Dunia Endgame Gita Wirjawan
© 2026 Gita Wirjawan Di Town Hall Endgame (Instagram @gwirjawan)
Reporter : Okti Nur
Dunia di mana kita melihat sisi terang anak-anak muda Indonesia. Suka ilmu. Dengar para ilmuwan. Beli buku, tanpa kehilangan keriangan masa muda.
DREAM.CO.ID - Dua ribu orang. Segitu lah jumlah yang hadir. Penuh hingga mentok. Dan hanya tersisa panggung memanjang di ujung dinding. Itu tempat kameraman membidik gambar. Semua orang kebagian kursi. Rapi tak berjejal. Nyaris tak ada suara berbisik. Semua orang tekun mendengar. Sabtu, 19 September 2026, di Balai Kartini Jakata.
Duduk di antara dua ribu orang ini, kita bisa mendengar kesunyian. Senyap pada jeda di antara tutur kata orang di panggung itu. Dan oleh karena begitu hening, suaranya begitu benderang. Mudah dicerna. Gampang diingat.
Lebih dari separuh ruangan itu dipenuhi oleh anak muda. Generasi Z. Generasi yang oleh kebanyakan kita dilukiskan sebagai “hamba” dari kemewahan dunia digital. Generasi rebahan. Generasi, yang segenap mimpinya tentang hari esok dituntun oleh olgoritma, bahkan mungkin oleh halusinasi artificial intelligence.
Duduk di barisan belakang, di antara puluhan jejer anak muda ini, kita mungkin akan mengutuk segenap sangkaan itu. Oleh karena kita seperti melihat sisi terang, dari gambaran kita tentang anak-anak muda hari ini. Tak buram. Menyimak. Menghela nafas pada cerita tentang kegetiran. Serta menyala pada cerita tentang harapan.
Acara Sabtu pekan lalu itu digelar oleh Endgame milik Gita Wirjawan, Mantan Menteri Perdagangan pada masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Bertajuk Endgame Townhall, acara itu diisi oleh sekian ilmuwan, SBY, Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla, Mahfud MD, penulis novel Laut Bercerita Leila Chudori, Dian Sastro aktris yang juga menjadi dosen tidak tetap di UI, Reza Rahardian, dan tentu saja Gita Wirjawan sendiri.
Setelah menepi dari keriuhan jagat politik, Gita memang lebih membenam diri pada dunia pendidikan. Dia menjadi dosen tamu di Standford University di Amerika Serikat, dia juga rajin keliling Indonesia, mengajar di kampus, bertemu anak-anak muda, berjumpa dengan komunitas pendidikan, bikin podcast Endgame mengundang banyak ilmuwan - yang menjadi jendela pengetahuan pada masa di mana layar ponsel kita menyerbu dengan kisah yang membius, serta menulis buku.
Bukunya What It Takes, Asia Tenggara – Dari Tepi Menuju Inti Kesadaran Global dijual oleh gerai Gramedia. Buku, yang pada masa AI ini terasa begitu asing, dalam dunia Gita Wirjawan terasa begitu intim. Pada beberapa waktu lalu, dalam acara diskusi buku itu pada sebuah pusat perbelanjaan raksasa di Jakarta, sekitar 200 anak muda tidak saja berbondong datang, tatapi juga tekun menyimak, hingga usai.
Entah karena rajin bertemu anak-anak muda, Gita punya caranya sendiri melihat masa depan Indonesia. Dalam sebuah kesempatan dia bilang, “Kalau sekarang saya pesimis, tapi dalam dua puluh yang akan datang saya optimis sekali.”
Keyakinan ini, juga bisa kita tangkap dari yang ruangan yang penuh anak muda Sabtu pekan lalu itu. Di situ, kita seperti tidak melihat generasi yang merebah pada keriangan algoritma. Bukan generasi pamer. Yang memerlukan validasi. Anak-anak muda itu banyak yang memegang buku. Tekun menyimak setiap kalimat narasumber dari panggung. yang bagi kebanyakan kita mungkin sungguh lah menjemukan.
Di atas panggung itu aktor Reza Rahardian bicara tentang pendidikan. Yang mengusik nalar kita. Tentang mimpi kita yang begitu agung akan masa depan bangsa dengan kenestapaan realitas hari ini, hasil bikinan kita sendiri.
Kebanyakan kita mungkin mengenal Reza Rahardian sebagai aktor. Mungkin dari film roman. Mungkin lewat Aris dari Layangan Putus. Tapi pada panggung itu, Dunia Endgame Gita Wirjawan menampilkan sisi terdalam aktor kelahiran, 5 Maret 1987 itu. Dia bicara tentang hidupnya. Tentang pendidikan. Bicara tentang guru. Tentang masa depan anak-anak.
