BPS Catat Pengangguran di Indonesia Naik 50 Ribu Jiwa

Reporter : Muhammad Ilman Nafi'an
Selasa, 5 November 2019 17:42
BPS Catat Pengangguran di Indonesia Naik 50 Ribu Jiwa
Penyumbang terbanyak berasal dari lulusan SMK.

Dream – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah pengangguran mencapai 7,05 juta orang per Agustus 2019. Besaran ini mengalami kenaikan sebanyak 50 ribu jiwa dibandingkan Agustus 2018 sebanyak 7 juta.

" Jumlah penduduk usia kerja yang menganggur sebanyak 7,05 juta pada Agustus 2019," kata Kepala BPS, Suhariyanto, di Jakarta, Selasa 5 November 2019.

Namun demikian, Suhariyanto mengatakan angka pengangguran mengalami penurunan dari 5,34 persen pada Agustus 2018 menjadi 5,28 persen pada Agustus 2019.

Sementara, jumlah orang yang bekerja pada Agustus 2019 mencapai 126,51 juta jiwa, Angkanya naik 2,5 juta dari Agustus 2018 yang mencapai 124,01 juta.

Suhariyanto mencatat kenaikan jumlah orang bekerja sebanding dengan angka angkatan kerja yang bertambah. Menurut catatan, angkatan kerja pada Agustus 2019 mencapai 133,56 juta jiwa, naik 2,55 juta jiwa dari Agustus 2018.

1 dari 8 halaman

Lulusan SMK Sumbang Pengangguran Terbanyak

Suhariyanto mengatakan lulusan SMK menjadi kelompok yang paling banyak menganggur. Angkanya mencapai 10,41 persen.

Posisi berikutnya diisi lulusan SMA sebanyak 7,92 persen, diploma 5,99 persen, dan universitas 5,67 persen. Lulusan SMP menyumbang 4,75 persen angka pengangguran dan SD 2,41 persen.

Lebih lanjut, Suharyanto menjelaskan jumlah pekerja terbanyak berada di sektor pertanian sebesar 27,33 persen, perdagangan 18,81 persen dan industri pengolahan 14,96 persen.

Sementara, sektor yang paling minim jumlah tenaga kerjanya yakni bidang pengadaan listrik dan gas, hanya sebesar 0,28 persen.

2 dari 8 halaman

7 Juta Orang RI Masih Menganggur

Dream – Badan Pusat Statistik (BPS) merilis angkatan kerja pada Agustus 2016 sebanyak 125,44 juta orang. Angka ini terdiri atas 118,41 juta orang penduduk yang bekerja dan 7,03 juta orang yang menganggur.

“ Dibandingkan dengan Agustus 2015, jumlah penduduk yang bekerja naik 3,59 juta orang dan pengangguran turun 530 ribu orang,” kata Kepala BPS, Suhariyanto, di Jakarta, dilansir dari situs bps.go.id, Senin 7 November 2016.

Menurut data BPS, pada Agustus 2015, jumlah angkatan kerja naik dari 122,38 juta orang menjadi 125,44 juta orang pada Agustus 2016. Sementara itu, angkatan orang bekerja naik dari 114,82 juta orang pada Agustus 2015 menjadi 118,41 juta orang pada Agustus 2016.

Sebaliknya, angka orang menganggur turun dari 7,56 juta orang pada Agustus 2015 menjadi 7,03 juta orang pada Agustus 2016.

“ Jumlah angkatan kerja naik 3,06 juta orang,” kata dia.

Suhariyanto mengatakan hampir semua sektor mengalami kenaikan penyerapan tenaga kerja, kecuali sektor konstruksi yang turun 230 ribu orang. Kenaikan jumlah tenaga kerja tertinggi di sektor jasa kemasyarakatan sebanyak 1,52 juta orang, sektor perdagangan 1,01 juta orang, serta sektor transportasi, pergudangan, dan komunikasi sebanyak 500 ribu orang.

3 dari 8 halaman

Lulusan SMK Paling Banyak Menganggur

Suhariyanto mengatakan lulusan SMA paling banyak menganggur. Angka tingkat pengangguran terbuka (TPT) SMK paling tinggi, yaitu 10,11 persen, disusul oleh lulusan SMA yang sebanyak 8,73 persen. Angka TPT terendah justru terjadi kepada lulusan di tingkat SD.

“ Mereka yang berpendidikan rendah cenderung mau menerima pekerjaan apa pun, sementara  mereka yang berpendidikan lebih tinggi cenderung memilih pekerjaan yang sesuai,” kata dia.

Sekadar informasi, pada Agustus 2016, angka TPT tamatan tingkat SD ke bawah sebesar 2,88 persen, SMP 5,75 persen, SMA 8,73 persen, SMK 11,11 persen, Diploma 6,04 persen, dan Universitas 4,87 persen.

[crosslink_1]

4 dari 8 halaman

Ada Kartu Pra-Kerja di 2020, Pengangguran Akan Digaji?

Dream - Masih ingat dengan wacana pemerintah `menggaji` para pengangguran sebelum mereka mendapat pekerjaan? Program tersebut akan mulai diinisiasi pemerintah tahun depan.

