Gairah Korporasi Keluarkan Surat Utang Syariah Berkurang

Reporter : Syahid Latif
Rabu, 10 September 2014 17:00
Gairah Korporasi Keluarkan Surat Utang Syariah Berkurang
Penerbitan surat utang syariah di pusat ekonomi syariah dunia (Malaysia dan Timur Tengah) turun sepanjang delapan bulan terakhir.

Dream - Penerbitan surat utang syariah (sukuk) korporasi dan infrastruktur cenderung terus menurun tahun ini di kawasan Teluk dan Malaysia. Penurunan ini terjadi di tengah dukungan kondisi pasar seperti suku bunga rendah dan tingginya minat investor.

Laporan terbaru Standard & Poor Ratings Services menunjukan, penerbitan sukuk di kawasan Teluk turun 33 persen dalam delapan bulan pertama tahun ini menjadi US$ 6,5 miliar.

Kinerja sedikit lebih baik terjadi di Malaysia yang merupakan pasar sukuk korporasi dan infrastruktur terbesar dunia. Penerbitan sukuk di Negara Jiran ini hanya turun sekitar 7 persen dibandingkan periode yang sama setahun sebelumnya.

Di saat korporasi ragu-ragu menerbitkan surat utang syariah, jumlah penerbitan sukuk baik dari lembaga keuangan maupun dan pemerintah justru tampil jauh lebih baik. Sukuk ini tumbuh sebesar 19 persen di negara Teluk dan 6 persen di Malaysia.

Standard & Poor Ratings Services menilai penurunan sukuk korporasi dan infrastruktur kemungkinan terkait banjirnya likuiditas perbankan yang cukup murah sehingga membuat emiten kurang bergantung pada pasar modal.

Sebagai catatan, porsi pinjaman dana kawasan Teluk telah meningkat dari hanya di bawah 50 persen pada 2012 menjadi lebih dari 60 persen dari total pendanaan pada tahun 2014. Sukuk korporasi dan infrastruktur cenderung beralih menjadi obligasi konvensional. Hal ini didasarkan pada tingkat penerbitan di kuartal kedua dan ketiga tahun ini dibandingkan dengan pada kuartal keempat tahun 2013, ketika sukuk mendominasi.

Sejumlah kecil entitas sukuk korporasi dan infrastruktur yang saat ini menerbitkan sukuk di Teluk dan Asia menjadi penyebab lain dari menurunnya penerbitan.

Saat ini tercatat penerbitan sukuk korporasi dan infrastruktur sebagian besar dilakukan perusahaan Malaysia dan Arab Saudi. Laporan tersebut memperkirakan sekitar US$ 17 miliar sukuk di Teluk akan jatuh tempo antara Juli 2014 dan Desember 2016, setara 65 persen dari penerbitan utama tahun sampai dengan 31 Desember 2013.

Beri Komentar