Aktor Biru Laut dalam film Laut Bercerita itu, berkisah tentang para guru. Bahwa kita menaruh mimpi besar bangsa kepada pundak mereka. Para pelukis generasi. Tapi, “Apa yang kita harapkan dari guru yang gajinya sangat kecil,” tanya Reza. Di keheningan 2000 orang itu, pertanyaan ini menggelegar di antara para profesional, para petinggi perusahaan, dan para ilmuwan yang duduk di sekian barisan depan.
Saya melihat beberapa anak muda di barisan belakang ruangan itu sontak terkejut. Beberapa menghela nafas. Mungkin merasa miris. Mungkin tak percaya. Tapi Reza bicara tentang realitas. Yang dikumpul dari pengalaman. Yang dilihat oleh matanya sendiri ketika datang ke pelosok. Dan itu, dalam rentang panjang satu dekade terakhir.
Sejak tahun 2016, Reza memang membenam diri dalam dunia pendidikan. Sesuatu yang jarang kita lihat dari kebanyakan pesohor. Dalam sepuluh tahun terakhir dia datang ke sejumlah daerah. Dan refleksinya yang terdalam terangkum dalam tulisan berjudul “Pendidikan Dasar Belum Mendasar,” di Harian Kompas, tanggal 10 Agustus 2026, jelang kita berpekik “merdeka” menyambut 81 tahun usia negeri ini.
Pada halaman koran yang berusia 61 tahun itu, Reza membawa data. Dari statistik Sekolah Dasar. Dari Kementerian Pendidikan Dasar Menengah tahun 2025-2026. Bahwa 416.141 ruang kelas sekolah dasar rusak sedang dan berat. Dan ini lebih parah dari sepuluh tahun silam, di mana jumlah ruang kelas yang rusak sedang dan berat diangka 183.239. Sungguh miris, dalam sepuluh tahun terakhir naik lebih dari seratus persen.
Sepilu itukah situasi kita? Kita bisa bertanya pada AI. Atau menyelam pada data-data resmi. Toh data yang disajikan Reza berhulu dari sumber resmi. Dan soal gaji guru, kita juga bisa beselancar mengimpun data. Bisa juga membandingkan dengan para tetangga terdekat. Cobalah bertanya kepada artificial intelligence tentang gaji guru. Masuk dengan pertanyaan, “Berapa gaji guru di Indonesia dan Malaysia.”
Dan jawabannya bikin kita kehilangan rasa percaya diri. Gaji guru awalan, mungkin pemula, di Malaysia beredar pada rentang Rp. 6,8 juta hingga Rp. 7,6 juta. Gaji guru senior di rentang Rp.15 juta hingga Rp.19 juta.
Lalu bagaimana dengan kita? Mari melihat angkanya. Ada banyak golongan. Guru honorer di Sekolah Dasar Swasta sekitar Rp.300 ribu hingga satu juta. Gaji guru ASN sekitar 2,1 juta hingga lima juta plus tunjangan jika punya sertifikat guru.
Dan, jika kurang yakin pada jawaban AI, kita bisa mencari dari halaman berita media massa. Sebuah media nasional pernah membandingkan gaji guru di Asean. Bahwa negeri yang mengaji guru lebih tinggi adalah Singapura. Sekitar Rp.44 juta hingga 75 juta. Dan kita terendah. Dari Rp.1.938.500 hingga Rp.7.329.000. Batas bawah kita bahkan lebih rendah dari batas bawah gaji guru Timor Leste. Negeri yang pernah menjadi bagian dari kita itu mematok angka dasar Rp. 2,4 juta.
Jika Sabtu pekan lalu itu, Dunia Endgame Gita Wirjawan memberi panggung lebih luas pada persoalan pendidikan, tentu bukan sekedar agar kita melihat gaji. Melihat ruang kelas. Tapi agar kita melihat realitas. Memeriksa cara kita melihat pendidikan. Cara kita menggelola negara. Cara kita membayangkan masa depan anak-anak kita.
Pada berbagai kesempatan, Gita dan Dunia Endgame yang dibangunnya, kerap kali bicara soal pendidikan. Baik lewat podcats. Seminar. Atau jika dia diwawancara oleh media massa. Tentu merujuk pada data. Bahwa lebih dari 80 persen orangtua tidak mengenyam pendidikan jenjang S1.
Pada situasi seperti itu, kata Gita Wirjawan, “Sekolah adalah satu-satunya harapan kita.” Mengatup defisit inspirasi. Yang mungkin sulit didapatkan dari rumah. Jika gaji guru lebih bagus, banyak orang cerdas mau menjadi guru.
Dari bicara soal pendidikan, Endgame Townhall Sabtu pekan lalu itu memanggungkan seorang ilmuwan. Dia bicara tentang persaingan yang memerlukan pengusaaan teknologi. Tentang dominasi negara pada langit. Bahwa Tiongkok mengirim 2000 satelit. Amerika punya 10 ribu. Elon Mask bahkan punya 100 ribu. Dan kita punya berapa?
Bersambung….. Sains Dalam Dunia Endgame Gita Wirjawan