Bank Syariah Indonesia Dorong Pertumbuhan Ekonomi 2021

Reporter : Arie Dwi Budiawati
Selasa, 12 Januari 2021 13:33
Bank Syariah Indonesia Dorong Pertumbuhan Ekonomi 2021
Ekonomi syariah dinilai bisa menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi.

Dream – Potensi pertumbuhan ekonomi yang kembali positif pada tahun ini harus dijaga dan direalisasikan. Perencanaan keuangan yang baik sesuai prinsip dan optimalisasi peluang bisnis syariah bisa dilakukan agar proyeksi pertumbuhan ekonomi positif pada 2021 bisa terwujud.

Kehadiran bank syariah besar di Indonesia dinilai bisa menjadi pintu masuk pertumbuhan ekonomi.

Dikutip dari keterangan tertulis, Selasa 12 Januari 2021, Rektor Institut Agama Islam Tazkia, Murniati Mukhlisin, mengatakan masyarakat bisa mulai merencanakan keuangan keluarganya sesuai koridor syariah agar bisa bertahan dan bangkit dari pandemi.

Selain itu, peluang bisnis syariah di bidang makanan dan minuman, pakaian, kosmetik dan farmasi, serta pariwisata juga bisa dimaksimalkan di tengah mulai munculnya momentum pertumbuhan industri ekonomi syariah di Indonesia.

“ Keuangan syariah termasuk fintech syariah sendiri sudah mendapatkan momentumnya, yang gerakannya langsung dipimpin oleh Presiden melalui KNEKS (Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah) untuk membawa Indonesia menjadi kiblat ekonomi dan keuangan syariah dunia pada tahun 2024,” kata Murniati di Jakarta.

Saat ini, Indonesia sudah dalam jalur tepat untuk memaksimalkan segala potensi ekonomi syariah yang ada. Salah satu buktinya, mulai tahun ini akan ada satu bank syariah besar yang lahir.

Bank tersebut bernama PT Bank Syariah Indonesia Tbk. Bank syariah itu merupakan hasil penggabungan usaha tiga bank milik anak usaha BUMN yakni PT Bank BRIsyariah Tbk., PT Bank BNI Syariah, dan PT Bank Syariah Mandiri.

1 dari 5 halaman

Pertanda Besar Potensi Perkembangan Ekonomi Nasional

Kehadiran Bank Syariah Indonesia adalah pertanda besarnya potensi perkembangan ekonomi nasional tahun ini didorong oleh industri syariah.

Menurut dia, kehadiran bank syariah besar dan penerapan sistem ekonomi syariah juga menguntungkan bagi masyarakat non-Muslim.

Murniati mencontohkan Qanun No. 11 Tahun 2018 tentang Lembaga Keuangan Syariah di Aceh. Regulasi ini mempermudah masyarakat untuk mendapatkan layanan keuangan syariah.

“ Sekali buka pintu, pelayanan keuangan yang ditawarkan kepada mereka semua adalah pelayanan syariah. Bagi non-Muslim menurut survei singkat beberapa hari ini, mereka mendapatkan kesempatan untuk tahu lebih tentang syariah, dan merasakan bahwa hal ini akan lebih menguntungkan bisnis mereka,” kata dia.

Saat ini, literasi dan edukasi keuangan keluarga dengan prinsip syariah secara daring terus mendapatkan kesempatan untuk semakin berkembang, dan menjangkau lebih banyak masyarakat. Ini tentunya berkat dukungan teknologi.

Peningkatan peserta talkshow, seminar dan pelatihan Sakinah Finance dalam 10 tahun terakhir membuktikan tingginya animo masyarakat untuk semakin membenahi keuangannya agar dijalankan sesuai prinsip syariah.

" Hal ini menunjukan animo para keluarga Indonesia untuk membenahi keuangannya semasa pandemi semakin tinggi supaya keuangannya lebih syariah dan berkah. Semoga pasca pandemi semangat ini akan terus meningkat,” kata dia.

Sebagai catatan, saat ini indeks literasi syariah nasional masih berada di angka 8,93 persen, jauh di bawah tingkat literasi masyarakat atas keuangan konvensional yakni 37,72 persen.

Kehadiran Bank Syariah Indonesia diharap bisa meningkatkan literasi keuangan syariah masyarakat ke depannya, dan membawa beragam produk serta layanan keuangan sesuai syariat Islam yang lebih terjangkau bagi masyarakat.

Bank syariah hasil merger memiliki visi menjadi satu dari 10 bank syariah terbesar berdasarkan kapitalisasi pasar secara global.

Selain itu, bank syariah hasil merger digadang akan memiliki total aset hingga Rp250 triliun dan masuk jajaran 10 besar perbankan di Indonesia.

2 dari 5 halaman

OJK: Bank Syariah Indonesia Bisa Jadi Katalis Potensi Daerah dan UMKM

Dream – Kehadiran PT Bank Syariah Indonesia Tbk diyakini bisa mendorong pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta masyarakat di daerah agar lebih mengenal dan menggunakan layanan keuangan syariah. Dengan pemanfaatan teknologi warisan tiga bank syariah yang merger, Bank Syariah Indonesia akan menjadi katalis pertumbuhan sektor ekonomi dan keuangan syariah.

