2.400 Rumah Dibangun untuk Korban Gempa Cianjur, Target Kelar Sebelum Lebaran

Reporter : Okti Nur Alifia
Senin, 5 Desember 2022 12:45
2.400 Rumah Dibangun untuk Korban Gempa Cianjur, Target Kelar Sebelum Lebaran
Menteri PUPR Basuki Hadimuljono mengatakan pembangunan rumah ditargetkan selesai sebelum hari raya lebaran 1444 Hijriah.

Dream - Pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) akan membangun 2.400 rumah bagi korban gempa Cianjur. Pembangunan rumah ditargetkan selesai sebelum Lebaran 1444 Hijriah.

" Rumah sedang kita (proses pembangunan) mulai hari ini, semua akan kita selesaikan sebelum hari raya sehingga nanti hari raya pada bulan April, mereka sudah menempati rumah barunya," kata Menteri PUPR, Basuki Hadimuljono, di Jakarta, Minggu 4 Desember 2022.

Selain rumah, pemerintah juga akan membangun gedung-gedung fasilitas publik seperti sekolah, Gedung DPRD, rumah ibadah hingga Puskesmas. Gedung akan dibangun oleh Kementerian PUPR berada di atas lahan sekitar 300 hektare lebih, dan lokasinya tidak berada di satu titik.

" Satu di Kota Cianjur 2,5 hektare sekarang udah jalan untuk sekitar 200 rumah, yang 300 hektare untuk sekitar 2.400 rumah," ungkapnya.

1 dari 4 halaman

Pemerintah Kabupaten Cianjur sendiri telah menyiapkan lahan seluas 16 hektare di Desa Sirnagalih, Kecamatan Cilaku, untuk merelokasi warga yang rumahnya rusak berat akibat gempa. 

" Jadi 16 hektare telah disiapkan. Nanti bupati dan tim yang akan menentukan siapa dan penduduk mana yang akan pindah ke sini," kata Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto di Desa Sirnagalih, dalam keterangan tertulis diterima di Jakarta, Kamis, 1 Desember 2022.

Rumah yang lama tidak diperbolehkan lagi mereka huni. Warga yang rumahnya direlokasi akan mendapatkan ganti rumah di tempat yang telah disediakan.

Sumber: Merdeka.com

2 dari 4 halaman

Pengungsi Gempa Cianjur Mulai Didera Penyakit, Lansia Keluhkan Nyeri Lambung karena Gangguan Pola Makan

Dream – Korban terdampak Gempa Cianjur, Jawa Barat, yang menempati sejumlah tenda pengungsian mulai terjangkit berbagai penyakit. Sebagian besar pasien yang mendapat perawatan adalah kalangan Lanjut Usia (lansia) dan anak-anak.

Dokter Yan Fernandez Sembiring mengatakan, gangguan kesehatan tersebut dialami karena sarana dan prasarana di pengungsian yang minim.

Dia menyatakan kalangan lansia mulai merasakan keluhan seperti tubuh pegal dan sendi terasa linu. Mereka juga mengeluhkan nyeri lambung karena pola makan yang tidak teratur serta asupan gizi yang kurang baik.

3 dari 4 halaman

Tak hanya Lansia, anak-anak di pengungsian mulai mengalami diare dikarenakan faktor kebersihan yang minim, serta demam karena pola tidur dan gizi yang kurang seimbang.

“ Kami menemukan beberapa kasus seperti bayi dengan pneumonia berat dan korban bencana dengan luka yang tidak terawat. Sangat penting bagi kami menentukan apakah korban masih dapat ditangani di posko pelayanan kesehatan setempat atau perlu dirujuk ke rumah sakit terdekat,” ujarnya.

Menurutnya, warga di pengungsian memerlukan perhatian khusus mengingat setiap orang memiliki keluhan yang berbeda.

4 dari 4 halaman

Guna mengantisispasi keluhan kesehatan yang dialami warga, Tim Medis PT Pertamina Bina Medika Indonesia Healthcare Corporation (IHC) melakukan sejumlah tindakan untuk mengurangi risiko penyakit pascabencana.

Mulai dari pemeriksaan kesehatan berkala, pemberian paket obat Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA), paket pengobatan sendi, dan paket perawatan bayi.

Kemudian juga ada paket pengobatan alergi, paket kebersihan mulut, hingga paket untuk menjaga kebersihan tangan diberikan kepada warga sebagai bentuk pencegahan timbulnya penyakit.

Tim Medis IHC juga memberikan vitamin bagi anak dan dewasa agar dapat menjaga daya tahan tubuh dan meningkatkan metabolisme selama bertahan di pengungsian.

Beri Komentar
Jangan Lewatkan
More