Suriah (3): Pengungsi Ini Ratusan Kilometer Pikul Adik Cacat

Reporter : Ahmad Baiquni
Rabu, 16 September 2015 18:50
Suriah (3): Pengungsi Ini Ratusan Kilometer Pikul Adik Cacat
Kasih kakak pada adik tak hilang di tengah pengungsian. Ada juga bayi yang terkena pembesaran kepala. Inilah cerita pedih pengungsi Suriah.

Dream - Gelombang eksodus manusia terus mengalir di jalan yang menghubungkan antara Turki dan Yunani itu. Di antara wajah-wajah lelah pengungsi Suriah itu,  terselip seorang pemuda. Ia berkemeja biru dengan celana jeans dan bertopi. Wajahnya juga terlihat letih.

Bukan apa-apa. Bukan hanya karena ratusan kilometer sudah dia tempuh. Tapi dia tak hanya berjalan kaki seorang diri seperti lazimnya kebanyakan pengungsi.

Di bahu kanannya, seorang adiknya yang berperawakan tanggung, ikut dipikulnya. Dia tidak sadar ada kamera yang membidiknya. Hingga mata kamera itu mengabadikan lakunya dalam sebuah foto yang kemudian membuat dunia terbelalak.

Pasalnya, adiknya, bukan  berukuran kecil. Tapi sudah remaja tanggung. Ini juga yang membuat hati seisi dunia teriris: anak yang dipanggulnya itu cacat!

Warga dunia terkejut dengan fakta pedih itu. Itu artinya remaja berkemeja biru itu sudah melewati ratusan kilometer dengan membopong adiknya yang cacat. Dan kebanyakan ia tempuh dengan berjalan kaki. Dari Suriah, Turki dan kini di Yunani.

Kala itu, mereka tengah berada di Yunani dan hendak melanjutkan perjalanan menuju Gevgeliga di Macedonia. Tempat itu merupakan kawasan perbatasan Yunani-Macedonia. Sayang, para wartawan tidak sempat bertanya tentang identitas remaja berkemeja biru itu dan adiknya.

Pada hari-hari sebelumnya, selama berbulan-bulan, remaja tersebut bersama ribuan pengungsi lain berada di Turki. Padahal, jarak antara Suriah dengan Turki terlampau jauh. Awalnya mereka sempat berharap bisa mendapat perlindungan di Turki. Namun sia-sia. Pemerintah Turki menyatakan tidak berkenan menerima pengungsi Suriah itu lebih lama.

Alhasil, mereka harus mencari tempat lain. Ribuan pengungsi itu akhirnya memutuskan berjalan kaki menempuh jarak ratusan kilometer melalui jalur yang dikenal sebagai ‘Rute Balkan’. Mereka melintas mulai dari Turki, Yunani, Macedonia, Serbia, dan berakhir di Hungaria, dengan harapan bisa naik kereta menuju Austria dan Jerman.

Negara terakhir itulah yang menjadi tujuan utama mereka. Sebab, di antara sekian banyak negara yang ada di Benua Eropa, hanya Jerman yang menyatakan membentangkan lengan dan siap menyambut mereka dengan pelukan hangat.

Tatkala berada di setiap perbatasan, mereka harus pandai-pandai bersembunyi. Jangan sampai mata petugas perbatasan melihat mereka. Sebab, gebukan tongkat akan bersarang di tubuh mereka jika sampai ketahuan menerobos perbatasan tanpa izin. Belum lagi ancaman pidana penjara.

Dan remaja berkemeja biru yang tidak diketahui identitasnya itu menempuh jarak sepanjang itu dengan terus menggendong adiknya yang cacat. Seolah ingin berteriak pada dunia: apa pun yang terjadi sang adik harus tetap bertahan hidup...

***


1 dari 2 halaman

Bocah Hydrocepalus Harus Lari ke Yunani

Bocah Hydrocepalus Harus Lari ke Yunani © Dream

Bocah Hydrocepalus Harus Lari ke Yunani

Remaja berkemeja biru dengan adiknya yang cacat di perbatasan Yunani itu hanyalah satu dari sekian banyak potret memilukan para pengungsi Suriah. Ada lain kisah lain yang juga meluluhkan hati. Kisah itu datang dari seorang Mohammed Al Kasem.

Usia Kasem masih terbilang muda. Kini ia baru berumur 1 tahun 3 bulan. Tetapi, di usia din itui, Kasem harus didera sejumlah cobaan. Balita ini mengidap pembesaran organ kepala, kerap disebut hydrocepalus. 

Dalam kondisi seperti itu, Kasem seharusnya mendapat kasih sayang dan perawatan yang memadai. Tetapi, ayahnya justru pergi menghadap Sang Pencipta terlebih dulu lantaran menjadi korban konflik bersenjata di Suriah. Alhasil, Kasem kini tidak lagi punya pelindung.

Ditambah lagi, tempat tinggalnya di Suriah sudah tidak aman untuk ditinggali. Dia harus mengungsi, tetapi tidak berdaya. Beruntung, dia masih punya beberapa keluarga termasuk seorang paman. Alhasil, sang paman membawa bocah mungil itu pergi jauh dari Suriah.

Bersama paman dan enam saudara lainnya, Kasem pergi mencari tempat aman. Menggunakan perahu, mereka nekat mengarungi laut hingga akhirnya terdampar di Lesbos, pulau yang masuk kawasan Yunani. 

Penderitaan belum berakhir. Kasem dan pamannya terpaksa melewatkan malam dengan tidur pada halte bus di sisi utara pulau itu. Beruntung, keberadaannya diketahui petugas medis setempat, hingga akhirnya balita itu segera dirawat.

***


2 dari 2 halaman

Mengharapkan Dokumen Perjalanan

Mengharapkan Dokumen Perjalanan © Dream

Mengharapkan Dokumen Perjalanan

Lesbos hanya satu tempat singgah bagi para pengungsi Suriah. Pulau ini sesaat sempat menerbitkan harapan bagi pengungsi. Pemerintah setempat menyatakan bersedia membuatkan dokumen sebagai bekal perjalanan mereka meninggalkan Lesbos menuju negara lain, seperti Jerman.

Tetapi, harapan itu seketika sirna. Pemerintah setempat ternyata tidak kunjung membuktikan janji tersebut. Para pengungsi yang sudah lama menunggu akhirnya harus kecewa dan memutuskan menggelar demonstrasi di pelabuhan.

“ Kami benci Mytilini.” Kalimat itu yang ingin disampaikan para demonstran. Mylitini adalah nama daerah yang menjadi ibukota pulau Lesbos. Mereka putus asa lantaran dokumen perjalanan yang mereka harapkan tidak kunjung terbit. Alhasil, keinginan mereka segera pergi meninggalkan pulau itu dan melanjutkan perjalanan jadi tertahan. 

Rasa putus asa ternyata juga dialami oleh Wakil Walikota Mytilini, Katzanos Giorgos. Dia bingung menghadapi banyaknya para pengungsi yang meminta dokumen perjalanan. Sebab, pihaknya hanya bisa melayani sekitar 800 pengungsi sehari, sementara jumlah pengungsi di pulau itu sudah mencapai 20.000 orang.

“ Kami butuh bantuan,” kata Giorgos. Dia berharap negara tetangga terdekatnya, Inggris, bisa memberikan bantuan dengan mengalihkan sebagian pengungsi ke wilayah mereka.

“ Ada sekitar tiga hingga empat juta orang. Setiap orang tersiksa di sini, baik penduduk maupun pengungsi,” ungkap dia.

Krisis ekonomi yang tengah dihadapi Yunani juga semakin memperberat masalah. Sebab, dokumen tidak bisa diproses dengan segera lantaran pemerintah daerah Lesbos tidak memiliki cukup anggaran untuk membayar tenaga administrasi.

Hal itu dibenarkan oleh Myrsine Roueliotou, seorang guru di Lesbos. “ Kami tidak punya karyawan untuk menangani semua dokumen ini,” kata dia.

Kisah memilukan para pengungsi Suriah itu mungkin bisa menjadi cermin. Pantaslah ahli hukum wanita dari Selandia Baru, Silvia Cartwright, pernah mengatakan: “ There is no glory in war.” Tidak ada kejayaan dalam perang. Yang ada hanyalah cerita sedih...(eh)

Beri Komentar