Polisi (2): Jenderal Polisi Jujur Itu Bernama Hoegeng

Reporter : Eko Huda S
Senin, 19 Januari 2015 19:29
Polisi (2): Jenderal Polisi Jujur Itu Bernama Hoegeng
Melegenda karena kejujurannya. Menegakkan hukum tanpa pandang bulu. Dicopot Presiden Soeharto karena tak bisa diajak "damai."

Dream - Matahari sudah berada di atas ubun-ubun. Udara kala itu tengah terik-teriknya. Hawa panas di Pelabuhan Belawan, Medan, itu seolah menyambut kedatangan rombongan keluarga perwira polisi yang baru tiba dari Jawa. Setelah keluar dari kapal, mereka berdiri di ujung dermaga. Menoleh kanan kiri mencari tumpangan.

Belum sampai lima menit menunggu, seseorang utusan seorang pengusaha menghampiri. Pria berpakaian rapi itu menyapa dan berbicara basa-basi. Di ujung percakapan, dia mengabarkan bahwa rumah dan mobil dinas telah dipersiapkan. Fasilitas itu bisa digunakan untuk bekerja dan kegiatan keluarga. Semua gratis.

Polisi itu terkejut. Sebab, kantor pusat di Jakarta memberi tahu bahwa rumah dinas untuk mereka belum jadi. Sehingga polisi itu hanya tersenyum. Menolak dengan halus dan memilih tinggal di hotel untuk sementara.

Rombongan itu adalah Hoegeng Iman Santoso dan keluarga. Mereka datang ke Medan karena tugas baru. Setelah gemilang semasa menjabat Kepala Dinas Pengawasan Keamanan Negara di Kepolisian Jawa Timur, pada tahun 1955 itu Hoegeng ditunjuk sebagai Kepala Bagian Reserse dan Kriminal Polisi Sumatera Utara. Tugas utamanya: memberantas perjudian dan penyelundupan yang kala itu merajalela.

Keluarga Hoegeng kemudian tinggal di Hotel De Boer selama dua bulan. Karena rumah dinas negara di Jalan Rivai belum siap digunakan. Setelah perbaikan di sana-sini kelar, keluarga Hoegeng pun pindah ke rumah dinas itu. Namun, perwira muda itu terkejut bukan buatan. Selama menjejakkan kaki di Medan, dia belum pernah memesan perabot rumah tangga. Namun saat masuk ke rumah dinas itu, dia melihat perkakas rumah tangga sudah lengkap. Bahkan, terhitung mewah.

Utusan pengusaha yang pernah bertemu di pelabuhan datang lagi. Menyampaikan pesan bahwa barang-barang itu berasal dari sang majikan. Seorang bandar judi kenamaan di Medan. Heogeng pun berang. Dia panggil anak buah dan kuli panggul. Mereka langsung mengeluarkan perabot mewah itu dari rumah dinas.

Hoegeng benar-benar marah. Sebab, kala itu banyak polisi, jaksa, dan juga tentara, hanya menjadi kacung para bandar judi. “ Sebuah kenyataan yang amat memalukan,” tutur Hoegeng.

1 dari 2 halaman

Pensiun Tanpa Harta

Pensiun Tanpa Harta

Pria kelahiran Pekalongan 14 Oktober 1921 ini memang terkenal sebagai polisi jujur. Dia tak mau menggunakan kekuasaan untuk mengeruk keuntungan pribadi. Dia juga tak mempan suap.

Sikap jujur ini membuat hidupnya sungguh sederhana. Meski pernah menjabat sebagai Kapolri dan Menteri, Hoegeng tetap tak punya rumah, mobil, dan barang mewah, saat tak lagi menjabat. 

Hoegeng baru memiliki rumah setelah pensiun. Sebuah rumah di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Itu pun bukan didapat dari membeli. Melainkan hibah institusi Polri. Keluarga Hoegeng mengisi rumah itu, setelah seluruh perabot inventaris kantor dikembalikan semuanya.

Setelah pensiun, dia menghidupi keluarganya dari uang pensiun sebesar Rp 10 ribu. Selain itu, dia menjual lukisan dan tampil dalam acara musik di TVRI dengan kelompok Hawaiian Seniors –yang akhirnya ditutup oleh pemerintah Orde Baru karena dinilai tak sesuai dengan budaya bangsa.

2 dari 2 halaman

Tutup Bisnis Keluarga

Tutup Bisnis Keluarga

Hoegeng merupakan putra sulung dari pasangan Soekario Kario Hatmodjo –pegawai pemerintah Hindia Belanda– dan Oemi Kalsoem. Orangtua inilah yang menanamkan kejujuran di dalam jiwa sang putra.

Meski berasal dari keluarga priyayi, Hoegeng selalu hidup sederhana. Bahkan dia banyak bergaul dengan anak-anak dari lingkungan biasa. Dia juga tak pernah mempermasalahkan ningrat atau tidaknya seseorang dalam bergaul.

