HAARP, Pertemuan Prabowo-Vladimir Putin, dan 6 Gunung Erupsi

Stories | Kamis, 10 September 2026 12:34

Reporter : Okti Nur

Rentetan erupsi dan gempa kembali memunculkan teori konspirasi tentang HAARP, kali ini setelah pertemuan Prabowo Subianto dan Vladimir Putin di Rusia.

DREAM.CO.ID - Enam gunung erupsi. Gempa besar juga baru melanda. Semua datang beruntun, silih berganti. Masyarakat Indonesia kini sibuk. Banyak di antara mereka masih bertahan di tenda-tenda pengungsian. Sebagian dibekap abu vulkanik di tengah harga masker yang membumbung.

Di tengah hiruk-pikuk itu, datang sebuah nama dari jauh: HAARP. Penghuni dunia maya riuh membahasnya. Topik itu berseliweran di lini masa sosial media, berdesakan dengan kabar penanggulangan bencana dan perjuangan masyarakat bertahan di pengungsian.

Adalah Ulta Levenia Nababan yang melempar nama asing ini. Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP) itu mengaitkan nama itu dengan rentetan bencana yang sedang melanda negeri. Lewat Instagram, dia mengungkap wacana kontroversial. Mengajukan gagasan berupa teori konspirasi.

Dalam unggahan itu, Ulta memang menyebut HAARP kerap dikaitkan dengan teori konspirasi karena awalnya didanai oleh militer Amerika Serikat: US Air Force, US Navy, dan DARPA (Defense Advanced Research Projects Agency). Dia mengatakan, banyak spekulasi menyebut HAARP bisa mengendalikan cuaca, membuat badai, dan gempa bumi, meski tidak ada bukti ilmiah.

Ulta mengajukan pertanyaan untuk Project HAARP yang sebenarnya didesain meneliti ionosfer itu: "untuk apa militer Amerika membangun pemancar radio yang sangat kuat di Alaska?"

Dia mengakui tak ada bukti ilmiah yang kredibel untuk menjawab kecurigaan itu. Namun, sebelum pertanyaan pertama terjawab, dia kembali mengajukan pertanyaan lain, "Kenapa sehari setelah Presiden RI bersalaman mesra dengan Putin di Vladivostok, 6 Gunung Vulkanik Indonesia Erupsi secara bersamaan?"

Pada 3 September 2026, Presiden Prabowo Subianto memang bertemu presiden Rusia, Vladimir Putin, di Vladivostok. Pertemuan tersebut berlangsung di sela-sela penyelenggaraan Forum Ekonomi Timur (Eastern Economic Forum/EEF) ke-11. Ini merupakan kunjungan keempat Prabowo ke Negeri Beruang Merah semenjak menjadi presiden.

Sementara di dalam negeri, enam gunung erupsi dalam waktu yang berdekatan: Gunung Anak Krakatau, Semeru, Ile Lewotolok, Ibu, Lewotobi Laki-laki, dan Sinabung.

Inilah yang membuat Ulta melempar wacana, mengaitkan HAARP dengan beragam bencana. Dia menyebut, kecurigaan serupa juga pernah terjadi di Jepang, China, dan Turkiye.

Dalam Instagram itu dia juga mengunggah video podcast. Dalam video itu, dia mengatakan bahwa China dan Turkiye dilanda gempa tak lama setelah kedua negara itu mengalami "gesekan" dengan Amerika Serikat.

Namun dalam unggahan itu, Ulta memberikan "disclaimer". Dia menegaskan pendapat itu merupakan pemikiran pribadi.

Apa Itu HAARP?

HAARP atau High-frequency Active Auroral Research Program berada di Gakona, Alaska. Paman Sam mulai mengembangkannya pada 1990 atas prakarsa Kongres. Program ini dibangun untuk meneliti atmosfer atas atau ionosfer yang berkaitan dengan komunikasi dan sistem pertahanan. Fasilitas penelitiannya mulai didirikan pada 1993.

Selama dua dasawarsa HAARP dikelola bersama Angkatan Udara dan Angkatan Laut AS. Fokusnya mempelajari sifat fisik dan kelistrikan ionosfer, lapisan atmosfer yang berada 60–80 kilometer hingga lebih dari 500 kilometer dari permukaan bumi. Kondisi ionosfer memang dapat memengaruhi gelombang radio serta sistem komunikasi dan navigasi.

Bangunan utama HAARP adalah Ionospheric Research Instrument (IRI). Piranti ini merupakan susunan 180 antena pemancar radio frekuensi tinggi. Alat itu menempati area sekitar 33 hektare. Pemancar itu memberi energi pada ionosfer sehingga ilmuwan dapat mengamati perubahan yang terjadi melalui eksperimen.

Namun pada 2015, pengelolaan HAARP resmi pindah tangan. Militer AS melepaskannya ke University of Alaska Fairbanks (UAF). Sejak itu, fasilitas ini digunakan sebagai pusat riset terbuka untuk ilmuwan dan peneliti yang mempelajari ionosfer, fisika plasma, cuaca antariksa, dan fenomena atmosfer atas. HAARP juga menjadi bagian penting dari pengembangan observatorium geofisika yang didukung National Science Foundation.

