Elektabilitas Prabowo pada Pilpres 2029 dalam Berbagai Survei

Stories | Rabu, 16 September 2026 11:26

Reporter : Okti Nur

Tiga survei Juli-Agustus 2026 menunjukkan elektabilitas Prabowo untuk Pilpres 2029 berada di kisaran 14,5-32,4 persen.

DREAM.CO.ID - Elektabilitas Prabowo Subianto dalam tiga survei bursa calon presiden (capres) Pilpres 2029 menunjukkan hasil berbeda-beda. Survei bursa capres dikeluarkan oleh tiga lembaga, yaitu Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), Median, dan Tempo Data Science.

Ketiga survei elektabilitas capres pada Pilpres 2029 itu dilakukan dalam waktu yang berdekatan, yaitu dalam kurun Juli hingga Agustus 2026. Ketiga lembaga survei tersebut juga menggunakan metode yang berbeda-beda.

SMRC melakukan survei capres pada 5-19 Juli 2026. Elektabilitas Prabowo 14,5 persen. Dalam survei Median yang dilakukan pada 21 Juli-2 Agustus 2026, Elektabilitas Prabowo 32,4 persen. Sedangkan survei Tempo Data Science yang dilakukan 31 Juli-11 Agustus 2026, elektabilitas presiden kedelapan Indonesia itu sebesar 15 persen.

Data ketiga survei elektabilitas capres dalam Pilpres 2029 itu menunjukkan belum ada gambaran tunggal terhadap posisi Prabowo. Prabowo berada di posisi pertama dalam survei Median. Namun, elektabilitas Prabowo berada di posisi kedua dalam survei capres yang dilakukan SMRC dan Tempo Data Science.

Perbedaan hasil dapat dijelaskan oleh perbedaan metodologi. Metode, sampel, dan waktu pelaksanaan survei mempengaruhi hasil.

Survei SMRC dan Tempo Data Science: Elektabilitas Prabowo 14,5-15 Persen

Survei SMRC yang dilaksanakan pada 5-19 Juli 2026 menempatkan Prabowo di posisi kedua dengan elektabilitas 14,5 persen. Dalam survei terhadap 749 responden itu, Prabowo berada di bawah Dedi Mulyadi dengan elektabilitas 35 persen. Anies Baswedan berada di posisi ketiga dengan 8,2 persen, disusul Gibran Rakabuming Raka 7,7 persen.

SMRC menggunakan metode simulasi semi-terbuka, responden dapat memilih nama dari daftar yang tersedia sekaligus menyebut nama lain yang tidak ada dalam daftar. Survei elektabilitas capres pada Pilpres 2029 ini dilakukan melalui telepon kepada 83,8 persen responden dan tatap muka kepada 16,2 persen responden. Margin of error tercatat kurang lebih 3,7 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

Data SMRC menunjukkan elektabilitas Prabowo turun dibanding hasil survei pada November 2025. Elektabilitas Ketua Umum Gerindra itu turun dari 34,9 persen pada November 2025 menjadi 14,5 persen pada Juli 2026. Pada periode yang sama, elektabilitas Dedi Mulyadi meningkat dari 19,7 persen menjadi 35 persen.

Dalam simulasi dua nama antara Prabowo dan Dedi, selisihnya lebih lebar. Dedi Mulyadi memperoleh 59 persen, sedangkan elektabilitas Prabowo 28,3 persen.

Survei Tempo Data Science terhadap 1.260 responden di 38 provinsi mencatat tingkat elektabilitas Prabowo 15 persen. Prabowo menempati posisi kedua setelah Dedi Mulyadi yang berada di peringkat pertama dengan elektabilitas 42 persen. Anies Baswedan ada di posisi ketiga dengan elektabilitas 10 persen.

Dalam pertanyaan terbuka kepada responden mengenai siapa yang akan dipilih jika pemilihan presiden dilakukan saat survei berlangsung, Dedi Mulyadi memperoleh 41 persen, Prabowo 15 persen, dan Anies 10 persen.

