Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Bisa Nggak Wahyu Ningsih Jadi CEO Microsoft?
Jika Guru Digaji Lebih Layak, Apakah Kualitas Pendidikan Indonesia Akan Meningkat?
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Pangeran Mutaib Al Saud (kanan) Bersama Pangeran Charles (kiri). (Foto: Houseofsaud.com)
Dream – Mutaib al-Saud menjadi pangeran Arab Saudi pertama yang bisa menghirup udara usai keluar dari penjara “antikorupsi” di Hotel Ritz Carlton, Arab Saudi. Dia bebas setelah membayar tebusan US$10 miliar (Rp135,35 triliun).
Dilansir dari Al Arabiya, Sabtu 2 Desember 2017, putra mendiang Raja Abdullah dan Menteri Keamanan Nasional Saudi itu ditahan pada awal November sebagai bagian dari operasi bersih-bersih terhadap pangeran dan pengusaha yang terlibat suap dan korupsi.
Menurut sumber dari pihak oposisi Saudi, Pangeran Mutaib ditahan setelah terlibat “suap dalam jumlah yang fantastis”. Agar bebas dari tahanannya, Pangeran Mutaib menyerahkan uang tebusan senilai US$10 miliar kepada Kerajaan Arab Saudi.
Dia tidak membayar uang tebusan tersebut sendiri. Tapi kedua saudara dan teman-temannya mengumpulkan uang yang digunakan untuk menebus dirinya. Selain uang, aset Pangeran Mutaib, seperti hotel di Prancis dan tanah di Saudi, juga turut disita oleh kerajaan.
Mantan kepala protokol kerajaan, Mohammed al-Tubaishi, juga ikut dibebaskan tak lama setelah Pangeran Mutaib bebas.Dia meninggalkan Hotel Ritz-Carlton setelah mencapai kesepakatan dengan Raja Salman.
Menurut The New Arab, Al-Tubaishi menyerahkan tebusan senilai 6 miliar riyal (Rp21,65 triliun) agar bisa bebas dari hotel mewah itu.
Sumber tersebut menambahkan bahwa lebih banyak tahanan akan dilepaskan dalam beberapa hari mendatang. Sekira 95 persen tahanan telah mencapai kesepakatan finansial dengan Raja Salman agar bisa dibebaskan.
Sementara itu, nasib Pangeran Alwaleed bin Talal saat ini tidak diketahui karena tidak jelas apakah dia telah mencapai kesepakatan atau tidak.
Lebih dari 200 orang ditahan oleh kerajaan karena dianggap melakukan penggelapan pajak dan korupsi senilai US$100 miliar (Rp1.353,58 triliun). Ini adalah operasi pembersihan elit kerajaan terbesar dalam sejarah modern Arab Saudi.Tapi, banyak yang menduga bahwa pembersihan itu bukan tentang korupsi. Tapi lebih banyak karena uang dan perebutan kekuasaan.
Awal bulan ini, pejabat Amerika Serikat menyatakan keprihatinan atas tindakan 'sembrono' Raja Salman dalam beberapa pekan terakhir.
Raja Salman dianggap sedang mengkonsolidasikan kekuasaannya di Arab Saudi, bukan membersihkan pejabat dan pengusaha yang terlibat dalam skandal korupsi dan penggelapan pajak
Advertisement

Benarkah Kecerdasan Manusia Menurun? Studi Ungkap Tren Mengkhawatirkan Sejak 2012

Mengapa Anak Suka Makan Upil? Sains Punya Penjelasan di Balik Kebiasaan Ini

Kurang Tidur Bisa Ganggu Gula Darah dan Kesehatan Jantung, Olahraga 10–15 Menit Ini Bisa Membantu

Sering Buang Angin Tanpa Sebab Jelas? Kebiasaan Mengunyah Permen Karet Bisa Jadi Pemicunya

Berawal dari Penyakit Misterius dan Mayat Membusuk, Begini Sejarah Mitos Vampir yang Mendunia

IHSG Lanjutan Menguat ke Level 5.387, Saham Bank Pelat Merah Bermekaran

Teori Lipstik: Mengapa Penjualan Lipstik Mewah Bisa Meningkat Saat Ekonomi Memburuk?