Belajar dari SBY, Begini Cara Ubah Janji Kampanye Menjadi Program Nyata Pemerintahan
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Bisa Nggak Wahyu Ningsih Jadi CEO Microsoft?
Jika Guru Digaji Lebih Layak, Apakah Kualitas Pendidikan Indonesia Akan Meningkat?
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Ilustrasi
Facebook menggunakan kecerdasan buatan untuk hentikan penyebaran hoaks dan ujaran kebencian.
Dream - Facebook menegaskan komitmennya takkan memberikan ruang gerak bagi upaya penyebaran berita bohong atau konten berisi ujaran kebencian di Indonesia. Head of Community Affairs Facebook untuk kawasan Asia Pasifik, Clair Deevy, tak ada toleransi sedikitpun untuk konten seperti itu.
“Kami zero-tolerance tentang hate-speech ataupun kelompok yang menyebarkan kebencian. Facebook bekerjasama dengan dengan pemerintah untuk menangani konten-konten seperti itu,” ujar Deevy di Jakarta, dikutip dari Anadolu Agency, Selasa, 27 Februari 2018.
Deevy berharap para pengguna Facebook di Indonesia berani melapor jika melihat langsung konten bermuatan ujaran kebencian tersebar. Platform sosial media milik Mark Zuckerberg ini ini telah menyediakan fitur untuk memudahkan pengguna membuat laporan.
“Tidak ada ruang sama sekali di Facebook untuk hal tersebut. Itu sudah jelas tertera dalam aturan penggunaan Facebook,” ucap Deevy.
Fitur pelaporan yang digunakan Facebook yaitu analisis foto DNA. Selain itu, ada juga teknologi kecerdasan buatan yang dipasang Facebook sebagai penyaring konten negatif.
“Kami pastikan pada setiap pengguna, bahwa setiap foto memiliki jejak digital yang bisa dilacak,” kata dia.
Untuk menangani penyebaran konten negatif, Facebook menggandeng Yayasan Cinta Anak Bangsa (YCAB) dan Do Something Indonesia. Tiga lembaga ini menggagas kampanye edukatif dan cerdas dalam menggunakan media sosial.
Deevy mengatakan program Think Before You Share yang digalakkan Facebook dibuat agar remaja Indonesia memiliki kemampuan dasar dan akses ke sumber referensi yang mereka butuhkan.
Selain itu, Deevy memastikan Facebook juga bekerjasama dengan aparat penegak hukum untuk memproses laporan-laporan yang diterima.
(Beq/Sah)