Falsafah Nasi Tumpeng

Reporter : Yusmaisya
Minggu, 26 Oktober 2014 11:01
Falsafah Nasi Tumpeng
Tumpeng merupakan hidangan yang biasa disajikan di berbagai acara, seperti upacara adat, peresmian, pernikahan dan memperingati upacara penting lainnya.

Dream - Siapa tak mengenal nasi tumpeng? Ya sajian ini memang menjadi khas Indonesia yang dihidangkan di berbagai daerah. Nasi tumpeng berbentuk kerucut dengan aneka lauk pauk yang disajikan diatas tampah.

Tumpeng merupakan hidangan yang biasa disajikan di berbagai acara. Seperti upacara adat, peresmian, pernikahan dan memperingati upacara penting lainnya.

Dalam ritual Jawa, tumpeng dibuat dalam beberapa jenis nasi; nasi kuning, nasi uduk dan nasi putih. Bentuknya dibuat mengerucut seperti gunung Mahameru yang diartikan sebagai tempat bersemayam para dewa.

Bentuknya yang mengerucut ke atas menyiratkan agar kualitas hidup yang terus meningkat. Sedangkan lauk pauk menjadi simbol ekosistem kehidupan alam.

Salah satu tumpeng yang sering dijadikan sajian dalam ritual ialah Tumpeng Robyong. Memberikan simbol keselamatan, kesuburan dan kesejahteraan. Dilihat dari bentuknya yang menyerupai gunung ini, tumpeng menggambarkan kemakmuran sejati.

Sedangkan untuk nasi tumpeng kuning umumnya disajikan dalam acara syukur kegembiraan, yang menggambarkan kekayan dan moral yang luhur.

Nasi tumpeng menjadi kudapan khas pada acara tertentu untuk menunjukkan wujud syukur kepada Yang Maha Kuasa, untuk merayakan kelimpahan hasil panen dalam kebersamaan dan kerukunan.

(Ism, Sumber:Info Jajan)

Beri Komentar