Ilustrasi
Dream - Hantaman sentimen negatif dari bursa Wall Street benar-benar meruntuhkan bursa saham Indonesia. Kondisi dipersulit dengan langkah pemodal asing yang berblik melepas portofolionya.
Pada penutupan perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) Jakarta, Rabu, 28 Januari 2015, Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) bergeser ke zona merah dengan melemah tipis 0,114 poin (0,07%) ke level 171,089,.
ISSI sempat berupaya melawan tren aksi jual usai menyentuh teritori positif. ISSI sempat menyenggol level tertinggi 171,35. Sayang aksi jual yang marak memperlemah upaya penguatan tersebut.
Aksi jual beli saham syariah sepanjang hari ini melibatkan 33,17 miliar saham dengan transaksi bernilai Rp 3,58 triliun.
Meski melemah, penghuni indeks acuan saham syariah justru didominasi penguatan. Sebanyak 97 emiten bergerak menguat sementara 83 lainnya terkerek aksi jual.
Pelemahan juga melanda indeks saham bluechips syariah, Jakarta Islamic Index (JII) yang terkoreksi 1,624 poin (0,23%) ke level 706,085.
Berbeda dengan ISSI yang didominasi pelemahan, penghuni JII sebagian besar bergerak ke zona merah. Sebanyak 17 emiten JII terpeleset ke zona merah sementara 9 lainnya berhasil bertahan di teritori positif.
Sama dengan ISSI, JII juga sempat dilanda aksi beli dan menyentuh zona hijau. JII mencapai level tertingginya di 707,97.
Emiten tambang kali ini memimpin daftar pencetak kenaikan harga tertinggi dipimpin PTBA yang menguat Rp 125 dan ITMG Rp 75 per saham. Top gainer lainnya SMRA yang menguat Rp 45, WIKA Rp 45, dan PTPP Rp 20 per saham.
Lantai bursa Indonesia di pertengahan pekan ini memang tengah dilanda aksi jual pelaku pasar. Buktinya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 8,297 poin (0,16%) ke level 5.268,852.
Pelaku pasar mentransaksikan tak kurang dari 57,31 miliar saham dengan nilai Rp 5,51 triliun. Pemodal asing yang sejak akhir pekan lalu menggelar aksi beli kini justru berbalik melepas portofolionya.
Asing mencetak nilai jual bersih hingga Rp 424,02 miliar.
Emiten sektor perdagangan kali ini sanggup bertahan di tengah terpaan sentimen negatif dengan menguat 1,25 persen. Diikuti pertambangan 0,35 persen dan industr aneka 0,09 persen.
Sementara emiten yang bergerak di sektor keuangan justru menjadi pemberat laju indeks usai terkoreksi 0,70 persen. Diikuti pertanian 0,54 persen, barang konsumsi 0,49 persen, dan properti 0,34 persen.
Advertisement