Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Dream - Di tengah perlambatan ekonomi dan kondisi pasar saham yang belum kondusif akibat beberapa isu global, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) mengeluarkan beberapa kebijakan jangka pendek. Hal ini sebagai respon dari kondisi pasar saham yang mengalami tekanan pada awal minggu keempat bulan Agustus ini.
Seperti dikutip dalam keterangan pers BEI, Kamis, 27 Agustus 2015, ada 6 policy responses jangka pendek ini. Pertama, OJK memperbolehkan buyback saham Emiten tanpa menyelenggarakan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Kedua, BEI menerapkan penyesuaian batas bawah auto-rejection menjadi sebesar 10%.
Ketiga, BEI melakukan peningkatan batas maksimum Dana Perlindungan Pemodal (DPP) dari Rp 25 juta menjadi Rp 100 juta melalui anak perusahan PT Penyelenggara Program Perlindungan Investor Efek Indonesia (P3IEI). Terakhir, BEI melakukan peningkatan pengawasan terhadap kegiatan transaksi di luar ketentuan (transaksi marjin dan short-selling).
" Melihat perkembangan IHSG yang masih berada pada batas wajar dan dengan mempertimbangkan kinerja Emiten yang relatif sehat, Bursa berharap para pelaku pasar modal tetap memiliki optimisme agar pasar modal Indonesia dapat berkembang ke arah yang positif seiring dengan dukungan partisipasi aktif dari berbagai pihak terkait," tulis keterangan pers tersebut.
Seperti diketahui, beberapa isu pemicu turunnya kepercayaan pelaku pasar modal, yaitu spekulasi atas kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral Amerika Serikat atau The Fed, adanya tren penurunan harga minyak mentah dunia, serta tekanan perlambatan ekonomi global yang khususnya berasal dari negara Tiongkok. (Ism)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya