Kegigihan Antarkan Model Hijaber ke Tanah Suci

Reporter : Ahmad Baiquni
Kamis, 15 Oktober 2015 19:11
Kegigihan Antarkan Model Hijaber ke Tanah Suci
Menjuarai sejumlah kontes model, berubah cara pandang lantaran mengikuti ajang Dauky Dream Girls 2015. Inilah kisah Nindi, Juara Kedua Dauky Dream Girls 2015.

Dream - Matahari baru menyembul dari Timur. Suasana rumah tipe 56 berwarna merah muda di Perum Dukuh Bima Asri X-7, Tambun, Bekasi itu begitu riuh. Para penghuninya tengah sibuk menghabiskan pagi, berbenah rumah.

Senyum merekah tampak dari bibir sosok wanita belia. Hangatnya sambutan dan keramahan tampak dari tiap gerak tubuh gadis itu.

Dia adalah Nindi Gita Sari, 23 tahun, juara kedua kompetisi Dauky Dream Girls 2015 digelar di Gandaria City, Jakarta, pada Jumat, 2 Oktober lalu. Nindi berhasil mengalahkan 1.172 peserta dari seluruh Indonesia, sehingga dia masuk dalam daftar 50 besar semifinalis ajang tersebut.

Di babak ini, dia juga terpilih menjadi salah satu dari 30 peserta di babak final, hingga akhirnya dara berhijab ini terpilih menjadi juara dua dan berhak atas hadiah berupa umrah.

Tak lama berselang, seorang wanita paruh baya keluar dari dapur. Menyapa dan memperkenalkan diri. Wanita ini merupakan ibu dari Nindi. Dia kemudian memberikan kesempatan kepada putirnya itu menyambut Ratih Wulan, reporter Dream.co.id, akhir pekan lalu.

Pagi itu, wajah Nindi benar-benar berbeda. Tidak ada satupun bagian dari wajahnya tertempel kosmetik. Dia terlihat begitu alami, dengan balutan pakaian sederhana tatkala berada di rumah. Namun, keceriaan tetap saja terpancar dari sosoknya.

Sesaat kemudian, sembari mengobrol, Nindi mengambil beberapa piring dan sendok. Ditatanya piring dan sendok itu di atas meja yang terletak di bagian tengah rumah itu. Ya, pagi itu adalah jadwal untuk seluruh penghuni rumah sarapan.

Nindi mengaku sudah terbiasa membantu ibunya menyiapkan sarapan dan menjadi rutinitasnya di pagi hari. Dara ini memang dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang begitu disiplin. Sang ayah yang bekerja sebagai karyawan perusahaan tambang minyak mendidik sulung dari tiga bersaudara ini menjadi pribadi yang disiplin dan mandiri.

Ini juga berlaku bagi kedua adiknya. Sedari kecil mereka terbiasa hidup berjauhan, karena sang ayah harus berdinas di Kepulauan Seribu. Pertemuan dengan sang ayah yang hanya terjadi di akhir pekan membuat orangtuanya begitu keras dalam menerapkan setiap peraturan.

Hal ini pula yang kemudian membentuk Nindi menjadi pribadi yang begitu gigih, menempa diri dalam perjalanan hidupnya. Tanggung jawab sebagai anak pertama, membuat Nindi dituntut harus mampu menjadi teladan bagi kedua adiknya.

Bahkan untuk keputusan atas sebuah pilihan, Nindi pun harus menuruti kedua orangtuanya. Salah satunya, berkuliah di Jurusan Ekonomi Managemen yang sebenarnya sama sekali tidak dia inginkan.

Tersimpan keinginan untuk berkuliah di Jurusan Public Relation. Namun mimpi itu harus dikubur dalam-dalam.

Alhasil, setengah hati dia jalani masa-masa menjadi mahasiswa. Meski begitu, dia tidak mau terpuruk. Nindi lalu berusaha terus menempa diri dengan pelbagai hal untuk menggali potensi diri.

Tiga tahun lalu menjadi titik pijak untuk meraih mimpinya. Kala itu, Nindi mengenal seorang sahabat wanita. Bersama sang sahabat ini, Nindi mulai terjun di dunia bisnis dengan membuat perusahaan jasa perjalanan wisata.

Meski hanya membantu bisnis sahabat, Nindi mengaku mendapat banyak pengalaman dan dia belajar cara mengelola bisnis jasa tersebut.

Untuk menunjang aktivitasnya, Nindi bahkan sampai rela datang jauh ke Pare, sebuah desa yang masuk wilayah administrasi Kabupaten Kediri, Jawa Timur, untuk mengasah kecakapan berbahasa Inggris.

Ilmu yang didapat ternyata tidak percuma. Dia begitu terampil memandu para wisatawan yang menggunakan jasa perusahaan sahabatnya.

Kenyamanan bersama sahabatnya itu membuat Nindi terpicu untuk semakin dalam mempelajari Islam. Kebetulan, sang sahabat memiliki pengetahuan cukup mengenai Islam. Nindi kerap bertukar pikiran dan menimba pengetahuan tentang Islam kepada sahabatnya itu.

Mungkin saat itu, pintu hidayah dari Allah juga telah dibukakan. Secara kebetulan, di waktu waktu bersamaan ia harus menempuh mata kuliah agama Islam dalam semester pendek di kampusnya.

Dalam mata kuliah itu, dia mendapat pengetahuan akan kewajiban mengenakan hijab. Tanpa pikir panjang, dia memutuskan untuk berhijab. Keputusan tersebut ternyata mendapat dukungan dari lingkungan sekitarnya.

Dukungan tersebut, ditambah kenyamanan dalam berhijab semakin memantapkan hati Nindi untuk teguh menjalankan perintah agama dengan menutup mahkotanya.

" Mulai sejak itu aku merasa nyaman pakai baju yang serba menutup tubuh dan nggak mau kulepas lagi," tuturnya sembari menatap guci-guci di sudut ruangan.

Hari beranjak semakin siang, sang ibu dengan begitu ramah menyajikan dua cangkir minuman. Nindi pun pamit untuk bersiap ke belakang.

Tepat pukul sepuluh pagi, sang ibu bersiap. Di lengan kirinya, tergantung sebuah tas tangan. Nindi lalu meraih telapak tangan kanan sang bunda, lalu menciumnya. Wanita dewasa itu lalu berangkat, menjalankan aktivitas rutinnya.

Usai ibunda berpamitan, Nindi melanjutkan ceritanya. Udara kala itu begitu panas, tetapi sama sekali tidak mampu mendinginkan keakraban yang telah terjalin sejak pagi itu.

‘Cling cling cling,’ bunyi dari ponsel menghentikan obrolan. Sejenak Nindi menatap layar ponsel dengan pandangan tajam. Sesaat kemudian, desahan napas terdengar dari hidungnya, sementara mulutnya tersenyum getir.

" Belum jadi bimbingan lagi minggu ini, jadi kita nggak jadi ke kampus," jelasnya sambil meletakan ponsel berwarna putih itu ke atas meja di hadapan kami.

Rencananya, Nindi ingin ke kampus dan bertemu dosen pembimbing skripsi. Saat ini, dia tengah menempuh tingkat akhir kuliah dan sedang menyelesaikan skripsi sebagai tugas akhir. Tetapi, sang pembimbing ternyata tengah sibuk dengan agenda lain.

Azan berkumandang tepat saat kami sedang memperbincangkan skripsi yang tengah digarapnya. Dia pun berpamitan untuk menjalankan salat zuhur terlebih dahulu sebelum kami menuju sebuah pusat perbelanjaan di Bekasi.

Beberapa lelaki terlihat keluar dari masjid di ujung gang, sajadah pun masih terlipat di pundak mereka.Tepat seusai salat Jumat itulah kami memutuskan untuk beranjak meninggalkan rumah. Siang itu, Nindi sudah terikat janji bertemu seseorang membincangkan pekerjaan kontrak model.

Kontrak model? Ya, dara ini ternyata memiliki bisnis agensi model. Dia menjalankan bisnis ini dengan sahabatnya. Alhasil, meski masih berkuliah, Nindi sudah memiliki penghasilan sendiri.

Obrolan semakin seru. Namun, Nindi kadung janji dengan salah satu sahabatnya di salah satu mal, kawasan Bekasi Barat. Ia pun mengajak Dream untuk ikut sambil melanjutkan cerita.

***

 

1 dari 2 halaman

Terjun Ke Dunia Model

Terjun Ke Dunia Model

Dalam perjalanan ke sana, Nindi kembali menceritakan jatuh bangun dia menggapai mimpi. Ketidakpuasan terhadap prestasi akademik, sempat membuatnya merasa frustasi menghadapi masa depan.

Titik balik dalam hidupnya terjadi setahun silam. Hijrah dalam menutup aurat membuat pandangan dan orientasi dalam kehidupannya berubah. Melalui dukungan beberapa sahabat, dia pun memberanikan diri mengikuti ajang hijab modeling.

Kontes awal yang dia ikuti digelar Azura Model. Meskipun hanya masuk dalam 40 besar, tak membuatnya berkecil hati. Nindi sadar masih minim pengetahuan di dunia fesyen serta modeling. Kemudian dengan sekuat tenaga dia memacu diri mempelajari dunia yang benar-benar baru baginya.

Rasa ambisius mendesaknya untuk terus mengalahkan keminderan. Kemauan keras membuat Nindi menerapkan aturan yang sangat disiplin untuk membuat daftar agenda modeling selama setahun ke depan.

Sebagai pribadi yang keras kepala, dia pun berprinsip untuk selalu serius menjalani sesuatu yang sudah menjadi keputusannya.

" Sudah kadung nyemplung jadi harus total. Jangan setengah-setengah," tegas Nindi.

