Bisakah Kita Pingsan Akibat Serangan Panik?
© Pexels.com/SHVETS Production
Reporter : Abidah
Ketika seseorang sedang mengalami serangan panik, perasaan yang kita alami ini bisa menyebabkan rasa yang hingga serasa seperti hendak pingsan. Benarkah hal ini bisa terjadi?
DREAM.CO.ID - Bagi siapa pun yang pernah mengalami serangan panik, sensasi seperti hampir pingsan mungkin sudah tidak asing lagi. Jantung berdebar kencang, napas jadi cepat dan dangkal, kepala terasa pusing, bahkan pandangan bisa mengabur. Kabar baiknya, benar-benar pingsan saat serangan panik ternyata sangat jarang terjadi.
Meski serangan panik bisa menimbulkan gejala fisik yang intens dan membuat seseorang merasa seperti akan pingsan, kebanyakan orang tidak benar-benar kehilangan kesadaran. Memahami kenapa sensasi ini muncul bisa membantu mengurangi rasa takut yang sering kali justru memicu kepanikan itu sendiri.
Kenapa Serangan Panik Membuat Seolah Akan Pingsan
Selama serangan panik, respons fight-or-flight (lawan atau lari) dalam tubuh sedang aktif. Otak menafsirkan adanya ancaman, entah nyata atau hanya dipersepsikan, lalu melepaskan hormon stres seperti adrenalin.
Perubahan ini mempersiapkan tubuh untuk bereaksi cepat dengan cara meningkatkan detak jantung, menaikkan tekanan darah, mempercepat pernapasan, dan mengalirkan darah ke otot-otot. Pada saat bersamaan, seseorang mungkin mulai mengalami hiperventilasi, yakni bernapas lebih cepat dan lebih dalam dari biasanya.
Hiperventilasi menurunkan kadar karbondioksida dalam darah, yang bisa memicu gejala seperti pusing, kepala terasa ringan, kesemutan di tangan, kaki, atau wajah, pandangan kabur, serta perasaan terlepas dari diri sendiri atau lingkungan sekitar. Sensasi-sensasi ini sangat mirip dengan perasaan yang muncul tepat sebelum seseorang benar-benar pingsan.
Bisakah Serangan Panik Benar-Benar Membuat Seseorang Pingsan?
Biasanya tidak. Selama serangan panik, tekanan darah justru cenderung meningkat, sementara pingsan biasanya terjadi ketika tekanan darah turun cukup drastis sehingga mengurangi aliran darah ke otak. Karena serangan panik mengaktifkan respons stres tubuh, kondisi ini justru cenderung membuat pingsan lebih kecil kemungkinannya terjadi, bukan lebih besar.
Meski begitu, ada pengecualian. Sebagian orang mengalami respons vasovagal, di mana tekanan emosional ekstrem, rasa sakit, atau ketakutan memicu penurunan mendadak detak jantung dan tekanan darah. Jika ini terjadi, seseorang bisa kehilangan kesadaran sesaat. Kondisi ini relatif jarang terjadi selama serangan panik, tapi tetap bisa dialami sebagian orang.
Otak terus-menerus menafsirkan sinyal dari tubuh. Saat pernapasan berubah dan jantung berdebar kencang, otak bisa keliru menafsirkan sensasi tersebut sebagai tanda akan pingsan. Ini bisa menciptakan lingkaran setan: merasa pusing → khawatir akan pingsan → kekhawatiran ini meningkatkan kecemasan → napas jadi semakin cepat → rasa pusing semakin terasa.
Memahami bahwa sensasi ini biasanya disebabkan hiperventilasi, bukan kekurangan oksigen, bisa membantu memutus siklus tersebut.
Apa yang Harus Dilakukan Jika Merasa Akan Pingsan Saat Serangan Panik?
Jika merasa seperti akan pingsan, berikut beberapa langkah yang bisa dicoba:
Perlambat napas. Coba bernapas perlahan lewat hidung dan embuskan dengan lembut lewat mulut. Usahakan mencapai ritme yang nyaman, bukan menarik napas terlalu dalam, karena hal ini kadang justru bisa memperparah hiperventilasi.
Duduk atau berbaring. Jika merasa sangat pusing, duduklah atau berbaring rata sampai sensasi itu mereda. Ini membantu mengurangi risiko cedera jika kehilangan keseimbangan. Pejamkan mata dan coba rilekskan otot-otot tubuh untuk membantu keluar dari mode fight-or-flight.
Lakukan teknik grounding. Fokuskan perhatian pada lingkungan sekitar dengan menyebutkan: 5 hal yang bisa dilihat, 4 hal yang bisa dirasakan, 3 hal yang bisa didengar, 2 hal yang bisa dicium, dan 1 hal yang bisa dirasakan di lidah. Teknik grounding ini membantu mengalihkan perhatian dari gejala panik yang sedang dialami.
Ingatkan diri sendiri soal apa yang sedang terjadi. Mengulangi kalimat menenangkan bisa membantu, misalnya: "Ini serangan panik. Rasanya menakutkan, tapi ini tidak akan membahayakanku dan akan segera berlalu." Banyak orang merasa bahwa sekadar mengenali gejala yang sedang dialami bisa mengurangi intensitasnya.
Kapan Perlu Waspada Kemungkinan Penyebab Lain
Meski serangan panik cukup umum terjadi, tidak semua episode pusing atau pingsan disebabkan oleh kecemasan. Segera cari pemeriksaan medis jika mengalami: benar-benar kehilangan kesadaran, pingsan berulang kali, nyeri dada yang tidak kunjung membaik, sesak napas berat yang tidak berkaitan dengan kecemasan, munculnya gejala neurologis baru seperti kelemahan tubuh, kesulitan bicara, atau kebingungan, memiliki riwayat kondisi jantung atau riwayat keluarga dengan masalah jantung mendadak, serta merasa seperti akan pingsan saat berolahraga atau melakukan aktivitas fisik.
Gejala-gejala ini mungkin memiliki penyebab lain selain serangan panik dan sebaiknya diperiksa oleh tenaga kesehatan profesional.
Merasa seperti akan pingsan adalah salah satu gejala serangan panik yang paling umum sekaligus paling menakutkan. Namun benar-benar pingsan akibat serangan panik jarang terjadi. Rasa pusing dan kepala terasa ringan biasanya disebabkan perubahan pola napas dan respons stres alami tubuh, bukan karena kekurangan oksigen.
Jika sering mengalami serangan panik, konsultasi dengan tenaga kesehatan profesional bisa membantu mengurangi gejala sekaligus mengelola kecemasan dengan lebih baik. Perawatan yang efektif, termasuk terapi kognitif-perilaku (CBT), teknik pernapasan, atau pengobatan medis, terbukti bisa secara signifikan mengurangi baik frekuensi serangan panik maupun rasa takut yang menyertainya.