109 Negara Rembukan di ISEF 2019 Rancang Standardisasi Halal Dunia

Reporter : Arie Dwi Budiawati
Rabu, 13 November 2019 10:20
109 Negara Rembukan di ISEF 2019 Rancang Standardisasi Halal Dunia
Para peserta bertukar pikiran untuk membuat standar halal yang bersifat internasional.

Dream - Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2019 resmi digelar di Jakarta. Salah satu agenda penting yang dibahas di event yang pertama kali digelar di ibukota ini adalah sertifikasi halal yang akan berlaku secara internasional.

Kepala Badan Penyelenggara Jaminan Halal (BPJH), Matsuki, mengatakan standar kehalalan di setiap negara tidaklah sama. Untuk itulah, negara-negara di dunia berkumpul di acara ini untuk menyamakan standar kehalalan.

" Kolaborasi halal yang secara internasional sudah menjadi kesadaran bersama karena itu kebutuhan-kebutuhan dari berbagai negara untuk menyatukan standar kehalalan," ujar Matsuki di Jakarta, Selasa 12 November 2019.

Acara “ 1st International Halal Dialogue 2019” dihadiri oleh 109 negara. Para pesertanya berasal dari lembaga-lembaga sertifikasi halal, baik berstatus lembaga swadaya masyarakat maupun lembaga di bawah pemerintah.

Kemudian, kata Matsuki, Indonesia mendapatkan banyak pertanyaan dari negara-negara lain tentang pemberlakuan wajib sertifikasi halal. Sekadar informasi, wajib sertifikasi halal diberlakukan di Indonesia untuk produk makanan dan minuman mulai 17 Oktober 2019.

(Laporan: Sania Suha Marwan)

1 dari 5 halaman

Mampukah Jaminan Produk Halal Tingkatkan Ekonomi Rakyat?

Dream - Menteri Agama, Fachrul Razi, mengatakan, jaminan produk halal (JPH) merupakan amanah undang-undang untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat.

" Regulasi mengamanahkan agar jaminan produk halal bisa meningkatkan nilai tambah ekonomi dan meningkatkan daya saing pelaku usaha dalam memproduksi dan menjual produk halal kepada masyarakat," kata Fachrul, dikutip dari laman Kemenag, Selasa 12 November 2019.

Menurut Fachrul, sertifikasi halal sudah menjadi kepentingan nasional. " Bukan urusan individu warga negara semata," ujar dia.

Sementara, Deputi Gubernur Bank Indonesia, Rosmaya Hadi, menilai penerapan jaminan produk halal di Indonesia memiliki prospek yang baik jika dilihat dari sisi perkembangan ekonomi. Ini mengingat produk halal memiliki pasar yang sangat menjanjikan.

" Berdasarkan State of The Islamic Report 2018/2019, estimasi pengeluaran global untuk industri halal pada 2023 cukup besar," tutur Rosmaya.

Pengeluaran tersebut terbagi dalam tiga besaran. Pertama, makanan halal sebesar US$1,8 miliar (setara Rp25,3 triliun). Kedua, pariwisata halal sebesar US$274 juta (setara Rp3,9 triliun). Sedangkan ketiga, fesyen halal sebesar US$361 juta (setara Rp5,1 triliun).

Bila potensi pasar produk halal sedemikian besar, mampukah Jaminan Produk Halal menjadikan industri kita sebagai pelaku utama?

2 dari 5 halaman

Wapres Harap Biaya Sertifikasi Halal Tak Bebani UMKM

Dream – Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJH) diharapkan bisa meringankan biaya proses sertifikasi halal. Harapannya, semua pihak dapat memenuhi syarat untuk mendapat sertifikasi tanpa terbebani.

" Sedikit-sedikit kalau UKM ini dibantulah, sehingga jangan terlalu mahal. Itu menteri keuangan lah cross subsidi (subsidi silang) saja antara yang besar dan yang kecil. Sehingga semua memenuhi syarat," kata Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK), di Jakarta, dikutip dari Merdeka.com, Rabu 16 Oktober 2019.

