Baru Gabung Lima Bulan, Bos Gojek Vietnam Mundur

Reporter : Arie Dwi Budiawati
Senin, 23 September 2019 18:40
Baru Gabung Lima Bulan, Bos Gojek Vietnam Mundur
Lalu, siapa penggantinya?

Dream – Unit bisnis Gojek di Vietnam, Go-Viet, menghadapi sedikit sandungan. Perusahaan baru saja kehilangan salah satu petingginya Christy Trang Le yang mundur dari posisinya sebagai CEO Go-Viet.

Wanita yang bergabung dengan Go-Viet lima bulan yang lalu, memutuskan untuk berhenti dari perusahaan.

Dikutip dari Deal Street Asia, Senin 23 September 2019, Le bergabung dengan Go-Viet pada April 2019. Pengunduran diri Le dibuat pada bulan ini dan tak disertai dengan kabar siapa yang akan menggantikannya. 

Pengunduran diri Le menambah panjang daftar petinggi Go-Viet yang memilih angkat kaki, setelah CEO dan CTO-nya.

 Manajer Umum Go-Viet, Christy Le, mengundurkan diri.

“ Kami selalu bekerja keras untuk menemukan jalan yang bisa disepakati bersama. Tapi, kami belum melakukannya dalam hal ini. Kami berharap yang terbaik dalam bisnis pada masa depan,” kata Go-Viet tentang pengunduran diri Le.

Sekadar informasi, Le pernah bekerja sebagai Country Director Facebook di Vietnam. Sebelumnya, dia menjabat sebagai chief operating officer (COO) di Misfit—sebuah perusahaan startup yang didirikan sang suami. Aplikasi ini diakuisisi oleh Fossil Group pada 2015.

1 dari 6 halaman

Di Vietnam, Jokowi Hadiri Peluncuran Go-Viet

Dream - Presiden Joko Widodo menjadi saksi ekspansi aplikasi transportasi anak bangsa, Go-Jek ke Vietnam. Ini ditandai dengan hadirnya Jokowi di peluncuran Go-Viet di Melia Hotel Hanoi pada Rabu 12 Agustus 2018.

Go-Viet merupakan aplikasi transportasi berafiliasi dengan Go-Jek. Aplikasi ini dikembangkan khusus untuk pengguna di Vietnam.

" Go-Viet bertujuan bukan saja untuk memudahkan pengguna di Vietnam, tapi juga meningkatkan kesejahteraan para mitra," ujar CEO Go-Jek, Nadiem Makarim, dikutip dari setkab.go.id, Kamis 12 September 2018.

Jokowi mengapresiasi kerja sama Go-Jek dengan mitra lokal Vietnam. Dia menyampaikan ucapan selamat atas capaian yang diraih Go-Jek.

" Saya ingin mengucapkan selamat atas suksesnya Go-Jek kerja sama dengan Vietnam menjadi Go-Viet," kata Jokowi.

Selanjutnya, Jokowi menegaskan pemerintah terus mendukung perkembangan teknologi yang berasal dari dalam negeri. Terutama beragam teknologi itu bisa disebar ke berbagai negara.

" Sudah masuk ke sini (Vietnam) artinya teknologi dari anak-anak bangsa diterima masuk untuk negara-negara lain," ucap Jokowi.

Jokowi hadir di sela kunjungan kenegaraan ke Vietnam sekaligus penyelenggaraan World Economic Forum on ASEAN, Hadir di peluncuran Go-Viet Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara, Kepala BKPM Thomas Trikasih Lembong, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, CEO Go-Jek Nadiem Makarim, dan CEO Go-Viet Nguyen Vu Duc.  (ism)

2 dari 6 halaman

Gojek Diizinkan Mengaspal di Malaysia

Dream - Pemerintah Malaysia telah memberi lampu hijau kepada Go-Jek untuk beroperasi di negeri jiran itu. Persetujuan itu diambil dalam rapat kabinet yang digelar Rabu lalu, setelah melalui diskusi panjang.

" Kabinet secara prinsip telah setuju penerapan layanan Go-Jek," kata Menteri Pembangunan Kewirausahaan Malaysia, Datuk Seri Mohd Redzuan Yusof, dikutip dari The Star, Kamis 22 Agustus 2019.

 

 

Malaysia telah memerintahkan kementerian Pemuda dan Olah Raga serta Kementerian Transportasi untuk merevisi maupun membuat peraturan yang memungkinkan ojek motor beroperasi di negaranya. Proses ini, kata Mohd Redzuan, butuh waktu satu atau dua bulan.

Mohd Redzuan mengatakan, pelegalan ojek motor sangat penting bagi Malaysia. " Kami ingin memastikan apapun yang kami terapkan untuk membangun perekonomian pemuda kami, ini tidak melanggar hukum," tegas dia.