Dalam penyampaian Nota Keuangan Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun 2020 di Gedung DPR/MPR, Senayan, Jakarta, Jumat, 16 Agustus 2019, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan pemerintah akan menginisiasi program kartu Pra-Kerja.

 

 

Menurut Jokowi, program tersebut dirancang untuk meningkatkan akses keterampilan bagi anak-anak muda, para pencari kerja, dan mereka yang mau berganti pekerjaan.

Para penerima kartu Pra-Kerja nantinya bisa memilih delapan jenis kursus yang diinginkan. Ke delapan kursus tersebut adalah pengetahuan tentang coding, data analytics, desain grafis, dan akuntansi.

Empat kursus lainnya adalah bahasa asing, barista, agrobisnis, hingga operator alat berat.

 

5 dari 8 halaman

Uang Kartu Sembako Naik Jadi Rp1,8 Juta

Tak hanya bagi para pencari kerja, pemerintah juga telah merancang program untuk memberikan perlindungan khususnya bagi 40 persen lapisan masyarakat terbawah. Para penerima mulai dari bayi yang masih dikandung sampai lanjut usia.

Rencananya, pada tahun 2020, Pemerintah akan menyalurkan anggaran pada 96,8 juta jiwa penerima bantuan iuran Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), melanjutkan

Program Keluarga Harapan (PKH) kepada 10 juta keluarga penerima manfaat, dan menyalurkan Bantuan Pangan Non-Tunai (BPNT) kepada 15,6 juta keluarga melalui kartu sembako.

Dengan kartu sembako, keluarga penerima manfaat dapat membeli dan memilih bahan pangan yang lebih beragam, karena jumlah bantuan yang diterima meningkat menjadi Rp1,80 juta per keluarga per tahun, dari sebelumnya sebesar Rp1,32 juta per keluarga per tahun.

6 dari 8 halaman

Jokowi Bakal Gaji Pengangguran Pakai Kartu Pra-Kerja, Nilainya?

Dream – Calon presiden nomor urut 01, Joko Widodo (Jokowi) memiliki program yang unik untuk membantu masyarakat yang masih menganggur. Lewat Kartu Pra-Kerja, Jokowi merancang program yang fokus untuk melatih keterampilan individu dan mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja.

Diharapkan programm ini akan mendorong penciptaan sumber daya manusia (SDM) premium yang mampu bersaing dengan dalam dan luar negeri.

" Saya tingkatkan keterampilan untuk pencari kerja dan Korban PHK. Untuk itu saya luncurkan kartu pra kerja," kata kata mantan gubernur DKI Jakarta itu, dikutip dari Merdeka.com, Selasa 5 Maret 2019.

Jokowi membidik 500 ribu orang mengikuti program ini pada 2019. Jumlahnya ditargetkan meningkat 4 kali lipat pada 2020 menjadi 2 juta orang.

Selain itu, Jokowi juga berjanji bakal memperkuat program balai latihan kerja. Dia menargetkan akan hadir 3000 balai latihan kerja tercipta pada 2020.

“ Akan kita luncurkan untuk program vokasi, re-skilling dan up skilling bagi pekerja, yang berganti pekerjaan,” kata dia.

Menariknya, program ini juga memberikan “ gaji” kepada para peserta.

7 dari 8 halaman

Pemerintah `Bayar` Pemegang Kartu yang Masih Nganggur

Jokowi meminta pemegang kartu prakerja yang belum mendapat pekerjaan dan telah mengikuti pelatihan, untuk tidak khawatir. Para pemegang kartu ini tetap akan mendapatkan bayaran.

“ Kalau belum dapat pekerjaan, kartu itu juga akan memberikan kayak honor, kayak gaji gitu,” kata dia.

Jokowi mengatakan jumlahnya masih dirahasiakan. “ Tapi jumlahnya berapa, masih kita rahasiakan,” kata dia.

8 dari 8 halaman

Untuk Lulusan SMA dan SMK

Jokowi menegaskan kartu ini khusus diberikan untuk anak muda lulusan SMA/SMK, perguruan tinggi, dan politeknik. Tujuannya agar anak-anak muda masuk ke industri untuk bisa mendapatkan pekerjaan.

“ Mengenai kartu pra kerja, kartu ini kita siapkan untuk anak-anak muda yang lulus dari SMA atau SMK maupun yang lulus dari politeknik/perguruan tinggi untuk bisa masuk ke industri untuk dapat pekerjaan,” kata dia.

Menurut Jokowi, para pemegang kartu ini nantinya akan mendapat pelatihan sehingga dapat meningkatkan kemampuannya. Pelatihan ini tidak hanya dilakukan di dalam negeri, namun juga di luar negeri. Semuanya dikerjakan oleh instruktur yang memiliki kualifikasi yang bagus.

“ Begitu lulus training mestinya kalau training bagus gampang sekali masuk dunia kerja,” kata dia.(Sah)

Beri Komentar
Istri Akui Cemburuan, Daus Mini: Coverboy Sih Nggak ya