Mengapa Setiap Daerah di Indonesia Punya Soto Versinya Sendiri
© 2026 Https://www.dream.co.id
Reporter : Abidah
Hampir setiap daerah di Indonesia memiliki varian sotonya sendiri-sendiri. Keberagaman makanan ini menjadikannya salah satu makanan dengan nama sama tapi varian yang bisa berbeda-beda.
DREAM.CO.ID - Sebut nama satu kota di Jawa dan hampir pasti kota itu punya soto khasnya sendiri. Soto Kudus, Soto Lamongan, Soto Betawi, Soto Medan, Coto Makassar, Soto Banjar. Uniknya, bukan hanya berbeda dari namanya, tiap daerah ini memiliki varian soto yang berbeda satu sama lain baik dari bahan baku maupun kekentalan kuah serta isian di dalamnya. Pertanyaannya: kenapa bisa begitu?
Jawabannya dimulai dari luar Nusantara, jauh sebelum soto dikenal sebagai masakan Indonesia.
Dilansir dari buku Nusa Jawa Silang Budaya, karya Denys Lombard, kata "soto" diperkirakan berasal dari istilah Tionghoa caudo atau jao to, yang dalam dialek Hokkian merujuk pada olahan jeroan berempah. Lombard mencatat, imigran Tionghoa sudah aktif berdagang dan membuka usaha kuliner di pesisir utara Jawa sejak abad ke-18. Sebagian membuka rumah makan, sebagian lain berjualan keliling memakai gerobak atau pikulan.
Versi aslinya memakai jeroan babi, sesuai tradisi kuliner Tiongkok. Begitu masakan ini bersentuhan dengan masyarakat Nusantara yang mayoritas Muslim, bahan dasarnya bergeser. Dilansir dari catatan Lombard, sejumlah muslim taat menolak masakan Tionghoa karena khawatir daging dan minyak yang dipakai berasal dari babi. Para pedagang lantas mengganti bahan utamanya dengan ayam, sapi, kerbau, atau bebek, perubahan kecil yang kelak membuka jalan bagi ratusan variasi rasa di seluruh Indonesia. Russel Jones, dalam Loanwords in Indonesian-Malay, menjelaskan bahwa kata sao du atau sio to dalam dialek Hokkian, yang tetap merujuk pada teknik memasak jeroan berempah.
Dari Pikulan Pinggir Jalan ke Meja Makan Kolonial
Soto pada masa awalnya bukan hidangan mewah. Ia makanan rakyat, dijajakan pedagang keliling dengan pikulan bambu di persimpangan jalan dan pasar. Catatan Museum Tropen Belanda tahun 1919 menyebut soto sebagai "Chinese soep", dimasak di atas anglo, disajikan dengan cabai merah, cabai rawit, dan kecap, sementara pedagangnya duduk di bangku kayu kecil sambil menunggu pembeli.
Soto perlahan naik kelas. Ia masuk ke dalam sajian rijsttafel, meja makan mewah era kolonial yang menggabungkan kuliner Jawa, Belanda, dan Tionghoa dalam satu hidangan. Buku masak Masakan djeung Amis-Amis terbitan Balai Pustaka tahun 1934 turut mencatat resep "soto hajam" alias soto ayam dalam dua variasi berbeda. Pada cetakan keempat tahun 1950, buku yang sama sudah menandai soto sebagai "masakan urang", bukan lagi masakan asing.
Puncaknya terjadi pada 1967, ketika soto masuk ke dalam buku Resep Mustika Rasa, proyek dokumentasi kuliner nasional yang digagas Presiden Soekarno. Sejak titik ini, soto resmi menyandang status sebagai masakan Indonesia, lepas dari label asalnya sebagai kuliner peranakan.
Kenapa Setiap Daerah Punya Versinya Sendiri
Perbedaan varian soto ini bisa terjadi karena makanan menyebar lewat jalur perdagangan, bukan lewat resep baku yang diwariskan seragam. Ia pertama kali dikenal luas di kota-kota pelabuhan pesisir utara Jawa Tengah seperti Tegal, Pekalongan, Semarang, dan Kudus, kawasan yang sejak lama menjadi simpul migrasi dan percampuran budaya.
Begitu soto berpindah dari satu daerah ke daerah lain, ia beradaptasi dengan tiga hal yaitu bahan yang tersedia, tradisi keagamaan setempat, dan selera lokal.
Kudus jadi contoh paling jelas. Alih-alih daging sapi, pedagang di sana memakai daging kerbau. Alasannya bukan soal rasa, melainkan penghormatan terhadap tradisi Hindu yang memandang sapi sebagai hewan suci, warisan dari masa ketika komunitas Hindu masih besar di kota itu. Di Jawa Timur, daging sapi justru jadi bahan utama, melahirkan varian soto sulung dengan kuah bening dan potongan jeroan yang khas. Di Makassar, lahir coto, versi soto berkuah kental dari daging sapi berkualitas yang dimasak berjam-jam. Di Pekalongan, muncul tauto, singkatan dari tauco soto, hasil perkawinan soto dengan bumbu tauco khas peranakan.
Bahkan dalam satu provinsi saja, variasinya bisa beragam. Jawa Tengah punya Soto Kudus, Soto Purbalingga, Soto Sokaraja, Soto Wonogiri, dan Soto Pekalongan sekaligus, masing-masing dengan karakter kuah dan bumbu yang tidak sama meski berada dalam wilayah yang sama.
Pengaruh dari luar Tiongkok pun ikut membentuk wajah soto di berbagai daerah. Penggunaan kunyit pada beberapa jenis soto, misalnya, diyakini terpengaruh tradisi kari India, memberi warna kuning khas pada kuah soto Betawi dan Soto Lamongan. Bahan-bahan seperti mi, bihun, soun, bawang putih goreng, dan penggunaan sendok bebek serta mangkuk keramik tetap menjadi jejak yang bertahan dari akar Tionghoanya, hadir hampir di semua varian soto di Nusantara.
Wujud Bhinneka Tunggal Ika
Saat ini, tercatat sekitar tujuh puluh jenis soto tersebar di seluruh Indonesia, masing-masing dengan ciri dan keunikannya sendiri. Keberagaman ini bukan kebetulan. Ia hasil dari perpaduan jalur dagang, migrasi, keyakinan agama, dan kreativitas masyarakat lokal yang mengolah satu konsep dasar, kuah kaldu berempah dengan daging atau jeroan, menjadi ratusan interpretasi berbeda.
Salah satu makanan yang bisa menjadi wujud dari Bhinneka Tunggal Ika di Indonesia ini adalah soto. Walau dengan varian yang berbeda-beda, nama soto tetap mengikat makanan ini dan menjadi cita rasa dan identitas dari tiap-tiap daerah.