Hoegeng memang manusia langka. Dia bahkan rela menutup bisnis keluarga karena takut akan mempengaruhi jabatannya. Lihatlah saat dia ditunjuk menjadi Kepala Jawatan Imigrasi pada 1960. Sehari sebelum dilantik, dia meminta sang istri, Merry Roeslani, menutup toko bunga di rumahnya.

“ Nanti semua orang yang berurusan dengan imigrasi akan memesan kembang pada toko kembang ibu, dan ini tidak adil untuk toko-toko kembang lainnya,” ujar Hoegeng kala itu.

Dia juga tak mau menggunakan jabatan untuk memberi keistimewaan untuk keluarga. Bahkan untuk sang putra, Aditya Soetanto. Hoegeng pernah menolak memberi tanda tangan untuk memuluskan Adit masuk AKABRI. Sehingga, Adit tak jadi masuk pendidikan tentara. Dia kemudian memilih membuka bengkel.

Selain jujur dan sederhana, Hoegeng juga dikenal sebagai polisi yang tegas. Saat menjabat sebagai Kapolri mulai tahun 1968, Hoegeng menghadapi beberapa kasus besar. Di antaranya adalah penyelundupan mobil-mobil mewah bernilai miliaran rupiah oleh Robby Tjahjadi. 

Sebelumnya, pengusaha ini nyaris tak tersentuh. Namun saat Hoegeng menjabat sebagai Kapolri, Robby tak berkutik. Tak hanya Robby, pejabat yang terbukti menerima sogokan pun ditahan. Kasus ini disebut-sebut melibatkan sejumlah pejabat dan perwira tinggi ABRI.

Kasus lain yang menggemparkan masyarakat adalah pemerkosaan Sumarijem di Yogyakarta. Diduga, sejumlah anak dan kerabat pejabat terlibat dalam kasus yang dikenal dengan sebutan Sum Kuning ini.

Kasus ini memang penuh kejanggalan. Sebab, Sumarijem yang diperkosa pada tanggal 21 September 1970 malah dijadikan tersangka. Sum diminta mengakui cerita berbeda. Dia bahkan dituding sebagai anggota Gerwani, salah satu organisasi sayap Partai Komunis Indonesia (PKI).

Namun Sum akhirnya dibebaskan hakim. Sehari setelah vonis bebas Sum, Hoegeng memanggil Komandan Polisi Yogyakarta, AKBP Indrajoto, dan Kapolda Jawa Tengah, Kombes Suswono. Hoegeng juga memerintahkan Komandan Jenderal Komando Reserse, Katik Suroso, mencari siapa saja yang memiliki fakta soal pemerkosaan Sum Kuning.

“ Perlu diketahui bahwa kita tidak gentar menghadapi orang-orang gede siapa pun. Kita hanya takut kepada Tuhan Yang Maha Esa. Jadi kalau salah tetap kita tindak,” tegas Hoegeng. 

Hoegeng membentuk tim khusus untuk menangani kasus ini. Namanya Tim Pemeriksa Sum Kuning, dibentuk Januari 1971. Belakangan Presiden Soeharto sampai turun tangan menghentikan kasus Sum Kuning. Dalam pertemuan di Istana, Soeharto memerintahkan kasus ini ditangani oleh Team Pemeriksa Pusat Kopkamtib karena dinilai luar biasa.

Hoegeng sadar. Ada kekuatan besar untuk membuat kasus ini menjadi bias. Tanggal 2 Oktober 1971, Hoegeng dipensiunkan sebagai Kapolri. Beberapa pihak menilai Hoegeng sengaja dipensiunkan untuk menutup kasus ini. Kala itu, usia Hoegeng masih 49 tahun.

“ Begitu dipensiunkan, Bapak kemudian mengabarkan pada ibunya. Dan ibunya hanya berpesan, ‘selesaikan tugas dengan kejujuran. Karena kita masih bisa makan nasi dengan  garam’,” ujar Merry. “ Dan kata-kata itulah yang menguatkan saya.”

Itulah Hoegeng. Jenderal polisi jujur yang melegenda. Kisah hidup Hoegeng sudah banyak dibukukan. Dijadikan contoh polisi jujur. Bahkan, mantan Presiden Abdurrahman Wahid alias Gus Dur pun punya anekdot khusus untuk jenderal satu ini. Gus Dur menyebut hanya ada tiga polisi jujur di Indonesia, mereka adalah patung polisi, polisi tidur, dan: Hoegeng… (eh)

Baca juga:

Kisah Para Polisi Jujur Aiptu Jailani, Polisi Langka Penilang Istri Sendiri Bripda Taufiq, Polisi yang Tinggal di Kandang Sapi

Beri Komentar
Masak Pintar dengan SHARP bersama Chef Deny Gumilang | Online Dream Camp 2020