Krisis Pangan Dunia Membayangi, 33 Negara Imbau Warga Simpan Stok Makanan di Rumah, Bagaimana Kondisi Indonesia?

News | Kamis, 5 November 2026 08:00

Reporter : Rizky Wahyu Permana

Peta yang diterbitkan Newsweek pada 28 Oktober 2026 mencatat 33 negara yang memiliki panduan pemerintah mengenai persediaan makanan, air, dan kebutuhan darurat di rumah.

DREAM.CO.ID - Imbauan pemerintah di puluhan negara agar masyarakat menyiapkan persediaan makanan dan air minum di rumah kembali menjadi sorotan. Hingga awal November 2026, sedikitnya 33 negara tercatat memiliki panduan kesiapsiagaan yang meminta rumah tangga menyimpan kebutuhan pokok untuk menghadapi keadaan darurat. Rekomendasi ini muncul di tengah meningkatnya risiko konflik geopolitik, bencana alam, gangguan infrastruktur, dan ketidakpastian rantai pasok dunia.

Namun, ada hal penting yang perlu diluruskan: imbauan tersebut bukan berarti 33 negara sedang mengalami kelangkaan pangan atau memperingatkan warganya bahwa kelaparan massal akan segera terjadi. Sebagian besar merupakan panduan kesiapsiagaan menghadapi gangguan sementara, seperti listrik padam, banjir, badai, serangan siber, hingga konflik bersenjata. Persediaan yang dianjurkan umumnya untuk tiga hari, meskipun beberapa negara meminta persiapan lebih lama.

Mengapa 33 Negara Meminta Warganya Menyimpan Persediaan Makanan?

Peta yang diterbitkan Newsweek pada 28 Oktober 2026 mencatat 33 negara yang memiliki panduan pemerintah mengenai persediaan makanan, air, dan kebutuhan darurat di rumah. Negara-negara tersebut tersebar di enam kawasan dunia.

Di Eropa terdapat Inggris, Irlandia, Prancis, Jerman, Belanda, Denmark, Norwegia, Swedia, Finlandia, Estonia, Latvia, Lithuania, Polandia, Republik Ceko, Austria, Swiss, dan Kroasia.

Di Amerika Utara terdapat Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Sementara itu, Amerika Selatan mencakup Brasil, Cile, Kolombia, dan Argentina. Di Afrika terdapat Afrika Selatan.

Untuk kawasan Asia, negara yang masuk dalam daftar adalah Jepang, Taiwan, Israel, India, Filipina, dan Singapura. Adapun Australia serta Selandia Baru masuk dalam kelompok Oseania.

Meski demikian, negara-negara tersebut tidak mengeluarkan satu pengumuman serentak. Sebagian memiliki panduan kesiapsiagaan yang sudah berlaku selama bertahun-tahun, sementara sebagian lainnya memperbarui kampanye persiapan menghadapi keadaan darurat.

Finlandia dan Swedia, misalnya, sudah lama mendorong masyarakat menyiapkan kebutuhan dasar untuk menghadapi gangguan layanan publik. Jepang memiliki tradisi kesiapsiagaan bencana karena risiko gempa bumi besar. Negara-negara di kawasan Baltik dan Nordik juga memperhitungkan risiko geopolitik serta gangguan terhadap jaringan listrik dan sistem pembayaran.

Di Inggris, pemerintah meluncurkan kampanye Be Ready pada 22 Oktober 2026. Masyarakat diminta menyiapkan persediaan makanan tahan lama dan air minum untuk menghadapi kemungkinan terganggunya layanan listrik, air, telepon, dan internet akibat cuaca ekstrem maupun keadaan darurat lainnya.

Dengan demikian, angka 33 tersebut lebih tepat dipahami sebagai jumlah negara yang tercatat memiliki panduan kesiapsiagaan rumah tangga, bukan 33 negara yang baru saja mengumumkan kondisi darurat pangan.