3 dari 6 halaman

Tapi, Ditentang Sopir Taksi

Namun, kebijakan ini ditentang oleh para pengemudi taksi di Malaysia. Mereka menyebut layanan ini bisa mengurangi pendapatan para sopir taksi.

Presiden Gabungan Persatuan Taksi, Mobil Sewa, dan Taksi Bandara Malaysia, Kamaruddin Mohd. Hussain, mengatakan, keputusan untuk memperbolehkan Gojek di Malaysia, diambil tanpa mendengarkan opini para sopir taksi.

" Keputusan ini bisa membuat para pengemudi taksi kehilangan pendapatannya. Yang lebih buruk, keselamatan orang-orang bisa berada dalam bahaya," kata Kamaruddin.

Dia juga kecewa dengan keputusan pemerintah.

" Kami kecewa karena masalah taksi online tak kunjung diselesaikan. Ini lagi ditambah ojek online. Apa yang akan terjadi kepada industri transportasi publik di negara ini," kata Kamaruddin kepada Sinar Harian.

4 dari 6 halaman

Layanan Transportasi Harus Mengutamakan Keselamatan Masyarakat

Kamaruddin mengatakan, para pengemudi taksi bukannya menolak perkembangan teknologi. Mereka berpikir pemerintah seharusnya memastikan apapun layanan yang diperkenalkan seharusnya mengikuti hukum dan memprioritaskan keselamatan orang-orang.

" Jika Perdana Menteri, Mahathir Mohammad, bisa meluangkan waktu untuk bertemu dengan menteri-menteri lain tentang penjelasan ojek online, dia juga seharusnya bisa mengalokasikan waktu untuk bertemu dengan kami dan mendengarkan masalahnya," kata dia.

Sekadar informasi, para pengemudi protes terhadap layanan taksi online, seperti Grab dan MyCar. Beberapa pengemudi taksi online dikabarkan diserang dan diusir karena menurunkan atau menaikkan penumpang sebelum pemerintah mengimplementasikan SIM PSV untuk para sopir taksi online.

5 dari 6 halaman

Ojek Online Jadi Moda Transportasi Favorit Publik, Pilih Gojek atau Grab?

Dream - Komunitas Konsumen Indonesia (KKI) melakukan survei terkait moda transportasi darat urban pilihan masyarakat perkotaan. Dalam survei ini, KKI melakukan survei dengan 625 responden dari 15 kota/kabupaten di 6 provinsi.

Hasil survei dilakukan sejak Februari-April 2019 menunjukan masyarakat menilai moda transportasi perkotaan saat ini mulai membaik. 

" Semakin baik dibanding beberapa tahun lalu," ujar Ketua KKI, David M.L Tobing di Jakarta, Selasa 30 Juli 2019.

Dari survei yang sudah dilakukan terungkap peralihan moda transportasi masyarakat di perkotaan. Saat ini, masyarakat lebih banyak menggunakan jasa transportasi online, baik itu ojek online (ojol) ataupun taksi online untuk aktivitasnya.

 Survei: Transportasi Online Jadi Favorit Masyarakat

Sebanyak 91,7 persen dari sample survei menyatakan banyak menggunakan moda transportasi ojek online. Sementara 40 lainnya memilih memakai taksi online. 

Moda transportasi pilihan masyarakat perkotaan lainnya adalah kereta listrik sebanyak 33,4 persen dan Bus Trans sebesar 25,1 persen.

" Bus Trans ini bukan TransJakarta saja ya, karena ini di kota lain ada bus Trans," jelas Kepala Divisi Research and Development KKI, Imran Gunawan.

6 dari 6 halaman

Brand Ojol Mana yang Sering Dipakai?

Dari total 91,7 persen pengguna ojek online, KKI menemukan 36 persen diantaranya merupakan pengguna setiap Gojek. Sementara Grab banyak dipakai 32 persen sample. 

" Dan pengguna keduanya (Gojek dan Grab) 32 persen," ujar dia.

Saat menentukan brand Ojol yang akan digunakan, masyarakat memiliki beberapa kriteria dengan faktor utama terbesar adalah harga murah. Diikuti faktor keamanan, layanan lebih bisa diandalkan, lebih ramah pelayanannya, kenyamanan dan kebersihan.

Dari 625 respon yang disurvei, total ada 55 persen wanita lebih banyak menggunakan transportasi online dan pria sebanyak 45 persen.

Menurut Imran, seiring dengan lebih banyaknya perempuan menggunakan layanan transportasi online, sejalan juga dengan tingginya risiko lecelakaan yang akan mereka alami. Sebanyak 10,9 persen persen pengguna ojek online dari kedua brand besar di Indonesia pernah mengalami kecelakaan.

Beri Komentar
Kenangan Reza Rahadian Makan Siang Terakhir dengan BJ Habibie