Punya Badan Sebesar Beruang, Benarkah Panda Hanya Makan Bambu?
© Amaury Laporte, CC BY 2.0
Reporter : Abidah
Pada awalnya ternyata panda adalah hewan karnivora. Evolusi yang dialaminya menyebabkan panda berubah dan mengonsumsi bambu seperti saat ini.
DREAM.CO.ID - Panda raksasa selalu identik dengan gambar lucu mereka mengunyah batang bambu sambil duduk santai. Tapi di balik citra imut itu, ada fakta biologis yang cukup mengejutkan: tubuh panda sebenarnya sama sekali tidak dirancang untuk hidup dari bambu. Mereka membawa sistem pencernaan karnivora sejati, warisan dari nenek moyang pemakan daging, terjebak dalam tubuh yang kini nyaris seratus persen bergantung pada tanaman.
Dilansir dari IFAW, panda sebenarnya pernah menjalani pola makan karnivora, namun beralih ke bambu sekitar tiga juta tahun lalu menurut catatan fosil. Meski sudah berkembang berbagai adaptasi untuk memakan bambu, mulai dari tulang pergelangan tangan menyerupai ibu jari, gigi, hingga rahang khusus, mereka tetap mempertahankan sistem pencernaan seorang karnivora.
Saat genom panda raksasa berhasil diurutkan pada 2009, para ilmuwan menemukan bahwa makhluk ini benar-benar tidak memiliki gen untuk enzim apa pun yang bisa memecah selulosa, serat tumbuhan yang jadi komponen utama bambu dan rerumputan lainnya. Hewan pemakan tumbuhan pada umumnya memiliki usus lebih panjang untuk membantu mencerna materi berserat, sebuah ciri yang justru tidak dimiliki beruang hitam-putih ini.
Bakteri Usus Jadi "Penyelamat" Utama
Lantas bagaimana panda bisa bertahan hidup dari bambu jika tubuhnya sendiri tidak mampu mencernanya? Jawabannya ada pada bakteri yang menghuni sistem pencernaan mereka. Sebuah penelitian menganalisis sekuens gen dari kotoran tujuh panda liar dan delapan panda penangkaran, sampel yang jauh lebih besar dibanding studi-studi sebelumnya soal kotoran panda.
Meski dibantu bakteri usus, panda tetap tidak mendapatkan banyak nutrisi dari bambu. Panda hanya mampu mencerna sekitar 17 persen dari 9 hingga 14 kilogram makanan kering yang dikonsumsinya setiap hari. Angka ini menjelaskan mengapa panda akhirnya berevolusi menjalani gaya hidup lamban demi menghemat energi.
Kenapa Bambu Jadi Pilihan, Bukan Daging?
Sejumlah ilmuwan berteori, seiring populasi manusia purba meningkat, panda terdesak ke wilayah dataran tinggi. Hewan ini kemudian mengadopsi pola makan bambu agar tidak perlu bersaing memperebutkan mangsa dengan karnivora lain seperti beruang hitam Asia di habitat baru mereka.
Dilansir dari IFAW, meski sudah kehilangan kemampuan fisik atau naluri bawaan untuk menangkap sebagian besar jenis mangsa hidup, panda masih sesekali memakan daging seperti burung kecil dan hewan pengerat. Namun secara keseluruhan, 99 persen dari total asupan makanan panda tetap berupa bambu.
Porsi Makan yang Ekstrem demi Bertahan Hidup
Karena rendahnya efisiensi pencernaan mereka, panda harus mengonsumsi bambu dalam jumlah sangat besar. Untuk mendapatkan cukup nutrisi, mereka menghabiskan waktu sekitar 10 hingga 12 jam setiap hari hanya untuk makan. Bahkan menurut sumber lain, panda liar bisa menghabiskan hingga 16 jam sehari mengunyah bambu.
Proses mencerna makanan sebanyak itu juga menghasilkan konsekuensi lain yang cukup mengejutkan: panda perlu terus-menerus mengeluarkan bagian bambu yang tidak tercerna, sehingga mereka bisa buang air hingga 50 kali sehari.
Panda Tidak Selalu Hanya Makan Bambu
Meski bambu mendominasi pola makan mereka, panda ternyata tidak sepenuhnya menutup diri dari sumber makanan lain, terutama saat kondisi memaksa. Bambu terkadang mengalami fenomena "berbunga" yang menyebabkan kematian massal di area luas tanaman bambu. Karena itu, panda biasanya perlu tinggal di lokasi dengan akses ke setidaknya dua spesies bambu berbeda, sehingga mereka bisa beralih jika salah satu jenis mengalami kematian massal.
Di alam liar, saat pasokan bambu terbatas, panda diketahui memakan buah-buahan liar seperti kiwi dan biwa di musim gugur, batang jagung, gandum tanpa jerawat, bahkan tanaman herbal seperti angelika Tiongkok saat kekurangan bambu yang parah. Di penangkaran, mereka bahkan bisa menerima madu, telur, ikan, ubi jalar, daun semak, jeruk, atau pisang sebagai variasi menu.
Panda menjadi salah satu contoh paling unik dalam dunia evolusi hewan: makhluk berklasifikasi karnivora, lengkap dengan gigi taring tajam dan saluran pencernaan pendek khas pemakan daging, namun memilih menjalani hidup nyaris seratus persen dari tumbuhan yang tubuhnya sendiri kesulitan mencerna. Mereka bertahan bukan karena tubuhnya berevolusi sempurna untuk pola makan itu, melainkan karena kombinasi bakteri usus yang membantu proses pencernaan seadanya, porsi makan ekstrem sepanjang hari, dan gaya hidup serba lambat yang menghemat setiap kalori berharga yang berhasil mereka serap dari batang-batang bambu itu.