Nindi bahkan pernah nekat mengejar workshop modeling hingga ke Kota Kembang, Bandung. " Nggak mau gimana caranya aku harus sampai di Bandung aku mau ketemu mbak Oki Asokawati," kata dia sambil tertawa mengenang perjuangannya selama ini.

Dara manis itu membagi tipsnya agar bisa masuk ke dunia modeling. Maraknya penggunaan media sosial Instagram dimanfaatkan Nindi untuk mencari informasi mengenai semua hal-hal yang berhubungan dengan kontes modeling.

" Semua aku list..Jadi aku tahu yang sudah lewat dan masih mau berlangsung. Jadi punya target tahun depan event apa yang dimulai di awal tahun, dan bagaimana cara daftarnya," ungkapnya seraya menyeruput minuman yang sedang digenggamnya.

Dari situ, ia menyimpulkan acara-acara modeling baru dimulai dari Febuari dan Maret. Sehingga dia masih memiliki waktu selama lima bulan untuk mempersiapkan diri agar lebih matang.

Tak hanya itu saja, postur tubuh yang dinilainya sangat pas-passn membuatnya terpicu segera menutupi kekurangannya itu. Lalu, ia mempelajari teknik berjalan di atas panggung dan berpose yang tepat di depan kamera.

" Mau sekolah model kan mahal, jadi aku harus belajar sendiri secara otodidak," ungkapnya bersemangat.

Lima bulan waktu tersisa tidak dia sia-siakan. Dengan kemauan, semangat dan kerja keras akhirnya ia bergabung dengan komunitas modeling dan fotografer di kotanya. Selama waku itu, dia menyibukan diri mempelajari semua dunia modeling dan teknik berfoto.

Meskipun tidak mendapat keuntungan secara finansial, Nindi tetap semangat jika usahanya ini nanti akan bermanfaat baginya. Hingga pada akhirnya, ia mulai mendapat penawaran untuk pemotretan.

" Job pertama aku itu pas bulan Oktober atau November dan posisi masih kaku banget. Tapi mereka mau bayar aku Rp400.000," imbuh Nindi sembari melirik ponselnya.

****

2 dari 2 halaman

Ubah Cara Pandang

Ubah Cara Pandang

Obrolan sempat terhenti sejenak, salah seorang temannya yang bernama Zhella telah datang. Ia dan Nindi meminta ijin untuk melakukan rapat membahas agensi modeling yang sedang mereka rintis.

Dengan serius keduanya membahas mengenai konsep kontrak kerjasama yang akan ditawarkan kepada para model yang ingin bergabung. Di sela-sela rapat, mereka berdua dengan senang hati bergantian menjelaskan tentang agensi model yang baru mereka dirikan.

Nindi percaya bahwa di setiap pertemuan, pasti ada manfaat yang akan mereka dapatkan. Begitu pula saat mengikuti ajang modeling setahun lalu, membawanya untuk berkenalan dengan Wina, Rika dan Zhella yang memiliki kesamaan misi untuk mendirikan sebuah agensi model sendiri. Bermodal keberanian, konsep dan jaringan, mereka mencoba merintis model agensi bernama Prime.

Tak lama kemudian, usahanya sedikit menunjukan hasil. Tak mau ketinggalan, ia memberanikan diri kembali untuk mengikuti ajang Miss Ramadan RRI, dan keluar sebagai juara pertama.

Kemenangan inilah yang akhirnya meluluhkan hati kedua orangtua. Dia berhasil sedikit meyakinkan jalan yang dia tempuh mulai membuahkan hasil.

Kemudian melalui ajang Dream Girls 2015 ia semakin berhasil meyakinkan orangtuanya, bahwa ia memilih jalan yang tepat dalam hidupnya.

Konsep Dream Girls 2015 ini juga mengubah cara pandang Nindi mengenai kontes modeling. Awalnya ia selalu menganggap kontes semacam ini hanya akan memilih orang-orang yang cantik dan terlihat bagus di depan kamera.

Kemudian jawaban inilah yang membawanya terpilih menjadi pemenang kedua Dream Girls 2015 dan berhasil membawa pulang tiket umroh ke tanah suci.

" Cantik adalah wanita yang paham betul dirinya.Paham tentang kekurangan dan kelebihannya. Wanita yang nggak akan pernah berhenti belajar. Sangat paham untuk terus berkarya untuk mewarnai dunia" .

Rasa bangga begitu dirasakan sang mama ketika Nindi mempersembahkan tiket umroh itu untuknya. Ia menyadari bahwa sang anak telah berhasil menunjukkan jalan yang tepat untuk meraih masa depannya.

" Mamaku terharu banget, dan aku lagi mengusahakan juga biar papaku bisa berangkat umrah juga.Mereka sudah tahu kalau sekarang usaha aku juga punya prospek yang bagus untuk masa depan," tutup Nindi.

Beri Komentar
Babak Baru Daus Mini Vs Daus Mini ‘KW'