JK mengatakan, pengusaha juga akan merogoh banyak ongkos jika produksi barangnya kecil. “ Kalau perlu, yang kecil ini betul-betul harus rendah ongkosnya supaya terjadi yang baik," kata dia.

Sertifikasi halal itu berlaku untuk semua orang, termasuk Usaha Mikro Kecil Menengah. Dia juga meminta ada sinkronisasi aturan antar kementerian/lembaga yang terlibat.

“ Sehingga masyarakat kita akan memperoleh produk yang halal dan baik. Itu kepentingannya. Karena juga betul untuk makanan minuman," kata dia. (ism)

3 dari 5 halaman

Usulan Dipertimbangkan

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengaku akan mempertimbangkan usulan JK. Menurut dia, sertifikasi halal jangan sampai memberatkan pelaku usaha khususnya usaha kecil.

Oleh karena itu, pihaknya akan memfasilitasi untuk para UKM yang akan mendaftar. " Oleh karenanya pengusaha kecil dan mikro pembiayaan kita dalami lagi. Ada tahapan-tahapan selanjutnya," kata dia.

4 dari 5 halaman

Mengintip Kesiapan BPJPH Jelang Penerapan Sertifikasi Halal

Dream - Undang-Undang Jaminan Produk Halal harus diterapkan pada 17 Oktober mendatang. Namun sejumlah kelengkapan untuk menerapkan UU tersebut belum siap.

Salah satu yang belum tersedia adalah Peraturan Menteri Agama (PMA) tentang JPH. Hingga kini, PMA belum juga kelas juga.

“ Sebelum tanggal 17 Oktober ini sudah selesai, lah,” ujar Kepala BPJPH, Sukoso, di Jakarta, Senin 14 Oktober 2019.

UU Nomor 34 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal (JPH) disahkan pada 17 Oktober 2014. Berdasar ketentuan, UU itu berlaku lima tahun setelag diundangkan. Artinya, UU itu berlaku efektif pada 17 Oktober 2019.

Sukoso menjelaskan, lamanya proses pengesahan PMA karena harus saling berkoordinasi dengan kementerian dan lembaga terkat. Dikatakan bahwa kesulitan yang dihadapi adalah banyaknya kementerian dan lembaga yang terlibat.

“ Kalau kami, sudah tiga bulan yang lalu selesai. Tapi, itu, kan, harus harmonisasi komunikasi dan itu membutuhkan kesabaran,” kata dia.

5 dari 5 halaman

SDM Siap?

Dari sisi sumber daya manusia (SDM), Sukoso menjamin sudah siap. Nantinya, BPJPH akan menggandeng kantor kementerian wilayah yang ada di kabupaten/kota dan LPPOM MUI sebagai Lembaga Pemeriksa Halal (LPH).

Sukoso berujar, orang yang bekerja sebagai auditor halal di LPH nantinya akan dibina terlebih dahulu oleh MUI. " Kemudian masalah kurikulum auditor halal yang ngajar juga MUI. Jadi alhamdulillah 240 orang yang dihasilkan itu kita bicarakan bersama dengan MUI," kata dia.

Dari sisi sistem informasi yang nantinya akan digunakan untuk pendaftaran secara online, Sukoso juga mengaku sudah siap digunakan.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, skema pendaftaran nantinya akan dilakukan secara online kepada BPJPH. Setelah itu, BPJPH akan mengirimkan berkas kepada LPPOM MUI untuk melakukan audit LPH kepada pemohon.

Apabila LPH sudah selesai, masuk pada tahap sidang fatwa yang dilakukan oleh MUI. Hasil sidang fatwa itu akan menentukan produk tersebut halal atau haram. Setelah sidang fatwa halal tersebut keluar, kembali dikirimkan ke BPJPH untuk dikeluarkan sertifikat halalnya.

Beri Komentar
Tutorial Ikuti Audisi LIDA 2020 Indosiar di KapanLagi Lewat Handphone