2 dari 5 halaman

Berapa Lama Warga Diminta Menyimpan Persediaan?

Durasi persediaan yang dianjurkan berbeda-beda. Inggris, Prancis, Kanada, Jepang, Meksiko, dan Belanda termasuk negara yang merekomendasikan kebutuhan dasar untuk sekitar 72 jam atau tiga hari.

Swedia dan Norwegia mendorong persiapan untuk sekitar satu minggu, sedangkan Jerman memiliki rekomendasi persediaan hingga 10 hari. Amerika Serikat melalui situs kesiapsiagaan Ready.gov menyarankan masyarakat memiliki makanan, air, dan kebutuhan lain yang cukup untuk beberapa hari.

Panduan Inggris memberikan gambaran lebih terperinci. Setiap orang dianjurkan menyediakan sekitar tiga liter air minum per hari atau sembilan liter untuk kebutuhan tiga hari. Jumlah tersebut khusus untuk minum dan belum mencakup kebutuhan memasak maupun kebersihan.

Makanan yang disarankan adalah bahan pangan tahan lama yang tidak memerlukan lemari pendingin atau proses memasak. Contohnya makanan kaleng, ikan atau daging olahan, sayuran kaleng, buah kering, dan kacang-kacangan.

Selain makanan dan air, masyarakat juga disarankan memiliki obat-obatan rutin, perlengkapan pertolongan pertama, lampu senter, baterai cadangan, radio, pengisi daya portabel, uang tunai, dan salinan dokumen penting.

Persediaan tersebut bukan dimaksudkan untuk ditimbun secara berlebihan. Tujuannya adalah memastikan keluarga tetap dapat memenuhi kebutuhan dasar ketika layanan publik atau distribusi barang terganggu selama beberapa hari.

3 dari 5 halaman

Krisis Pangan Dunia Masih Menjadi Ancaman Serius

Kekhawatiran terhadap ketahanan pangan dunia bukan tanpa alasan. Laporan Global Report on Food Crises 2026 yang disusun oleh FAO, World Food Programme (WFP), dan jaringan Global Network Against Food Crises menunjukkan bahwa sekitar 266 juta orang di 47 negara dan wilayah mengalami kerawanan pangan akut sepanjang 2025. Angka tersebut setara dengan 22,9 persen populasi yang dianalisis dalam laporan.

Laporan tersebut juga mencatat bahwa untuk pertama kalinya dalam sejarah penerbitannya, dua kondisi kelaparan atau famine terjadi secara bersamaan pada 2025, yakni di sebagian wilayah Jalur Gaza dan Sudan.

Memasuki 2026, situasinya belum sepenuhnya membaik. Pembaruan laporan pada September 2026 menunjukkan kerawanan pangan akut masih berada pada tingkat tinggi di berbagai negara. Konflik bersenjata, ketidakamanan, dan cuaca ekstrem menjadi penyebab utama, diperburuk oleh kenaikan harga pangan dan pupuk.

Tiga negara yang diidentifikasi memiliki risiko kelaparan atau famine adalah Somalia, Sudan Selatan, dan Sudan. Sementara itu, konflik di Timur Tengah, fenomena iklim El Niño, serta berkurangnya pendanaan bantuan kemanusiaan berpotensi memperburuk situasi menjelang akhir 2026 hingga 2027.

Artinya, persoalan pangan dunia bukan sekadar tentang berkurangnya jumlah bahan makanan. Ketika perang menghambat distribusi, cuaca ekstrem merusak panen, dan harga pupuk meningkat, kemampuan masyarakat untuk memperoleh makanan juga ikut terancam.

4 dari 5 halaman

Bagaimana Kondisi Pangan Indonesia? Apakah Masih Aman?

Di tengah kekhawatiran terhadap krisis pangan global, Indonesia saat ini memiliki posisi yang relatif kuat, terutama untuk komoditas beras. Pemerintah melaporkan cadangan beras dalam jumlah besar dan produksi domestik yang diproyeksikan mampu memenuhi kebutuhan nasional. Namun, kondisi tersebut tidak berarti Indonesia sepenuhnya terbebas dari risiko gangguan pangan.

