Yeot, Permen Tradisional Korea Berusia 1000 Tahun

Reporter : Mutia Nugraheni
Jumat, 6 November 2020 17:33
Yeot, Permen Tradisional Korea Berusia 1000 Tahun
Masih dibuat secara tradisional. Penasaran rasanya?

Dream - Bagi Sahabat Dream yang suka dengan hidangan Korea mungkin sudah akrab dengan sajian kimchi, kimbap, jajangmyeon, atau bulgogi. Nah, satu satu camlilan klasik Korea yang usianya bahkan sudah mencapai 1000 tahun.

Penasaran? Camilan tersebut adalah permen yang disebut Yeot. Bukan sekadar permen biasa, ternyata pembuatan Yeot juga merupakan tradisi keluarga turun temurun.

Melansir dari berbagai sumber, tradisi membuat Yeot secara tradisional ini masih dilakukan keluarga di Chungju, Korea Selatan.

Dipercaya, Yeot yang dibuat keluarga tersebut sudah berusia sekitar 1000 tahun dan masih eksis hingga saat ini. Permen Yeot berwarna putih dan punya tekstur kering dan keras.

 

1 dari 5 halaman

Ternyata, permen ini terbuat dari nasi putih dan ditambahkan bahan lain seperti bubuk jahe, bellflower, dan juga labu. Setelah itu dicampurkan dengan cairan malt yang dibuat dengan merendam biji barley atau jelai.

Yeot dibuat dengan cara yang cukup tradisional. Beras putih yang sudah dicuci kemudian ditiriskan, lalu dicampurkan dengan cairan rendaman biji barley dan air. Kemudian adonan difermentasi untuk menghasilkan zat manis.

 

2 dari 5 halaman

Campuran yang manis ini dimasukkan ke dalam panci dan dipanaskan sebentar. Setelah didiamkan agak lama, maka adonan akan mengental seperti karamel. Adonan yang kental diletakan pada sebuah batang kayu untuk kemudian ditarik. Proses menarik adonan ini akan membuat warna yeot yang tadinya cokelat pekat menjadi lebih transparan.

Permen Yeot© Shutterstock

Permen berwarna putih ini ternyata sudah dikenal sejak zaman Dinasti Goryeo. Yeot tradisional ini dulu hanya bisa dinikmati oleh kalangan bangsawan saja.

Baca selengkapnya di Diadona.id

3 dari 5 halaman

Kkwabaegi, Si Donat Cantik Khas Korea

Dream - Donat identik dengan lubang di bagian tengahnya bercita rasa legit manis. Rupanya di Korea tampilan donat sangat berbeda. Berupa kepangan spiral yang membuat tampilannya begitu menarik.

Kkwabaegi, Si Donat Cantik Khas Korea© MEN

Donat khas Korea ini bernama kkwabaegi. Terbuat dari ragi, gandum atau tepung beras ketan. Rasanya sedikit manis dengan tekstur yang kenyal. Untuk menggorengnya ternyata bukan menggunakan minyak, tapi mentega cair.

Sahabat Dream ingin mencoba membuatnya di rumah? Berikut detail resepnya.

Bahan:
- 3 cangkir tepung terigu untuk donat

- 2 sendok makan tepung terigu untuk dicampurkan dengan mentega

- 2 sendok makan mentega

- 1 bungkus ragi kering

- 5 sendok makan gula putih

- 1 cangkir susu

- 1 butir telur

- setengah sendok teh garam

- minyak jagung- setengah sendok teh bubuk kayu manis

 

4 dari 5 halaman

Langkah membuat:

1. Cairkan mentega dalam sebuah panci kecil di atas api sedang.

2. Tambahkan susu, 3 sendok makan gula, garam, dan aduk hingga semuanya tercampur.

3. Tambahkan telur dan aduk hingga rata.

4. Tambahkan ragi dan aduk hingga rata, kemudian diamkan selama 5 menit.

5. Pindahkan adonan ke sebuah mangkuk besar, tambahkan 3 cangkir tepung, dan aduk hingga rata menggunakan sendok.

6. Ketika adonan telah tercampur rata, gunakan tangan untuk menguleni adonan selama beberapa waktu, kemudian bungkus dengan plastik.

7. Biarkan adonan mengembang hingga 2 kali lipat, biasanya membutuhkan waktu sekitar 1 sampai 1 setengah jam.

8. Setelah adonan mengembang, uleni kembali dengan tangan hingga adonan terasa lebih lembut, kemudian tutup dengan plastik lagi dan diamkan selama 30 menit hingga 1 jam agar adonan lebih mengembang.

 

5 dari 5 halaman

Cara membuat kepangan

Kkwabaegi© Shutterstock

1. Ratakan adonan.

2. Agar adonan tidak lengket, gunakan tepung, dan bagi adonan menjadi 16 bagian yang sama atau hingga adonan habis.

3. Gulung adonan yang telah dibagi-bagi hingga setidaknya sepanjang 10 inci kemudian angkat, dan putar. Usahakan kamu membuat 3 sampai 4 putaran.

4. Setelah semua bagian selesai, biarkan selama 30 menit agar adonan mengembang.

Laporan Annisa Wulan/ Sumber: Fimela

Beri Komentar