Bahaya Santap Nasi Goreng Campur Ketimun

Reporter : Kusmiyati
Selasa, 24 November 2015 12:12
Bahaya Santap Nasi Goreng Campur Ketimun
Mungkin banyak yang setuju jika timun menjadi pasangan yang pas melengkapi santapan nasi goreng. Namun ternyata hal ini berdampak kurang baik jika minyak yang digunakan berkualitas buruk.

Dream - Mungkin banyak yang setuju jika ketimun menjadi pasangan yang pas melengkapi santapan nasi goreng. Namun ternyata hal ini berdampak kurang baik untuk kesehatan jika minyak yang digunakan berkualitas buruk.

Peneliti dari University of the Basque Country mengatakan, jika memasak nasi dengan minyak yang dipakai berulang kali maka mengakibatkan proses kimiawi dan menghasilkan zat aldehid.

Zat ini yang menjadi pemicu kehadiran penyakit neurodegenerative dan beberapa jenis kanker mematikan lainnya diantaranya alzheimer, parkinson dan penyakit lainnya yang berhubungan dengan kerusakan saraf.

Dan jika minyak bekas tersebut digabung dengan kandungan air atau getah yang ada pada ketimun, maka dapat menyebabkan radang pada tenggorokan.

Lebih berbahayanya lagi dapat mengakibatkan kanker kelenjar tiroid. Peneliti menganjurkan untuk selalu menggunakan minyak berkualitas dan selalu memilih tempat makan yang mementingkan kebersihan. (Ism) 

 

1 dari 6 halaman

Bahaya Pinjamkan Gunting Kuku ke Orang Lain

Dream - Meminjamkan gunting kuku ke keluarga atau kuku sepertinya masih sering dilakukan tidak sedikit orang. Hal yang terdengar sepele ini ternyata berdampak buruk untuk kesehatan.

Selain memicu infeksi, juga menularkan jamur kuku (Onikomikosis). Ada 3 tanda khusus jamur kuku, seperti perubahan warna kuku menjadi putih kekuningan, kuku menebal, dan kuku mudah patah, pecah, retak.

Direktur Klinik Medivit, dr Margareta Indah Maharani, SpKK mengatakan, sebaiknya gunting kuku hanya untuk pribadi bukan untuk berbagi.

" Meminjamkan gunting kuku ke orang lain salah satu cara menjaga kebersihan diri. Begitu juga saat berada di luar seperti di salon, sebaiknya bawa sendiri peralatannya. Karena kita tidak tahu kebersihan peralatan ini bagaimana," tuturnya. 

Menjaga kebersihan peralatan kuku diakui Margareta, sangatlah penting untuk menghindari penularan spora jamur yang mungkin saja menempel pada kikirnya.

" Walaupun sudah 100 persen dibersihkan, kita tidak tahu spora kuku itu masih menempel atau tidak kalau dilihat kasat mata. Kuku menjadi bagian estetika tubuh yang tidak terpisahkan dari keseluruhan penampilan jadi perlu dijaga," paparnya.

Selain jamur, bergantian menggunakan gunting kuku berisiko hepatitis C. Pakar penyakit hati FKUI/RSCM dr Rino A Gani, Sp PD-KGEH mengatakan semua alat yang sifatnya mampu melukai dapat menjadi sarana penularan bila dipakai bergantian. Alat-alat tersebut diantaranya gunting kuku, alat facial dan cukur.

" Sebaiknya tidak menggunakan alat-alat tersebut bergantian karena kita tidak pernah tahu bila orang yang memakai alat-alat itu menderita hepatitis C," ujar Rino. (Ism) 

2 dari 6 halaman

Daftar Barang Pribadi yang Berbahaya Jika Dipinjamkan

Dream - Barang-barang pribadi seperti gunting kuku dan deodoran tidak boleh sembarangan dipinjamkan kepada teman atau bahkan keluarga. Ahli kesehatan mengatakan sebaiknya segera menghentikan kebiasan memakai barang tersebut secara bergantian.

Dikutip Womenshealth, Jumat 20 November 2015, selain dua barang itu ada beberapa yang memang tidak boleh dipinjamkan untuk menghindari risiko gangguan kesehatan.

1. Sabun batangan

Studi tahun 2008 menuliskan kesebelasan tim sepakbola pernah mengalami infeksi akibat penggunaan sabun batangan bersama-sama.

Penelitian ini dilakukan oleh University of Florida dan menemukan adanya infeksi berulang dari satu tipe bakteri Methicillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA) yang ditemukan pada kulit dan hidung. Hal ini membuat tubuh menjadi kebal terhadap antibiotik.

Sebagai gantinya, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) merekomendasikan penggunaan sabun cair untuk mencegah infeksi.

2. Deodoran

Hampir semua orang menggunakannya untuk mengatasi bau badan akibat keringan berlebih. Kandungan antiperspirant pada deodoran yang membantu mengurangi masalah bau badan tersebut.

Namun penggunaannya yang diperuntukan di area kulit sensitif seperti ketiak, menurut Mayo Clinic jika digunakan bersamaan dengan orang lain maka dapat menyebabkan infeksi.

3. Pisau Cukur

Menurut dermatolog sekaligus direktur Program Kesehatan Kulit Perempuan di Northwestern Medicine, Bethanee J. Schlosser, MD, Ph.D., pisau cukur dapat menularan hepatitis B, C, dan HIV.

" Pisau cukur dapat menyebabkan transmisi jamur korporis atau lebih umum dikenal sebagai infeksi kurap dan bakteri," katanya.

4. Handuk

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) mengatakan handuk yang digunakan bergantian dapat menyebarkan infeksi kulit, terutama yang masih dalam kondisi basah.

5. Sikat Gigi

Schlosser juga menegaskan penggunaan sikat gigi bergantian dapat menularkan infeksi. " Menggunakan sikat gigi bergantian dapat meningkatkan tingkat bakteri dalam aliran darah," katanya.

6. Gunting kuku

Menurut Schlosser penggunaan gunting kuku bergantian dapat menimbulkan risiko penularan infeksi virus.

3 dari 6 halaman

Kuas Make Up Kotor Picu Radang Tenggorokan

Dream - Dalam mengenakan riasan perlu diperhatikan kebersihan alat make up yang dikenakan. Salah satunya kuas.

Menurut Sejal Shah, dokter kulit papan atas di New York dikutip Womenshealth, Jumat 20 November 2015, kuas make up yang jarang dibersihkan akan menyimpan banyak bakteri.

Mungkin banyak wanita yang tidak menyadari hal ini. Padahal saat kuas disapukan pada wajah membuat bakteri menempel di kulit dan mengakibatkan jerawat.

Selain itu menurut Sejal, kuas makeup yang kotor berisiko memicu radang tenggorokan. Bakteri yang paling umum mengendap dalam kuas ialah Staphylococcus dan Streptococcus.

" Yaitu bakteri buruk penyebab infeksi kulit dan radang tenggorokan. Selain jerawat, bakteri tersebut bisa membuat kulit kusam, ruam, bahkan infeksi mata. Bahkan pernah ada yang mengalami kulit berjamur bahkan herpes,” tuturnya.

Sejal Shah pun menyarankan untuk mencuci kuas kosmetik dengan sabun setidaknya seminggu sekali. Untuk pemilik jenis kulit wajah berminyak atau berjerawat disarankan lebih sering membersihkan kuas serta alat-alat kosmetik lainnya.

Selain kuas, spons bedak pun dianjurkan untuk diganti setidaknya sebulan sekali. (Ism) 

4 dari 6 halaman

Minuman Bersoda Bikin Haid Lancar?

Dream - Tak jarang wanita beranggapan dengan mengonsumsi minuman bersoda maka haid akan lancar. Namun apakah itu mitos belaka atau fakta?

Karbondioksida yang merupakan bahan yang aman digunakan pada produk minuman bersoda, tidak akan diserap lambung.

" Jadi, jika dihubungkan dengan faktor sistemik, pasti tidak ada pengaruhnya," ujar pakar gastroenterologi dari Universitas Indonesia, Fahrial Syam, Jumat 20 November 2015. 

" Sehingga saya bisa bilang minum soda melancarkan haid itu hanya mitos."  

Menurutnya tidak ada pengaruhnya konsumsi minuman bersoda untuk wanita saat haid. Minuman berkarbonasi dikatakan Ari bisa membuat seseorang sering buang air kecil dan besar.

" Kalau dikonsumsi terlalu banyak dalam waktu tertentu, ya akan merangsang seseorang untuk buang air kecil. Ususnya juga akan mengalami peningkatan jumlah gas. Bagi seseorang yang susah buang air besar bisa membuat dia jadi lancar, termasuk kentut-kentut," katanya. (Ism) 

5 dari 6 halaman

Menonton Televisi Lebih dari Empat Jam Berisiko Kematian

Dream - Tidak sedikit yang memilih televisi sebegai sarana hiburan saat libur di rumah. Namun ternyata menurut studi terlalu sering menonton televisi menjadi salah satu penyebab kematian.

Studi di Amerika serikat yang dikutip American Journal of Preventive Medicine, Jumat 20 November 2015 menuliskan, 80 persen orang dewasa di Amerika Serikat menonton TV selama sekitar tiga setengah jam per hari, atau lebih dari setengah dari waktu luang mereka.

" Kita tahu bahwa menonton televisi adalah perilaku paling umum dalam menghabiskan waktu luang. Kami memakai itu sebagai indikator aktivitas fisik secara keseluruhan," kata penulis studi Sarah Keadle, dari US National Cancer Institute.

Para ilmuwan meneliti lebih dari 221.000 orang berusia 50 hingga 71 tahun, yang tidak memiliki penyakit akut selama hampir 15 tahun. Para relawan itu pun dimonitor hingga meninggal dunia.

Diketahui semakin lama seseorang menonton TV setiap harinya maka semakin besar risiko kematian. Hal ini bisa dikarenakan penyakit jantung, kanker, diabetes, pneumonia, penyakit liver dan penyakit parkinson.

Risiko kematian akan meningkat 47 persen saat seseorang menonton televisi lebih dari tujuh jam perhari. Sementara untuk yang menonton tiga hingga empat jam maka risiko kematiannya sebesar 15 persen.

Dalam studi ini peneliti juga memperhitungkan faktor-faktor lain seperti merokok, minum alkohol, asupan kalori berlebih dan masalah kesehatan lainnya.

" Meskipun olahraga tidak sepenuhnya menghilangkan risiko yang terkait dengan menonton televisi berkepanjangan. Bagi mereka yang ingin mengurangi waktu menonton televisi dianjurkan untuk menjalani program olahraga teratur sebagai aktivitas pengganti," kata Keadle. (Ism) 

6 dari 6 halaman

Berat Badan Pria Naik Usai Menikah, Ini Penjelasannya

Dream - Mungkin tidak sedikit orang yang bertanya-tanya perubahan bentuk tubuh pria yang sudah menikah. Survei terbaru menemukan fakta rata-rata pria yang sudah menikah mengalami kenaikan berat badan 4,5 kilogram.

Bahkan hal ini akan terjadi sebelum para pria menjadi ayah. Pria yang sudah menikah memiliki libido yang cenderung turun, sementara keinginan untuk mengasuh dan mencurahkan kasih sayang lebih tinggi.

Dijelaskan para peneliti dikutip Bussines Insider, Jumat 20 November 2015 saat pria sudah menjadi ayah maka kemungkinan akan bertambah lagi berat badannya.

Studi menunjukkan setelah memiliki buah hati, maka kadar testosteron pria akan berkurang sementara kadar prolaktin mereka meningkat.

Studi baru yang diterbitkan dalam Families, Systems and Health Journal juga berpendapat sama, dikatakan 25 persen pria mengalami kenaikan berat badan setelah menikah.

Pada penelitian ini para ilmuwan menggunakan data dari Project EAT yang memantau diet, aktivitas fisik, dan status berat badan 2.300 orang dewasa di Midwest.

Sekitar 35 persen dari total sampel berstatus belum menikah, 42 persen memiliki pasangan tapi belum menikah, dan 23 persen menikah.

Hasil penelitian menunjukkan pria menikah memiliki potensi mengalami kelebihan berat badan mencapai 25 persen ketimbang mereka yang belum menikah. (Ism) 

Beri Komentar