Data terbaru yang disampaikan pemerintah pada 23 Oktober 2026 menunjukkan Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikelola Bulog mencapai sekitar 4,56 juta ton. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyebut jumlah tersebut sebagai salah satu capaian tertinggi sepanjang sejarah.

Dalam laporan yang disampaikan kepada Presiden, pemerintah juga memperkirakan terdapat sekitar 10 juta ton potensi produksi padi yang masih berada di lahan atau standing crop. Selain itu, diperkirakan ada sekitar 10 juta ton persediaan beras di sektor rumah tangga, hotel, dan sektor lainnya.

Meski demikian, angka 4,56 juta ton perlu dibedakan dari keseluruhan persediaan pangan masyarakat. Jumlah tersebut merupakan cadangan beras pemerintah di Bulog, sementara angka lainnya merupakan estimasi ketersediaan dari berbagai sumber.

Pemerintah memperkirakan kebutuhan beras nasional sekitar 2,5 juta ton per bulan. Berdasarkan perhitungan pemerintah yang memasukkan berbagai sumber persediaan, Menteri Pertanian menyatakan ketersediaan beras diperkirakan dapat mencukupi kebutuhan hingga beberapa bulan ke depan. Informasi tersebut dapat dibaca dalam laporan Sekretariat Negara, 23 Oktober 2026.

Badan Pangan Nasional (Bapanas) juga melaporkan bahwa pemerintah telah menyalurkan 2,84 juta ton cadangan beras hingga 20 Oktober 2026. Penyaluran tersebut mencakup program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), bantuan pangan kepada masyarakat, serta bantuan untuk kebutuhan bencana dan keadaan darurat.

Pemerintah memperkirakan total penyaluran cadangan beras kepada masyarakat dapat mendekati 4 juta ton hingga akhir tahun. Kebijakan ini tidak hanya bertujuan menjaga ketersediaan, tetapi juga membantu mempertahankan stabilitas harga dan memastikan beras dapat dijangkau masyarakat yang membutuhkan. Data tersebut disampaikan dalam publikasi Bapanas pada 21 Oktober 2026.

Dengan kondisi tersebut, untuk persediaan beras secara nasional, Indonesia belum menunjukkan tanda-tanda kekurangan stok seperti yang terjadi di sejumlah wilayah krisis pangan dunia. Namun, ketahanan pangan tidak cukup dinilai dari banyaknya beras di gudang pemerintah.

5 dari 5 halaman

Perlukah Masyarakat Indonesia Ikut Menyiapkan Stok Makanan?

Imbauan dari berbagai negara dapat menjadi pengingat bahwa setiap keluarga perlu memiliki persediaan dasar untuk menghadapi bencana atau gangguan layanan publik. Indonesia sendiri memiliki beragam risiko, mulai dari banjir, gempa bumi, letusan gunung berapi, hingga gangguan distribusi akibat cuaca ekstrem.

Masyarakat dapat mulai dengan memeriksa kebutuhan rumah tangga dan menyediakan makanan tahan lama sesuai jumlah anggota keluarga. Air minum, obat-obatan rutin, perlengkapan pertolongan pertama, baterai, senter, dan pengisi daya portabel juga dapat disiapkan.

Persediaan sebaiknya dibangun secara bertahap dengan membeli barang yang memang biasa dikonsumsi keluarga. Perhatikan tanggal kedaluwarsa dan gunakan sistem rotasi agar bahan makanan tidak terbuang.

Hal yang tidak kalah penting adalah menghindari pembelian berlebihan karena kepanikan. Menimbun barang dalam jumlah besar justru dapat mengganggu ketersediaan bagi rumah tangga lain dan memicu tekanan harga.

{NATIVE VIDEO TOP}
Join Dream.co.id