Survei elektabilitas capres Tempo Data Science yang dilakukan pada 31 Juli-11 Agustus 2026 ini menggunakan metode multistage random sampling dengan tingkat kepercayaan sebesar 95 persen dan margin of error kurang lebih 2,9 persen.

Dibanding hasil survei sebelumnya, elektabilitas Prabowo menurun dari 48 persen pada Desember 2025, 37 persen pada Februari 2026, menjadi 15 persen pada Survei Juli-Agustus ini.

Survei Median: Elektabilitas Prabowo 32,4 Persen

Survei Median menunjukkan hasil berbeda dari SMRC dan Tempo Data Science. Prabowo menjadi capres dengan elektabilitas tertinggi dalam survei tatap muka terhadap 1.212 responden di 38 provinsi tersebut.

Dalam survei itu, elektabilitas Prabowo 32,4 persen, mengalahkan Dedi Mulyadi dengan elektabilitas 20,6 persen. Anies Baswedan berada di posisi ketiga dengan 20,5 persen, disusul Ganjar Pranowo dengan elektabilitas 5 persen dan Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda dengan 4,1 persen.

Survei Median dilakukan pada 21 Juli-2 Agustus 2026, menggunakan metode face-to-face interview atau wawancara tatap muka, margin of error kurang lebih 2,76 persen dengan tingkat kepercayaan mencapai 95 persen.

Mengapa Elektabilitas Prabowo Turun dan Apa Faktor Penyebabnya?

Direktur Eksekutif SMRC, Deni Irvani, mengatakan, dalam 9 bulan terakhir, elektabilitas Prabowo di simulasi semi terbuka menurun dari 34,9 persen di survei November 2025 menjadi 14.5 persen di survei Juli 2026. Sementara, di periode yang sama, elektabilitas Dedi Mulyadi naik dari 19.7 persen menjadi 35 persen. Elektabilitas Prabowo dalam survei November 2025 sebesar 34,9 persen, Februari 33 persen, kemudian pada survei Juli 2026 menjadi 14,5 persen.

Menurut Deni Irvani, penurunan elektabilitas Prabowo paralel dengan menurunnya kepuasan publik terhadap kinerja Prabowo, dari 81,2 pada November 2025 menjadi 51,1 persen pada Juli 2026. Itu artinya, sejak November 2025 ke Juli 2026, tingkat kepuasan publik pada kinerja presiden Prabowo menurun sekitar 30,1 poin persentase.

Survei SMRC juga menunjukkan warga yang merasa tidak atau sangat tidak puas pada kinerja presiden Prabowo meningkat dari 16 persen pada survei November 2025 menjadi 46,9 persen pada survei Juli 2026. Deni menyatakan bahwa penurunan tingkat kepuasan publik ini berhubungan erat dengan evaluasi negatif warga pada kondisi ekonomi, politik, dan penegakan hukum.

Data itu menunjukkan bahwa sentimen positif pada kondisi ekonomi, penegakan hukum, dan kondisi politik, menurun bersamaan dengan penurunan elektabilitas Prabowo. “Jadi bisa dikatakan ini indikasi yang mudah untuk kita lihat pola hubungan elektabilitas dengan kondisi-kondisi makro. Ada pengaruhnya,” tutur Deni.

Penurunan elektabilitas Prabowo juga berkaitan dengan penurunan sentimen positif terhadap dua program unggulannya, yaitu Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Survei SMRC menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan publik tentang program MBG sudah mencapai 95,4 persen dan hanya 4,6 persen yang belum tahu.

Dari publik yang sudah tahu tersebut, hanya 6,2 persen yang merasa sangat puas pada pelaksanaan MBG, 27,6 persen cukup puas, 31 persen kurang puas, 30,6 persen tidak puas sama sekali, dan masih ada 4,6 persen yang tidak tahu atau tidak menjawab.

“Sebanyak 61,6 persen publik nasional merasa kurang atau tidak puas sama sekali dengan pelaksanaan program MBG, sementara yang merasa sangat atau cukup puas lebih rendah 33,8 persen,” tutur Deni.

