5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun
6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
Gunung Berapi (fastcoexist.com)
Dream - Letusan gunung berapi selalu mengundang ketakutan, tapi juga kekaguman bagi ilmuwan.
Bumi dihiasi oleh ribuan gunung berapi, baik yang terlihat di permukaan maupun yang tersembunyi di bawah dasar laut. Setiap hari, 10 hingga 20 gunung berapi di beberapa wilayah di Bumi meletus.
Sebelumnya para ahli menepis bahwa gunung berapi di planet ini bisa meletus secara bersamaan. Namun, bayangkan jika 1.500 saja gunung berapi meletus bersama-sama, bagaimana jadinya Bumi ini.
Parv Sethi, seorang ahli geologi di Radford University di Virginia mengatakan jika gunung berapi di Bumi meletus bersama-sama, akan memicu rantai kerusakan lingkungan yang banyak.
Kekuatan ledakannya berkali-kali lebih kuat daripada sebuah nuklir. Berikut adalah gambaran jika gunung-gunung berapi meletus secara berbarengan. Cek halaman berikutnya!
(Ism, Sumber: Live Science)
© Dream
Dream - Sethi memprediksi bahwa lapisan abu tebal akan menyelimuti Bumi, benar-benar menghalangi sinar matahari yang masuk.
" Planet ini akan berada dalam kegelapan yang amat sangat. Sehingga akan menghalangi fotosintesis, menghancurkan hasil panen dan menyebabkan suhu menjadi sangat dingin," kata Sethi.
Ditambahkannya, abu tersebut akan akan berlama-lama di atmosfer hingga 10 tahun. (Ism)
© Dream
Dream - Hujan asam akan membunuh setiap tanaman yang selamat dari sebaran abu vulkanik, kata Sethi. Gas vulkanik yang mengandung bahan berbahaya seperti asam klorida, hidrogen fluorida, hidrogen sulfida dan belerang dioksida, bisa menjadi hujan asam ketika mereka mencapai ketinggian tertentu di atmosfer.
Hujan asam tersebut akan mencemari air tanah dan permukaan laut. Pengasaman samudera secara besar-besaran akan membunuh karang dan makhluk laut dengan cangkang keras. Kepunahan akan melanda rantai makanan laut, memusnahkan ikan dan kehidupan laut lainnya. (Ism)
© Dream
Dream - Ledakan vulkanik besar-besaran juga menyemburkan abu, debu dan gas ke stratosfer. Partikel-partikel ini memantulkan sinar matahari yang menuju Bumi dan secara signifikan dapat mendinginkan planet, meskipun sebentar.
Letusan Gunung Pinatubo pada tahun 1991 - salah satu dari dua letusan terbesar pada abad ke-20 - mendinginkan belahan dunia hingga 0,7 derajat Fahrenheit (0,4 derajat Celcius) selama dua tahun. (Ism)
© Dream
Dream - Letusan gunung berapi akan melepaskan gas karbon dioksida yang menjadi penyebab efek rumah kaca, yang bisa membantu mengimbangi pendinginan global Bumi dari abu dan partikel stratosfer. Tapi Sethi bertanya-tanya apakah 1.500 letusan gunung berapi secara simultan mampu mengimbangi sistem Bumi.
" Ini akan menjadi seperti memutar tombol pemanggang sate pada kompor gas," katanya. " Letusan secara bersama itu benar-benar akan mengubah komposisi atmosfer dengan karbon dioksida yang memicu keracunan dan pemanasan di atmosfer. Dengan kata lain, kita akan dimasak," kata Sethi.
Sebuah batu hitam dari Periode Cretaceous disebutkan mengandung karbon dioksida tingkat tinggi. Begitu tingginya kandungan karbon dioksida di atmosfer pada masa itu hingga mengeringkan air laut dan membunuh semua kehidupan di dalamnya.
Selama Periode Cretaceous Akhir, sekitar 90 juta tahun yang lalu, tingkat karbon dioksida di atmosfer adalah sekitar 2,5 kali tingkat saat ini, menurut para ilmuwan. (Ism)
© Dream
Dream - Jadi bentuk kehidupan yang bagaimana yang bisa bertahan dari letusan vulkanik yang mematikan ini?
" Inilah saatnya bagi makhluk hidup setingkat mikroba yang suka hidup di tempat ekstrem atau ekstremofili beraksi," Sethi memprediksi.
Organisme ini sudah hidup di lingkungan yang sangat asam, seperti air panas Yellowstone atau di perairan dalam, terlindung dari kerusakan permukaan. " Ini akan menjadi seperti bersih-bersih alam dengan melakukan evolusi seperti sebelumnya."
Namun strategi yang ada di film-film sci-fi mungkin bisa diaplikasikan. Seperti tinggal di luar angkasa atau di bunker bawah tanah, menunggu kondisi Bumi bersih kembali.
" Yang beruntung akan menjadi orang-orang yang mati dalam skenario ini," kata Sethi. (Ism)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun

6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?