Cerita Sales Jualan Masker dari Gaji Terakhir

Reporter : Arie Dwi Budiawati
Kamis, 16 April 2020 06:41
Cerita Sales Jualan Masker dari Gaji Terakhir
Tak ada pesangon, hanya andalkan gaji Maret 2020.

Dream - Ketika wabah corona sudah ramai dan memakan banyak korban di negara-negara tetangga, kondisi Indonesia saat itu masih terbilang 'tenang'.

Padahal di negara-negara lain, wabah ini telah berdampak besar pada ekonomi negara. Benar saja, ketika virus corona masuk ke Indonesia, banyak pekerja yang mendapat surat perintah dirumahkan dari atasannya.

Salah satunya Bayu asal Jakarta. Dirinya sudah mengaku pekerjaannya akan terancam apabila pandemi ini masuk ke Indonesia.

Bekerja sebagai sales salah satu kartu kredit dengan gaji pokok dan lebih mengandalkan gaji insentif, baginya, pandemi ini merupakan bencana ekonomi bagi kehidupannya.

Pada 1 April 2020 lalu, Bayu menerima surat dari atasan untuk merumahkan sebagian karyawan akibat kondisi keuangan perusahaan yang menurun drastis.

" Gue udah ngerasa semenjak virus corona rame di Wuhan dan negara tetangga. Tapi ya gue pada saat itu cuman bisa pasrah dan percaya kepada pemerintah Indonesia tidak akan masuk, eh ternyata kebobolan juga," ujar Bayu kepada merdeka.com, dikutip Rabu 15 April 2020.

1 dari 4 halaman

Jualan Masker dengan Gaji Terakhir

Walaupun dirumahkan hingga pandemi ini selesai, tanpa mendapat pesangon dari perusahaan membuatnya kesulitan.

Ia bertahan hidup hanya dari hasil gaji bulan Maret lalu. Dirinya mengaku telah menyepakati keputusan perusahaan untuk merumahkan dirinya.

 

 

" Cuman dapet hasil kerja bulan kemarin, sekarang kita bisa survive dengan hasil gaji kita gimana caranya puterin terus," kata dia.

Bayu menggunakan penghasilannya bulan lalu dengan berjualan masker dan hand sanitizer via online.

2 dari 4 halaman

Montir Ini Juga Rasakan Getah Virus Corona

Hal serupa juga dialami Satri. Dia terpaksa di-PHK sebagai montir mobil di Jakarta akibat omset bengkel tempatnya bekerja mengalami penurunan.

" Terpaksa di PHK karena bengkel sudah tidak mampu bayar lagi, padahal baru dapet kerja di awal tahun ini. Tapi saya paham kondisinya memang sulit," kata Satrio.

Dari lima pekerja di bengkel Satrio kerja, pemilik bengkel terpaksa harus merumahkan tiga karyawannya termasuk Satrio, karyawan baru dan muda.

Namun ia mengaku, kehidupannya masih lebih baik karena ia masih lajang dan kehidupan sehari-hari masih bisa ditanggung orang tua.

" Alhamdulillah belum ada tanggungan masih bisa minta orang tua walaupun itu engga enak. Jadi lima tiga dirumahkan, tapi saya paham keputusan bos karena kita masih muda dan masih bisa lah cari-cari kerja," kata dia.

" Jadi biar keahlian tetap terasa, saya buka aja jasa servis lewat temen-temen di sosmed aja. Dan alhamdulillah kadang ada yang mau, lumayan hasil servisnya kan engga kalah lah sama bengkel beneran," tambah Satrio.

Bayu dan Satrio merupakan salah satu dari sekian banyak korban PHK akibat pandemi corona yang terjadi di Tanah Air. Hal ini sungguh memilukan.

3 dari 4 halaman

Berharap Dari Kartu PraKerja

Bayu dan Satrio bisa dibilang sangat membutuhkan pekerjaan untuk mendapatkan pemasukan ekonomi secara konsisten. Tidak hanya mengadu nasib lewat penjualan maupun jasa usaha mandiri yang mereka lakukan.

Saat ditanya tentang Kartu PraKerja, Bayu dan Satrio telah mendaftar untuk mengikuti program tersebut.

Bayu sendiri cukup bersemangat terkait program itu. Mungkin itu adalah jalan baginya untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik ditempat lain.

Akan tetapi, ia sangat menyayangkan adanya selektivitas dalam mengikuti program Kartu PraKerja. Dalam kondisi seperti ini, pengagguran semakin banyak dan bertambah. Bagaimana nasib orang-orang yang tidak lolos seleksi?

" Sudah daftar di hari pertama, tapi yang jadi pertanyaan saya itu ini kan diluncurin niatnya kalo dilihat pemerintah buat bantuan masyarakat akibat corona. Tapi kenapa make seleksi, harusnya ya dibuka aja semuanya. Dengan kategori aja yang disesuaikan bukan seleksi, nanti yang engga lolos gimana," imbuh Bayu.

4 dari 4 halaman

Mantapkan Niat Ikuti Program Kartu Prakerja

Bayu mengaku niatnya dalam mengikuti program ini karena kondisinya yang tidak memiliki pekerjaan tetap.

" Saya ikut karena saya kena dampak corona. Kalau saya engga kena dampak saya engga ikut program tersebut, lebih baik dikasih ke yang lain," ujarnya.

Bayu hingga kini telah mengikuti beberapa tahap pengisian form hingga ujian online. Ia tinggal menunggu kabar lulus atau tidak pada 16 April 2020 nanti.

Hal yang sama juga dilakukan oleh Satrio. Ia berharap dapat mengikuti program kartu prakerja dan berharap mendapat skill serta link kerjaan dikemudian hari.

" Udah daftar, tinggal nunggu pengumuman. Soalnya lumayan bisa mengisi waktu luang yang produktif. Dapet duit lagi, semoga aja masuk," kata Satrio.

Rasa antusiasme yang dirasakan Satrio karena pemerintah tidak hanya menyiapkan pelatihan, tetapi juga melakukan penyaluran pekerja.

Menurutnya, kalau hanya mengandalkan pelatihan-pelatihan dari program Kartu Prakerja ini masih sangat berat jika diajak bersaing dengan lulusan perguruan tinggi yang punya skill lebih.

" Karena kalo cuman membuat pelatihan bisa cuman buang-buang anggaran, karena persaingan juga berat apalagi dengan mahasiswa. Jadi saya mah, lebih mengharapkan chanel kerjaan," kata Satrio.

Beri Komentar