Dream - Tidak ingin meningkatkan pinjaman bermasalah, BNI Syariah hanya berani menawarkan pembiayaan untuk rumah pertama yang harganya di atas Rp 500 juta. Hal ini disebabkan nasabah yang mengajukan pembelian rumah untuk kategori tersebut memiliki keuangan yang cukup kuat.
Dengan begitu, tidak akan berpengaruh pada kenaikan harga barang atau Bahan Bakar Minyak (BBM) yang digadang-gadangkan terjadi tahun depan. Demikian disampaikan Direktur Utama BNI Syariah Dinno Indiano di Jakarta, Senin 27 Oktober 2014.
" Yang terkena dampak BBM itu biasanya golongan marginal, tapi ekspansi kami ke rumah yang kisarannya Rp 500 juta-an dan biasanya debitur untuk rumah ini bisa menyisihkan sekitar 40-50% dari pendapatannya, jadi kami yakin kalau ada kenaikan BBM sebesar Rp 3.000 maka tidak akan berdampak pada kualitas bisnis," ujarnya.
Selain itu, Dinno menyatakan pembiayaan untuk rumah pertama ini memiliki sedikit risiko karena kebanyakan para debitur menggunakan rumah pertama sebagai tempat tinggal bukan suatu aset investasi sehingga mereka akan mengupayakan sekuat tenaga untuk pelunasannya.
" Kita bermain di griya hampir 5 tahun dengan berbagai macam permasalahan termasuk biaya hidup meningkat dari kenaikan harga BBM misalnya. Tapi selagi kita konsisten dengan rumah pertama, ini paling aman, karena debitur berusaha supaya rumah pertama ini tidak hilang, ini secara psikologisnya. Kita bahkan belum pernah hapus buku sejak 5 tahun lalu," tegasnya.
Direktur Bisnis BNI Syariah Imam Teguh Saptono menambahkan pihaknya memiliki potensi yang besar untuk masuk dalam pembiayaan jenis rumah seperti itu. Pasalnya, kebutuhan rumah masih cukup besar dan jauh dari spekulasi harga.
" Segmen rumah ini masih sangat besar backlog-nya, sebanyak 15 juta kebutuhannya. Jadi kami tidak khawatir (tidak dapat melakukan ekspansi). Selain itu rumah pertama ini jauh dari faktor spekulasi karena bubble itu potensi di rumah kedua, ketiga dan seterusnya, rumah pertama jauh dari bubble," tambahnya.