Lebih Aman Memberi Screen Time Anak di Ponsel, Laptop, atau TV?
© Pexels.com/Vitaly Gariev
Reporter : Abidah
Screen time pada anak merupakan hal yang tidak bisa terlupakan di saat ini. Orang tua perlu mengetahui bagaimana cara anak tetap melakukannya dengan aman.
DREAM.CO.ID - Ketika anak rewel dan orang tua butuh jeda sejenak, pertanyaan yang sering muncul bukan "boleh tidak memberi screen time", melainkan "layar mana yang paling aman untuk diberikan". Ternyata jawabannya cukup jelas berdasarkan riset yang ada: tidak semua layar diciptakan setara, dan TV secara konsisten muncul sebagai pilihan yang lebih aman dibanding ponsel atau tablet, meski bukan berarti sempurna tanpa risiko.
Salah satu perbedaan paling mendasar antara TV dan perangkat genggam terletak pada jarak pandang. Tablet dan smartphone menekan produksi hormon melatonin lebih besar dibanding TV, karena layar tersebut, dan cahaya birunya, berada jauh lebih dekat dengan wajah. Sebuah studi bahkan menemukan bayi usia 6 hingga 12 bulan yang terpapar layar di sore/malam hari menunjukkan dampak signifikan terhadap kualitas tidur mereka.
Jarak yang dekat ini juga berdampak pada postur tubuh anak. Riset menunjukkan penggunaan layar non-sentuh (seperti TV) lebih baik untuk kesehatan tulang belakang. Tablet, bahkan dengan casing penyangga sekalipun, cenderung membuat anak menundukkan kepala ke depan dan ke bawah, memberi tekanan ekstra pada otot leher, yang berpotensi menyebabkan perubahan postur sementara maupun permanen. Kesimpulannya, perangkat portabel yang interaktif jauh lebih membebani fisik anak dibanding TV.
Sifat Pasif TV Justru Jadi Kelebihan bagi Anak Usia Dini
TV secara tradisional dianggap sebagai bentuk media layar paling pasif. Riset dari American Academy of Pediatrics dan Canadian Paediatric Society menunjukkan bahkan TV yang menyala sebagai "suara latar" saja sudah cukup menghambat perkembangan bahasa bayi, karena mengalihkan perhatian baik anak maupun orang tua dari interaksi langsung satu sama lain. Bayi yang terpapar kondisi ini cenderung mendengar lebih sedikit kata dan mengalami keterlambatan bicara.
Namun justru sifat pasif TV ini bisa jadi kelebihan dibanding perangkat interaktif seperti tablet dan ponsel. Smartphone bersifat sangat personal dan selalu berada dalam jangkauan, membuat dampak psikologisnya terasa jauh lebih kuat. Sebuah studi longitudinal menemukan bahwa penggunaan layar yang bersifat adiktif, bukan sekadar total durasi screen time, adalah faktor yang paling berkaitan kuat dengan pikiran bunuh diri, kecemasan, dan masalah perilaku pada remaja.
Sementara itu, tinjauan yang meneliti paparan layar pada anak usia 0 hingga 3 tahun menemukan bahwa sebagian besar waktu screen time berkaitan negatif atau tidak menunjukkan hasil signifikan terhadap perkembangan anak, dengan sedikit sekali manfaat yang tercatat.
Kenapa Tablet dan Ponsel Terasa Lebih "Mengganggu Emosi" Anak
Banyak orang tua melaporkan anaknya tampak lebih tidak stabil secara emosional setelah bermain tablet, termasuk lebih sering tantrum, lebih sensitif secara emosional, dan lebih sulit kembali ke ritme aktivitas normal. Bukan cuma soal konten yang ditonton, melainkan seberapa dekat, seberapa cepat, dan seberapa imersif pengalaman itu. Semakin besar stimulasi yang diterima, semakin besar pula "jatuhnya" begitu layar dimatikan.
Riset dari Children's Hospital of Orange County turut menunjukkan bahwa menggunakan perangkat digital untuk menenangkan anak justru bisa berbalik jadi bumerang. Penggunaan rutin untuk menenangkan anak usia 3 hingga 5 tahun berkaitan dengan regulasi emosi yang lebih buruk seiring waktu.
Bukan Berarti TV Sempurna, dan Bukan Berarti Tablet Selalu Buruk
Meski demikian, penting dicatat bahwa tidak ada satu pun jenis layar yang sepenuhnya aman atau berbahaya secara mutlak. Kuncinya terletak pada bagaimana orang tua dan pengasuh membingkai dan mengelola penggunaan layar tersebut. Secara umum, tidak ada sesuatu yang secara inheren lebih buruk dari iPad dibanding TV untuk perkembangan dan kesejahteraan anak. Sebuah iPad pada dasarnya hanyalah layar TV berukuran lebih kecil yang bisa digenggam tangan.
Yang membedakan sebenarnya adalah bagaimana penggunaannya: sebagian keluarga merasa lebih mudah "mengakhiri" screen time lewat TV, cukup menekan tombol off dan meninggalkannya secara fisik. Tablet dan ponsel jauh lebih mudah diakses karena sifatnya yang portabel, membuat batasan waktu jadi lebih sulit ditegakkan secara konsisten.
Rekomendasi Praktis dari Ahli
Pakar perilaku anak menyarankan orang tua menyalakan tayangan edukatif pendek seperti Sesame Street atau Daniel Tiger's Neighborhood, sesuatu yang mendidik dan menyenangkan yang menunjukkan tokoh berinteraksi dan bermain secara kooperatif untuk mencontohkan keterampilan sosial yang baik, dibanding memberi anak tablet atau ponsel. Jika memungkinkan, menonton bersama anak juga disarankan agar orang tua bisa aktif berdiskusi soal apa yang sedang ditonton dan dipelajari anaknya.
World Health Organization pada 2019, senada dengan rekomendasi American Academy of Pediatrics pada 2016, merekomendasikan anak usia 2 hingga 5 tahun dibatasi maksimal satu jam screen time per hari, dan semakin sedikit semakin baik. Ini bukan karena layar itu sendiri berbahaya, melainkan karena keasyikan anak pada layar merampas waktu yang seharusnya dipakai untuk aktivitas fisik dan tidur yang sangat dibutuhkan.
Jika harus memilih di antara ketiganya, TV muncul sebagai opsi yang relatif lebih aman dibanding ponsel atau laptop/tablet, terutama soal jarak pandang, postur tubuh, dan sifatnya yang lebih pasif sehingga lebih mudah dikendalikan orang tua. Namun keamanan sejati bukan semata soal memilih perangkat yang "benar", melainkan soal durasi, jenis konten, dan yang tak kalah penting, keterlibatan orang tua dalam mendampingi anak saat menonton, apa pun layar yang dipilih.