Jika KDM Tidak Nyapres Siapa Untung: Prabowo, Gibran, atau AHY?
© 2026 Dedi Mulyadi Dan Prabowo (Instagram Gerindra Jabar)
Reporter : Okti Nur
Elektabilitas KDM menjadi yang tertinggi dalam survei SMRC, yaitu 35,5 persen. Namun ada kemungkinan tidak dicalonkan karena satu partai dengan Prabowo.
DREAM.CO.ID - Elektabilitas Dedi Mulyadi menjadi yang tertinggi dalam survei terbaru SMRC. Tingkat keterpilihan Gubernur Jawa Barat yang beken dengan panggilan KDM itu mencapai 35,5 persen. Angka itu berada di atas tokoh lain yang masuk dalam survei.
Pada simulasi semi terbuka dengan 24 nama tokoh itu, elektabilitas Dedi Mulyadi berada di atas Anies Baswedan yang berada di posisi kedua dengan elektabilitas 10,3 persen. Kemudian Prabowo Subianto 9,8 persen dan Gibran Rakabuming Raka 8,4 persen.
Di posisi kelima ada mantan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dengan elektabilitas 5 persen. Angka itu sama dengan elektabilitas mantan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo. Pada urutan ketujuh ada Ketua Umum Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), dengan elektabilitas 2,1 persen.
“Dalam simulasi banyak nama Dedi Mulyadi paling tinggi 35,5 persen. Unggul jauh atas petahana Prabowo yang ternyata sangat lemah ya elektabilitasnya hanya 9,8 persen,” kata Direktur Eksekutif Deni Irvani.
Survei ini dilakukan pada 1-10 Oktober 2026 dengan populasi seluruh warga negara Indonesia yang punya hak pilih dalam pemilu. Dan survei dilakukan dengan cara wawancara lewat telepon dan juga wawancara tatap muka terhadap yang tidak punya telepon.
Total sampel 1.213 responden yang dipilih secara acak dengan margin of error kurang lebih 2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.
Simulasi Tanpa KDM
Survei SMRC juga memotret elektabilitas Prabowo, Gibran, dan AHY, jika KDM tidak maju dalam pilpres. Dalam paparan di kanal YouTube, Deni menjelaskan simulasi ini dibuat dengan pertimbangan KDM satu partai dengan Prabowo. Sama-sama dari Partai Gerindra.
Namun, Deni tidak memaparkan penjelasan mengapa nama Prabowo, Gibran, dan AHY, dipilih dalam simulasi elektabilitas tiga tokoh ketika KDM tidak maju dalam pilpres. Dalam tayangan itu, Deni hanya menjelaskan simulasi tiga tokoh tersebut jika KDM tidak nyapres.
Menurut Deni, jika KDM tidak nyapres, ternyata elektabilitas yang tinggi itu tidak mampu ditarik oleh Prabowo, meski sama-sama berasal dari Gerindra. Suara KDM justru tersebar merata kepada Gibran dan AHY.
“Jadi suara Dedi yang sangat kuat itu tidak berhasil ditarik oleh Prabowo dan lebih tersebar kepada Agus Harimurti Yudhoyono dan Gibran Rakabuming Raka,” kat Deni.
Dalam simulasi tiga nama itu, elektabilitas Gibran menjadi 29,7 persen. AHY 28,2 persen. Sedangkan Prabowo 22,7 persen. Sebanyak 19,4 persen tidak menjawab atau menjawab tidak tahu.
Selisih elektabilitas Gibran dengan AHY cuma 1,5 persen dalam simulasi tiga nam. Deni menilai selisih itu tidak signifikan sehingga berkesimpulan bahwa elektabilitas Gibran dan AHY dalam simulasi tiga tidak ada yang unggul.
“Kita simpulkan ini imbang. Kalau Gibran dengan Pak Prabowo memang selisihnya 7 persen,” ujar Deni.
Selisih elektabilitas Gibran dengan Prabowo, kata Deni, dua kali margin of error 2,9 persen. Sehingga, jika dalam pemilu mereka bertiga dicalonkan, maka yang berpeluang besar melaju ke putaran berikutnya adalah Gibran dan AHY. “Sementara Pak Prabowo kemungkinan akan tersingkir,” ujar Deni.
Deni menjelaskan, sistem pemilu saat ini menyatakan pemenang pemilu adalah calon yang meraih suara 50 persen lebih. Jika tidak ada calon yang mendapat 50 persen suara, maka akan ada putaran berikutnya. Jika tiga calon itu maju dalam pilpres, maka menurut survei SMRC, Gibran dan AHY berpeluang besar melenggang ke putaran berikutnya.
“Yang akan masuk putaran kedua Gibran dan AHY. Itu dengan suara yang kurang lebih seimbang,” jelas Deni.
Jika Gibran dan AHY masuk putaran kedua, maka posisinya akan terbalik. Dalam simulasi tiga kandidat yang menyertakan nama Prabowo, Gibran unggul atas AHY. Namun jika bertanding di putaran kedua, head to head, elektabilitas AHY di atas Gibran. AHY 41,6 persen. Gibran 36 persen. Sebanyak 22,4 persen responden tidak menjawab atau menjawab tidak tahu.
Suara AHY dan Gibran terpaut 5,6 persen dalam simulasi dua nama. Namun menurut Deni angka itu belum cukup signifikan. “Tetapi yang menarik adalah situasinya terbalik. Dalam simulasi tiga nama kan Gibran selisih 1,5 persen. Sekarang selisihnya terbalik AHY berubah menjadi unggul,” kata Deni.
