© Gemini Generated Image
DREAM.CO.ID - Dentuman bass yang menggetarkan dada, kaca jendela bergetar, bahkan tanah terasa ikut bergoyang. Fenomena sound horeg, tren sound system raksasa yang membuat segala sesuatu di sekitarnya " horeg" alias bergetar, sudah menjelma jadi budaya populer yang menyebar dari akar pedesaan Jawa Timur ke berbagai penjuru negeri. Tapi di balik euforia dan kemeriahannya, ada pertanyaan penting yang layak dijawab: kenapa fenomena ini begitu digemari, dan seberapa berbahaya paparannya bagi tubuh?
Istilah " horeg" sendiri berasal dari bahasa Jawa yang berarti bergerak, bergetar, atau berguncang, menggambarkan sempurna efek yang ditimbulkan dentuman bass dari sound system raksasa itu. Sejarahnya berakar dari tradisi hiburan rakyat pedesaan Jawa Timur sejak era 2000-an, saat pengeras suara dipakai untuk memeriahkan acara hajatan.
Dulu, pesta pernikahan atau khitanan di desa-desa sering menyewa organ tunggal sebagai hiburan utama. Seiring berkembangnya teknologi audio, anak-anak muda mulai memodifikasi sistem sound agar suaranya lebih " nendang" , hingga akhirnya lahir komunitas-komunitas sound system rumahan yang bertanding tak resmi untuk menunjukkan siapa yang punya " sound paling menggetarkan" .
Fenomena ini benar-benar meledak pascapandemi Covid-19, ketika masyarakat yang lama terkurung akhirnya haus akan hiburan massal. Dari Malang, sound horeg menyebar cepat ke seluruh Jawa Timur, mulai dari Blitar, Jember, Banyuwangi, Surabaya, hingga merambah ke wilayah Jawa Tengah seperti Pati, Kudus, Demak, dan Rembang.
Salah satu penyebab utama fenomena ini adalah karakter masyarakat Jawa Timur, khususnya di kawasan selatan, yang cenderung lebih toleran dan terbiasa dengan suara keras. Indikatornya terlihat dari kebiasaan masyarakat setempat yang gemar menyewa sound system dengan volume tinggi saat menggelar hajatan.
Selain faktor budaya dan sosial, ada pula aspek ekonomi yang mendorong menjamurnya fenomena ini. Investasi dalam industri sound horeg terbilang sangat besar, dengan satu unit truk sound horeg lengkap bisa menelan biaya hingga Rp 1 miliar. Di kawasan Malang Raya saja, tercatat ada sekitar 1.200 usaha persewaan sound horeg, menciptakan ribuan lapangan kerja bagi teknisi, DJ, dan operator, sekaligus menarik kerumunan yang turut berbelanja di sekitar lokasi acara.
Di balik popularitasnya, sound horeg menyimpan risiko kesehatan yang serius dan sering diabaikan. Volume sound horeg kerap mencapai 120 hingga 135 desibel, jauh melampaui batas aman yang direkomendasikan.
Dilansir dari National Institute for Occupational Safety and Health (NIOSH) Amerika Serikat, batas paparan kebisingan yang direkomendasikan adalah 85 desibel selama delapan jam. Sementara itu, National Institute on Deafness and Other Communication Disorders (NIDCD) menjelaskan bahwa suara pada atau di bawah 70 desibel, bahkan setelah paparan lama, tidak mungkin menyebabkan gangguan pendengaran. Namun paparan lama atau berulang terhadap suara pada atau di atas 85 desibel bisa menyebabkan gangguan pendengaran, dan semakin keras suaranya, semakin singkat pula waktu yang dibutuhkan untuk merusak pendengaran.
Dengan level 120 hingga 135 desibel yang jadi ciri khas sound horeg, paparan bahkan dalam hitungan menit saja sudah cukup berisiko merusak pendengaran secara permanen. Kerusakan yang terjadi disebut Noise-Induced Hearing Loss (NIHL), kondisi di mana sel-sel rambut halus di dalam koklea telinga rusak akibat suara terlalu keras, dan sel-sel ini tidak bisa beregenerasi sama sekali, menyebabkan gangguan pendengaran permanen.
Bahaya sound horeg tidak berhenti pada gangguan pendengaran semata. Paparan suara ekstrem dalam waktu lama juga berkaitan dengan berbagai masalah kesehatan lain, termasuk stres, hipertensi, gangguan tidur, peningkatan risiko penyakit jantung, dan gangguan kognitif, terutama pada anak-anak. Kelompok yang paling rentan terhadap dampak ini adalah bayi, lansia, dan penderita autisme, kelompok dengan sistem sensorik yang lebih sensitif terhadap rangsangan suara ekstrem.
Getaran bass yang begitu kuat dari sound horeg bahkan bisa merusak struktur bangunan di sekitarnya, seperti memecahkan kaca jendela, selain berpotensi mengganggu satwa dan menciptakan polusi suara yang meluas ke lingkungan sekitar. Tidak jarang, kondisi ini memicu konflik antarwarga akibat suara yang mengganggu hingga larut malam.
Kontroversi seputar sound horeg bahkan sampai ke ranah keagamaan. Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur sempat mengeluarkan fatwa yang menyatakan praktik sound horeg haram, dengan syarat tertentu, mencerminkan keresahan sebagian masyarakat terhadap dampak sosial dan kesehatan dari fenomena ini.
Di satu sisi, sound horeg menjadi simbol identitas dan kebanggaan komunitas, terutama di kalangan pemuda, sekaligus penopang ekosistem ekonomi lokal yang cukup signifikan. Di sisi lain, ia menimbulkan masalah nyata terkait kebisingan, kesehatan, dan ketertiban umum yang tidak bisa diabaikan begitu saja.
Bagi yang ingin tetap menikmati kemeriahan sound horeg tanpa membahayakan kesehatan telinga, beberapa langkah sederhana bisa membantu mengurangi risiko: menjaga jarak dari sumber suara sejauh mungkin, membatasi durasi paparan langsung, serta menggunakan pelindung telinga seperti earplug saat berada dekat dengan sound system berkekuatan besar. Mengingat kerusakan pendengaran akibat kebisingan bersifat permanen dan tidak bisa disembuhkan lewat operasi maupun obat-obatan, langkah pencegahan sejak dini jauh lebih baik dibanding menyesal setelah pendengaran benar-benar terganggu di kemudian hari.
Advertisement

Sejarah Batik: Dari Teknik Pewarnaan Kuno hingga Menjadi Identitas Budaya Indonesia

Guruh Soekarnoputra Meninggal Dunia, Seniman dan Anak Bungsu Soekarno Tutup Usia

Kenapa Ada Pria yang Terobsesi dengan Ketiak Perempuan? Ini Penjelasannya

Ini Jenis Tes yang Mampu Turunkan Kadar Trigliserida, Bisa Bantu Cegah Masalah Kolesterol


Mengapa Motif Batik Mega Mendung Mirip dengan Desain Awan China?

Sarapan Sebaiknya Protein atau Karbohidrat? Ahli Gizi Ungkap Pilihan yang Lebih Tepat