Sejarah 'Salam Tempel' Lebaran Idul Fitri, Pernah Ada di Masa Khalifah Ottoman?

Reporter : Reni Novita Sari
Kamis, 13 Mei 2021 08:01
Sejarah 'Salam Tempel' Lebaran Idul Fitri, Pernah Ada di Masa Khalifah Ottoman?
Unik, begini kisah di balik pembagian angpau lebaran idul fitri

Dream - Hari Idul Fitri telah tiba. Tentu saja momen ini sangat dinanti-nantikan oleh jutaan umat muslim di seluruh dunia, khususnya Indonesia. Terlebih anak kecil yang sudah menunggu-nunggu untuk menerima angpau atau disebut juga salam tempel.

Ya, salam tempel atau angpau merupakan salah satu tradisi lebaran berupa pemberian amplop berisi sejumlah uang. Namun seiring berjalannya waktu, adapula yang memberikannya tanpa amplop. Angpau tersebut diberikan oleh orang dewasa, terutama yang sudah bekerja, kepada anak yang lebih muda atau anak kecil.

Walau sudah menjadi tradisi, namun masih sedikit orang yang mengetahui asal usul angpau lebaran. Nah, jika kamu ingin tahu bagaimana asal usulnya, simak ulasannya berikut ini!

1 dari 5 halaman

Asal Usul Salam Tempel

Ilustrasi© Foto : Shutterstock

Layaknya masyarakat Tionghoa, masyarakat Arab juga mempunyai tradisi memberi angpau. Di Arab tradisi ini disebut Eidiyah. Setelah melaksanakan salat Idul Fitri, masyarakat Arab biasanya berkumpul di masjid, bersalam-salaman, dan memberi hadiah. Tradisi inilah yang kemudian juga dilakukan oleh masyarakat di Indonesia saat Lebaran yang lebih dikenal dengan sebutan salam tempel.

Dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), salam tempel berarti salam yang disertai uang (atau amplop berisi uang) dan sebagainya yang diselipkan dalam tangan orang yang disalami. Tradisi memberikan uang saat setelah Shalat Ied ini pun terus dilakukan oleh masyarakat Indonesia sampai saat ini.

2 dari 5 halaman

Pertama Kali Dilakukan

Ilustrasi© Foto : Shutterstock

Ternyata, tradisi ini berasal dari awal abad pertengahan. Saat itu, kekhalifahan Fatimiyah membagikan uang, permen, ataupun pakaian pada anak-anak dan orang tua di hari pertama Idul Fitri. Namun, di akhir periode Ottoman, eidiyah berubah menjadi memberikan sejumlah uang tunai dalam pecahan-pecahan yang lebih kecil. Uang ini biasanya diberikan oleh orang tua kepada anak-anak mereka.

Tidak sampai di situ, eidiyah berkembang seiring juga berkembangnya teknologi. Bukan hanya berupa uang, kadang-kadang orang tua memberikan smartphone ataupun konsol game sebagai hadiah untuk anak mereka.

3 dari 5 halaman

Menyebar di Belahan Dunia

Ilustrasi© Foto : Shutterstock

Meskipun begitu, bukan berarti eidiyah menggunakan uang tunai sudah ketinggalan zaman. Nyatanya, masih ada orang tua yang lebih memilih menggunakan uang tunai. Hal ini untuk mengajarkan anaknya soal mengatur keuangan.

Kebiasaan ini pun akhirnya juga menular ke berbagai negara-negara islam tak terkecuali di Indonesia. Di Indonesia, lebih banyak memberi THR menggunakan amplop bergambar menarik untuk anak-anak. Bahkan, di masa menjelang lebaran, akan banyak ditemukan angpao-angpao atau amplop bergambar yang dijual di toko-toko.

4 dari 5 halaman

Pemberi Salam Tempel

Salam tempel atau angpau biasanya nggak hanya diberikan oleh orangtua, tapi juga oleh kerabat dekat yang lebih tua, sudah bekerja, dan sudah menikah. Angpau juga biasanya diberikan oleh tetangga yang didatangi saat bersilaturahmi dan bermaaf-maafan setelah Shalat Ied.

5 dari 5 halaman

Penerima Salam Tempel

Ilustrasi© foto : pixabay

Uang salam tempel biasanya diberikan kepada anak-anak yang masih kecil. Tapi terkadang, uang salam tempel atau angpau nggak hanya diberikan pada yang masih kecil. Yang sudah duduk di bangku SMA atau yang sudah kuliah pun juga diberikan angpau saat Lebaran oleh orangtua, om, tante, kakek, atau neneknya. Semua tergantung kebiasaan dalam lingkungan masing-masing. Biasanya jumlah atau nominal uang yang diberikan juga disesuaikan dengan usia penerimanya.

 

Beri Komentar