Menurut Deni, tingkat kepuasan publik pada MBG menurun dalam 9 bulan terakhir: dari 62,5 persen pada November 2025 menjadi 53,1 persen pada Februari-Maret 2026, dan menjadi 33,8 persen pada Juli 2026. Sementara yang menyatakan kurang atau tidak puas pada pelaksanaan MBG naik dari 33,9 persen di November 2025 menjadi 44,6 persen pada survei Februari-Maret 2026, dan 61,6 persen pada survei Juli 2026.

Deni menyimpulkan bahwa sikap negatif warga secara umum terhadap pelaksanaan program MBG menjelaskan mengapa terjadi penurunan kepuasan publik terhadap kinerja presiden Prabowo.

Hasil Survei SMRC juga menunjukkan sudah sekitar 76,9 persen warga sudah tahu program KDMP, sedangkan 23,1 persen belum tahu. Dari yang tahu, hanya 2,4 persen publik yang sangat yakin program ini akan maju, 22,6 persen cukup yakin, 38,9 persen tidak yakin, 22,2 persen tidak yakin sama sekali, dan 13,9 persen yang tidak tahu atau tidak menjawab.

“Secara keseluruhan sekitar 61,1 persen publik merasa kurang atau tidak yakin program KDMP akan berkembang atau maju, sementara yang merasa sangat atau cukup yakin lebih rendah, hanya 25 persen,” ungkap Deni.

Sedangkan, ketidakyakinan publik bahwa KDMP akan berkembang atau maju terus naik dalam 9 bulan terakhir, yaitu 43,5 persen pada November 2025 menjadi 48,4 persen di Februari-Maret 2026 dan 61,1 persen di Juli 2026. Pada saat yang sama, publik yang merasa yakin atau sangat yakin program ini akan maju semakin menurun di periode yang sama: 43,3 ke 41,7 dan terakhir 25 persen.

Pesimisme dan sikap negatif publik secara umum terhadap KDMP menjelaskan penurunan tingkat kepuasan publik terhadap kinerja presiden Prabowo.

Deni mengatakan, turunnya sentimen positif pada program MBG dan KDMP itu berdampak pada elektabilitas Prabowo. “Itu memiliki dampak terhadap elektabilitas Prabowo. Turunnya elektabilitas Prabowo bersamaan dengan turunnya sentimen positif atas dua program andalannya,” tutur Deni.

Tempo Data Science: Tingkat Kepuasan Kinerja Prabowo Cuma 37 Persen

Survei Tempo Data Science menunjukkan tingkat kepuasan publik pada kinerja pemerintahan Prabowo hanya 37 persen dengan rincian 34 persen menyatakan puas terhadap kinerja pemerintah, sementara 3 persen lainnya mengaku sangat puas.

Tingkat kepuasan pada kinerja pemerintahan Prabowo pada Agustus 2026 turun dari 75 persen pada Desember 2025 dan 58 persen di Maret 2026.

Tingkat ketidakpuasan mendominasi dengan 50 persen responden menyatakan kurang puas dan 12 persen menyatakan tidak puas sama sekali. Sedangkan 1 persen responden menyatakan tidak tahu atau memilih tidak menjawab.

General Manager Tempo Data Science, Khairul Anam, mengatakan bahwa persepsi negatif masyarakat terhadap situasi ekonomi menjadi faktor utama menurunnya tingkat kepuasan pada kinerja pemerintahan Prabowo. Hasil survei Tempo Data Science menunjukkan 68 persen responden menilai ekonomi nasional dalam kondisi buruk atau semakin memburuk.

“Dua persoalan utama yang paling menekan kehidupan harian masyarakat adalah mahalnya harga kebutuhan pokok dan terbatasnya lapangan kerja,” kata Khairul Anam.

Hasil survei itu juga menunjukkan 77 persen responden menilai harga bahan pokok jauh lebih mahal, sementara 16 persen lainnya menyatakan harganya lebih mahal.

Survei itu juga mengungkap 57 persen responden menyatakan mencari pekerjaan menjadi jauh lebih sulit, 30 persen lainnya menilai tetap sulit mencari pekerjaan.

{NATIVE VIDEO TOP}
Join Dream.co.id