Teori Konspirasi

Ulta bukan satu-satunya orang yang mencurigai HAARP. Bukan juga yang pertama. Selama bertahun-tahun, fasilitas tersebut telah menjadi "bahan gorengan" teori konspirasi. Setiap ada bencana besar di berbagai belahan dunia, nama HAARP nyaris selalu muncul.

Pada 2010, misalnya, HAARP dituding menjadi pemicu gempa 7.0 pada skala magnitudo di Haiti. Hugo Chavez yang masih menjabat Presiden Venezuela menuding AS menggunakan HAARP sebagai "senjata tektonik" sehingga memicu gempa pada 12 Januari yang menewaskan 316.000 orang itu.

Tudingan serupa kembali muncul dalam peristiwa gempa di Turkiye pada 6 Februari 2023. Setelah gempa dengan magnitudo 7,8 yang menewaskan lebih dari 62 ribu orang itu beredar informasi yang menyebut gempa itu sebagai "hukuman" AS dan NATO.

Narasi-narasi seperti itu hampir selalu muncul saat terjadi bencana di berbagai belahan dunia. Dan baru-baru ini, narasi serupa diungkapkan oleh anak buah Presiden Prabowo itu. Sama seperti yang sudah-sudah, wacana seperti ini riuh diperbincangkan.

Meski demikian, sejak tudingan itu muncul, belum ada bukti terverifikasi kaitan HAARP dengan bencana-bencana yang terjadi tersebut. Fakta ini juga diakui oleh Ulta, baik dalam tulisan maupun video yang diunggah ke Instagram tersebut.

Penjelasan Direktur

Pengelola HAARP sadar sepenuhnya bahwa fasilitas mereka sering jadi bulan-bulanan saban terjadi bencana besar. Tidak hanya gempa dan erupsi gunung, alat ini juga dituding menjadi biang kerok badai dan rekayasa cuaca.

Direktur Program HAARP, Jessica Matthews, dalam artikel yang dirilis laman fm.kuac.org bahkan berseloroh, "Beberapa panggilan terbaik yang saya terima berasal dari orang-orang yang memberi tahu saya, 'Saya akan mengadakan pernikahan. Bisakah kalian membantu kami dengan ramalan cuaca?"

Salah satu tudingan itu muncul karena banyak yang mengira HAARP bisa merekayasa cuaca. Untuk meluruskan tudingan, HAARP bahkan sampai membuka kantor. Mereka menggelar office tour. Lewat kegiatan ini, pengelola berharap bisa memberi literasi kepada masyarakat tentang apa yang sebenarnya mereka lakukan.

Matthews menegaskan bahwa HAARP tidak memicu bencana sebagaimana sering ditimpakan oleh banyak orang. "Peralatan penelitian di fasilitas HAARP tidak mampu menghasilkan atau memperkuat peristiwa semacam itu," kata dia.

Pada kesempatan lain dia memastikan bahwa frekuensi radio yang dipancarkan oleh peralatan HAARP tidak mampu diserap oleh lapisan atmosfer yang bertanggung jawab pada cuaca bumi. "Fasilitas kami sama sekali tidak mampu menghasilkan atau memperkuat peristiwa cuaca atau memicu atau memperkuat gempa bumi," tegas dia.

Pakar Indonesia

Pernyataan Ulta yang viral itu juga mendapat tanggapan dari angota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono. Melalui unggahan Instagram, dia menulis pendapatnya dengan judul "FITNAH HAARP: Menguji Secara Ilmiah Klaim bahwa HAARP Dapat Memicu Gempa, Tsunami, dan Erupsi Gunung Api."

Daryono mengatakan, HAARP tidak ada kaitannya dengan aktivitas vulkanik. Ionosfer yang diteliti tidak berhubungan dengan dapur magma gunung api. Sistem vulkanik, kata dia, dikendalikan oleh proses di dalam kerak dan mantel atas, termasuk pergerakan magma, tekanan fluida dan gas, perubahan tekanan, rekahan batuan, serta kondisi sistem magmatik.

Erupsi, tambah dia, dapat berlangsung sangat eksplosif karena energi dan volatil yang tersimpan dalam sistem magma. Tidak ada bukti bahwa gelombang radio HAARP dapat mentransfer energi ke dapur magma dalam cara yang dapat meningkatkan tekanan magmatik hingga menyebabkan erupsi.

Dengan kata lain, lanjut dia, mengubah kondisi plasma di ionosfer bukan berarti mengubah tekanan magma puluhan kilometer di bawah permukaan bumi. "Keduanya sama-sama merupakan bagian dari sistem bumi, tetapi secara fisik bukan berarti keduanya dapat dikendalikan oleh sumber energi yang sama," tegas Daryono.

Menurut dia, teori konspirasi HAARP telah berkali-kali dikaitkan dengan bencana di berbagai negara. Salah satu faktor yang membuat narasi itu bertahan adalah adanya kombinasi antara teknologi dan sejarah militer di belakangnya serta pemahaman masyarakat tentang bencana.

"Di sinilah fenomena conspiracy thinking bekerja. Sebuah kejadian besar dan menakutkan sering mendorong manusia mencari penyebab yang juga besar dan terencana," kata dia.

{NATIVE VIDEO TOP}
Join Dream.co.id