Mitos Seputar Skin Bleaching dan Fakta dari Dermatologis

Reporter : Cynthia Amanda Male
Jumat, 21 Februari 2020 14:37
Mitos Seputar Skin Bleaching dan Fakta dari Dermatologis
Apa saja?

Dream - Sebagian wanita telah mencoba skin bleaching. Ini merupakan teknik paling mudah menghilangkan rambut atau bulu pada tubuh dibandingkan shaving, epilating atau plucking (mencabut bulu).

Tapi, ada beberapa mitos yang dipercaya banyak orang seputar skin bleaching. Dermatologis tidak merekomendasikan skin bleaching karena terdapat bahan kimia yang tidak aman bagi kulit.

Bahan kimia tersebut bisa menyebabkan ruam, alergi dan iritasi. Dilansir Miss Kyra, berikut mitos seputar skin bleaching yang dipercaya banyak orang.

- Bleaching membuat kulit lebih terang: Faktanya, bleaching hanya bekerja untuk pigmentasi, noda hitam dan penggelapan warna kulit akibat sinar matahari.

Kandungan di dalamnya tidak bisa membuat kulitmu lebih terang. Krim bleaching mengandung sodium hipoklorit, sodium perkarbonat, hidrogen peroksida, kalsium hipoklorit, sodium dithionat dan lain-lain. Bahan ini hanya dapat mencerahkan bulu di wajah, bukan kulit.

1 dari 1 halaman

Semua Krim Bleaching Sama?

- Bleaching aman dilakukan: Dernatologis justru berpendapat sebaliknya. Krim bleaching mengandung bahan kimia yang reaktif pada kulit dan menyebabkan beruntusan hingga iritasi ketika terpapar sinar matahari.

 Skin Bleaching© shutterstock.com

- Semua krim bleaching sama: Faktanya, tidak semua krim bleaching yang digunakan sama. Kandungan pada krim yang baru diproduksi telah ditingkatkan berdasarkan berbagai jenis kulit. Krim bleaching yang telah diperbarui juga mengandung pelembap untuk mengatasi iritasi kulit.

- Tidak perlu patch test: Kamu perlu melakukan patch test ketika ingin melakukan bleaching. Jika terdapat kandungan yang menimbulkan alergi, kulitmu akan dipenuhi dengan bintik putih.

Beri Komentar
Babak Baru Daus Mini Vs Daus Mini ‘KW'