Takjub Kaligrafi Masjid, Wanita Amerika Peluk Islam

Reporter : Sandy Mahaputra
Selasa, 27 Januari 2015 07:07
Takjub Kaligrafi Masjid, Wanita Amerika Peluk Islam
Karima betah berlama-lama mengagumi tulisan kaligrafi yang terpahat di dinding Masjid Kordoba.

Dream - Karima Burns menemukan Islam setelah jatuh cinta pada bahasa dan tulisan Arab. Perjalanan Karima dimulai ketika dia berlibur di Spanyol, tepatnya di Masjid Kordoba atau Alhambra.

Karima betah berlama-lama mengagumi tulisan kaligrafi yang terpahat di dinding Masjid Kordoba. " Ini adalah tulisan paling indah yang pernah aku lihat," kenangnya.

Ia bahkan minta diberi brosur perjalanan wisata bertuliskan huruf Arab kepada pemandu wisatanya saat itu.

Setiap malam, Karima akan membuka brosur-brosur bertuliskan huruf Arab itu di kamar hotelnya. Dia bahkan membayangkan bisa menulis huruf seindah itu dan bertemu dengan budaya yang memiliki bahasa tersebut.

Karima pun berjanji akan belajar bahasa dan tulisan itu ketika kembali ke kampung halamannya di Iowa, Amerika Serikat. Perjalanan Karima ke Spanyol itu sebenarnya adalah pencarian jawaban dari kebingungan dan keraguan yang dirasakan Karima terhadap agamanya selama ini.

Saat kembali ke AS, Karima mendaftar di Northwestern University. Begitu diterima, Karima langsung mendaftar di kelas bahasa Arab. Keteguhan Karima mempelajari bahasa Arab membuat bingung dosennya yang non-muslim.

Ketika mengerjakan PR kaligrafi, Karima bahkan pergi ke area orang Arab di Chicago untuk pinjam buku bahasa Arab sehingga dia bisa mempelajari tulisannya.

Di tahun kedua, Karima memutuskan mengambil studi tentang Timur Tengah. Salah satu yang dipelajari adalah Alquran.

Suatu malam, Karima membuka Alquran untuk mengerjakan salah satu PR-nya dan ternyata dia tak pernah mau berhenti untuk membacanya.

Karima merasa Alquran seperti novel yang sangat indah, berisi semua jawaban dari keraguan dan kebingungannya selama ini.

Pada hari berikutnya, dia bertanya pada dosennya siapa pengarang dari Alquran ini agar dia bisa membaca buku-buku karangan pengarang tersebut.

Namun dosen Karima mengatakan bahwa menurut Muslim, Alquran bukan karangan siapa-siapa. Alquran, menurut mereka (mengacu pada umat Islam, dosen Karima adalah non-muslim), adalah firman Allah dan tidak pernah berubah sejak diwahyukan, dibacakan dan kemudian ditranskripkan.

Setelah mengetahui itu, Karima menjadi bersemangat, tidak hanya dalam belajar sastra Arab, tapi tentang Islam dan pergi ke Timur Tengah.

Di tahun terakhir kuliah, Karima pergi ke Mesir untuk melanjutkan kuliahnya. Di sana, dia sangat suka berpergian ke masjid-masjid. Karima merasa nyaman dan kagum setiap berada di dalam masjid. Dia bisa merasakan keindahan dan kekuatan Allah.

Suatu hari seorang teman bertanya kenapa tidak masuk Islam saja jika menyukainya. Tanpa sadar, Karima menjawab 'tapi saya sudah Muslim'.

Karima terkejut dengan jawabannya sendiri. Tapi kemudian, ia menyadari bahwa itu adalah masalah logika dan akal sehat. Islam masuk akal dan telah memberinya ilham.

" Saya tahu Islam benar. Mengapa saya tidak langsung menjadi pengikutnya?," katanya dalam hati.

Teman Karima kemudian memberitahu bahwa untuk 'meresmikan' keislamannya, Karima harus pergi ke masjid dan menyatakan niatnya di depan dua orang saksi. Tanpa menunggu lama, Karima kemudian pergi ke masjid dan mengucapkan kalimat syahadat.

" Saya tahu saya telah menjadi musliim saat mengambil Alquran. Begitu saya membukanya, saya merasa seperti telah menemukan keluarga lama yang hilang."

(Sumber: OnIslam.net)

Beri Komentar
(Deep Dream) Menteri PAN-RB Buka-bukaan Soal PNS Kerja dari Rumah dan Single Salary