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso mengatakan daya saing dan ragam produk keuangan syariah di Indonesia selama ini masih rendah. Kondisi ini pula yang menyebabkan akses serta pengetahuan masyarakat mengenai keuangan syariah masih terbatas.

Kehadiran Bank Syariah Indonesia dipercaya bisa mengikis masalah tersebut, dan berujung pada terciptanya kemaslahatan bagi masyarakat.

 

© Dream

 

“ Potensi untuk tumbuh itu ada di daerah, UMKM, dan mikro. Ini semua umat Muslim. Ini ruang tumbuh yang besar,” kata Wimboh dalam acara “ Sharia Business & Academic Sinergy”, dikutip dari keterangan tertulis, Sabtu 3 Desember 2020.

Dia mengatakan bahwa penting ada lembaga dan perbankan yang bisa mengakses ke daerah dengan teknologi. Karena ini, rencana penggabungan tiga bank syariah milik Himbara disambut baik.

“ Ini akan menjadi katalis perkembangan syariah di Indonesia,” kata Wimboh.

Apalagi, selama ini masyarakat kesulitan mendapat produk dan jasa keuangan syariah karena masalah jarak dan akses. Kehadiran Bank Syariah Indonesia yang bermodal besar bisa meniadakan masalah ini ke depannya.

3 dari 5 halaman

Pengembangan Teknologi Harus Jawab Kondisi Literasi Syariah

Wimboh menegaskan, pengembangan ekonomi dan keuangan syariah juga harus menjawab kondisi rendahnya literasi syariah nasional. Saat ini, indeks literasi syariah nasional masih berada di angka 8,93 persen, jauh di bawah tingkat literasi masyarakat atas keuangan konvensional yakni 37,72 persen.

“ Karena itu kita harapkan ke depan (Bank Syariah Indonesia) bisa akses ke segmen mikro dan UKM di daerah dengan cepat dibantu teknologi. Poin kedua, masyarakat kita adalah masyarakat illiterate,” kata dia.

Literasi syariah hanya 8,93 persen. Angka ini lebih rendah daripada konvensional yang hanya 37,72 persen.

“ Ini tantangan kita. Kalau tidak, mereka tidak paham aksesnya, penggunaan teknologinya, mengenali risiko tidak bisa. Kami sambut baik literasi ini sangat penting, terutama di daerah,” kata dia.

Menurut Wimboh, saat ini momentum kebangkitan ekonomi Islam dan keuangan syariah tengah terjadi. Untuk memanfaatkan momentum tersebut, kolaborasi dan sinergi harus dilakukan berbagai pihak.

4 dari 5 halaman

Kinerja Perbankan Syariah Cukup Stabil

Pada kesempatan yang sama, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan ketahanan perbankan syariah selama dan pasca-krisis terbukti lebih baik dibanding bank konvensional. Hal ini terbukti dari tingginya pertumbuhan aset, penghimpunan dana pihak ketiga, serta penyaluran pembiayaan perbankan syariah per September 2020 yang melampaui capaian industri perbankan konvensional.

“ Industri terutama perbankan syariah memang memiliki posisi yang cukup stabil dan memiliki loyalitas dari keseluruhan ekosistemnya,” kata Sri Mulyani.

Dia mengatakan kinerja ini bisa menjadi jembatan dan modal awal untuk mengembangkan ekosistem keuangan syariah yang berkualitas. Apalagi, resiliensi keuangan syariah juga bisa dilihat dari angka CAR atau rasio kecukupan modal dan NPF yang cenderung stabil.

“ Untuk CAR 23,5 persen dan NPF 3,31 persen,” kata dia.

5 dari 5 halaman

Segmen UMKM Jadi Prioritas

Direktur Utama Bank Syariah Indonesia sekaligus Ketua Project Management Office (PMO) Integrasi dan Peningkatan Nilai Bank Syariah BUMN Hery Gunardi menjelaskan, segmen UMKM akan menjadi prioritas kerja bank hasil merger pasca efektif berdiri nanti.

Dukungan Bank Syariah Indonesia bagi pelaku UMKM akan terwujud dalam penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang terjangkau dan mudah untuk mereka. Selain itu, Bank Syariah Indonesia akan menghadirkan berbagai produk dan layanan keuangan syariah yang sesuai dengan kebutuhan UMKM, agar mereka bisa lebih berkembang dan meningkat kesejahteraannya.

Bank Syariah Indonesia diproyeksikan menyalurkan pembiayaan untuk UMKM minimal 23 persen dari total portofolio pada Desember 2021. Setelah itu, porsi pembiayaan dan pelayanan bagi UMKM akan terus ditingkatkan melalui kerjasama dengan berbagai pihak.

“ Bank Syariah Indonesia akan menjadi bagian ekosistem dan sinergi pemberdayaan pelaku usaha UMKM, mulai dari fase pemberdayaan hingga penyaluran KUR Syariah. Dukungan bagi UMKM tidak akan berkurang, justru hendak ditambah dan diperkuat,” ujar Hery.

Beri Komentar