Kenapa suara AHY cenderung lebih kuat daripada Gibran dalam simulasi dua nama? SMRC punya jawabannya. Pertanyaan itu dijawab lewat pendekatan psikologis, yaitu mengetahui lebih jauh kualitas personal.
Dalam tahap ini, SMRC memetakan seberapa dikenal tokoh-tokoh tersebut oleh publik. Namun yang tak kalah penting adalah tingkat kesukaan. Faktor terakhir ini menjadi penting untuk menjelaskan situasi AHY dan Gibran dalam simulasi dua nama tersebut. “Kalau orang kenal itu suka atau enggak dengan tokoh itu,” kata Deni.
Dalam grafik yang ditampilkan, Prabowo dikenal oleh 99 persen responden. Gibran 97 persen. Keduanya dikenal hampir semua responden. Maklum saja, mereka adalah presiden dan wakil presiden negeri ini.
KDM dikenal oleh 92 persen responden, Anies 90 persen. Mahfud MD 77 persen. AHY baru dikenal 70 persen responden. Dan Pramono Anung, Gubernur DKI Jakarta, dikenal 53 persen responden.
Dari grafik itu, mari fokus ke dua nama. Gibran dan AHY. Dari 97 responden yang tahu Gibran dalam grafik itu, 66 persen mengaku suka. Sedangkan 29 persen tidak suka pada putra sulung Joko Widodo itu. Sebanyak 5 persen tidak menentukan atau netral.
Bandingkan dengan AHY. Dari 70 persen responden yang suka, 77 persen diantaranya menyatakan suka. 14 persen mengaku tidak suka, dan 9 persen tidak menentukan atau netral.
Jadi, tingkat kesukaan publik kepada AHY lebih tinggi dibandingkan Gibran. AHY 77 persen, Gibran 66 persen. Yang resisten pada Gibran 29 persen. Sedangkan yang resisten pada AHY cuma 14 persen.
Inilah yang membuat AHY unggul dari Gibran dalam simulasi dua nama alias head-to-head. AHY unggul karena kualitas personal yang lebih positif. “Kalau orang nggak suka kecenderungannya nggak mau milih,” kata Deni.
Analisis Efek Tahu
Survei SMRC juga menyelam lebih dalam pada elektabilitas tiga tokoh, yaitu Prabowo, Gibran, dan AHY. Namun kali ini elektabilitas dipotret dari responden yang mengenal tiga tokoh tersebut. Dari 1.213 responden, sebanyak 843 responden yang sama-sama mengenal Prabowo, Gibran, dan AHY.
Simulasi ‘efek tahu’ ini dibuat dengan asumsi bahwa pada hari pencoblosan, masyarakat mengenal semua calon di kertas suara. Namun pada simulasi ini, margin of error yang semula kurang lebih 2,7 persen pada 1.213 responden, berubah menjadi kurang lebih 3,4 persen.
Dalam simulasi tertutup tiga nama, terlihat bahwa AHY unggul dibanding Prabowo dan Gibran. Dari 843 responden, sebanyak 37,2 persen memilih AHY. Sedangkan 25,5 persen memilih Gibran, dan 19,2 memilih Prabowo. Sebanyak 18,1 persen menyatakan tidak tahu atau tidak menjawab.
Pada simulasi itu terlihat AHY unggul jauh dari Gibran. Selisihnya 12 persen. SMRC menilai selisih ini meyakinkan karena angkanya lebih dari dua kali margin of error yang digunakan pada analisis atau simulasi ini, yaitu 3,4 persen.
“Dan dalam analisis ‘efek tahu’ ini hanya 843 orang yang kita analisis. Dan margin of error plus minus 3,4 persen. Artinya kalau selisih elektabilitas calon lebih dari dua kali margin error atau lebih dari 2 kali 3,4 yang berarti 6,8,” beber Deni.
Dalam simulasi responden yang tahu ketiga tokoh, AHY unggul signifikan dari Gibran. Apalagi dibanding dengan Prabowo. Namun, jika membandingkan elektabilitas Gibran dengan Prabowo dalam simulasi ini, SMRC tidak mendapat kesimpulan yang kuat.
Pada simulasi itu, selisih elektabilitas Gibran dan Prabowo sekitar 6,3 persen. Untuk mendapat kesimpulan yang meyakinkan, selisihnya harus lebih dari dua kali angka margin of error 3,4 persen, yaitu 6,8 persen. “Tapi kecenderungannya Gibran lebih potensial tetap di atas Pak Prabowo,” tutur Deni.
Pada kelompok responden yang mengenal atau tahu ketiga tokoh ini, SMRC juga membuat simulasi lain. Kali ini, Gibran dihadapkan langsung melawan AHY. Head-to-head. Pada simulasi ini, AHY unggul jauh dari Gibran. AHY dipilih 51,1 perseb responden. Gibran hanya 28,7 persen. Sedangkan 20,3 persen tidak tahu atau tidak menjawab.
Menurut Deni, analisis efek pengetahuan terhadap tokoh ini memperjelas posisi elektabilitas Gibran yang ternyata tidak terlalu kuat kalau lawannya adalah AHY. "Kalau Gibran lawan AHY, maka AHY prospeknya lebih bagus, elektabilitasnya sudah ke 51,1 persen,” ujar Deni.