Madinah dan kaum kafir Quraisy. Pecahnya perang Uhud terjadi pada tahun 625 Masehi ini tidak luput dari kekalahan kaum Quraisy dalam Perang Badar satu tahun sebelumnya.

Ilustrasi© freepik.com

Sementara itu spirit kaum muslim untuk berperang melawan musuh masih berkobar. Namun tidak sedikit pula yang menghianati Rasulullah Saw saat Perang Uhud berlangsung. Sehingga kaum muslimin terpaksa dipukul mundur.

Sebab sebagian besar pasukan Islam meninggalkan Rasulullah Saw dalam kepungan musuh. Hanya tersisa beberapa sahabat yang masih setia melindungi Rasulullah Saw hingga akhirnya Al Imran ayat 159 diturunkan untuk menenangkan dan menghibur kesedihan Nabi Muhammad Saw.

Tak hanya itu saja, Surat Al Imran ayat 159 ini juga menyadarkan kepada kaum muslimin terhadap nikmat Allah Swt, karena telah mendapat sang utusan yang mulia akhlaknya yaitu Rasulullah Saw dengan sikap yang lemah lembut, pemaaf, tawakkal, dan pandai bermusyawarah.

3 dari 3 halaman

Kandungan Surat Al Imran Ayat 159

Surat Al imran ayat 159 ini mengajarkan kepada manusia betapa luhurnya budi pekerti Rasulullah Saw terhadap umatnya. Bagaimana tidak, beliau Saw selalu bersikap lemah lembut kepada siapapun, baik yang mendukung maupun yang memusuhinya.

Rasulullah Saw selalu memaafkan dan meminta maaf serta mengajak umatnya untuk legowo dengan pendapat orang lain.

Wahbah Zuhaili menegaskan surat Al imran ayat 159 ini berbicara tentang konteks interaksi Nabi Saw dengan para sahabat yaitu dengan lemah lembut, memaafkan, bermusyawarah dalam menyelesaikan masalah, dan menasihati supaya selalu berbuat baik.

“ Sebab kasih sayang dan petunjuk-Nya, Allah menjadikan Nabi Muhammad Saw sebagai seorang hamba yang elegan dalam berinteraksi dengan sesama, menerima segala bentuk pendapat, bertutur secara santun dan ramah.”

Karena sikapnya yang begitu mulia, tak heran jika beliau menjadi seorang pemimpin yang sangat dipatuhi dan disegani tanpa paksaan dari umat-Nya. Rasulullah Saw merupakan pemimpin yang menganjurkan dan menjalankan anuran itu, serta pemimpin yang melarang sekaligus menjauhi larangan tersebut.

Beri Komentar