Dari Jualan Sabun Colek Keliling Jadi Perusahaan Raksasa di Indonesia: Setiap ke Toko Pasti Ada Barangnya!

Reporter : Alfi Salima Puteri
Minggu, 5 Desember 2021 13:01
Dari Jualan Sabun Colek Keliling Jadi Perusahaan Raksasa di Indonesia: Setiap ke Toko Pasti Ada Barangnya!
Pada saat itu, banyak masyarakat yang masih merasa kesulitan jika memakai detergen karena tak memiliki mesin cuci.

Dream - Mungkin Sahabat Dream sudah tidak asing dengan produk-produk rumah tangga dari PT Wings Surya, seperti Wings, So Klin, Ekonomi, GIV, Ciptadent, dan masih banyak lagi. Perusahaan ini awalnya bernama Fa Wings yang didirikan di Surabaya pada tahun 1948 oleh Ferdinand Katuari dan Harjo Susanto.

Hampir seluruh produk PT Wings Surya sangat populer, salah satunya sabun colek Wings. Awalnya, Ferdinand dan rekannya, Harjo melihat ada peluang datang karena saat itu banyak keluarga yang merasa butuh alternatif sabun lain.

Pada saat itu, banyak masyarakat yang masih merasa kesulitan jika memakai detergen karena tak memiliki mesin cuci.

Akhirnya Ferdinand dan Harjo mencoba membuat sabun dalam bentuk krim. Sabun tersebut terbuat dari minyak kelapa dan soda abu, mereka mencampurkan dan membuat racikan sabun terbaik yang biasa digunakan dalam kebutuhan rumah tangga.

Walaupun saat itu banyak keluarga yang membutuhkan, namun mereka tak langsung mengetahui keberadaan sabun krim dari Wings ini. Sehinnga Ferdinand memasarkan produknya ini dari pintu ke pintu atau door to door.

1 dari 7 halaman

Beberapa merek pastinya kamu tahu

Dengan kelebihan bahan baku sabun yang berkualitas namun harganya tetap terjangkau, akhirnya produk mereka laris manis di pasaran.

Wings saat itu sudah memiliki pesaing yang besar bahkan tingkat global yaitu Unilever yang hingga kini tetap menjadi kompetitornya.

Pada saat itu, Unilever sudah menjadi perusahaan besar dan persaingan pun dimulai. Strategi yang digunakan Wings kala itu adalah dengan mengeluarkan sabun GIV dengan harganya yang terjangkau yang membuatnya laku keras.

Tak hanya itu, Wings terus maju dengan mengeluarkan penantang untuk setiap produk yang dibuat Unilever mulai dari detergen sampai pewangi.

Untuk tetap bisa bertahan, Wings juga melancarkan kerja sama dengan beberapa perusahaan konglomerat di Indonesia serta mendirikan PT Unggul Indah Cahaya yang memproduksi alkybenzene yaitu bahan baku detergen. Mereka juga mengganti nama Fa Wings menjadi Wings Surya pada tahun 1991.

Setelah memutuskan untuk pensiun, Ferdinand Katuari menyerahkan kepemimpinan Wings Group pada Eddy Katuari bersama dengan anak dari Harjo Susanto.

Berdasarkan data Forbes total nilai harta Harjo Sutanto pada 2020 adalah US$530 juta (Rp7,6 triliun). Di Indonesia, Harjo masuk daftar 50 orang terkaya.

2 dari 7 halaman

Lahirkan produk makanan

Mereka terus melakukan ekspansi besar-besaran hingga memiliki berbagai macam produk rumah tangga, tak hanya sabun dan detergen namun juga berbagai produk makanan.

Mereka juga terus berani bersaing dengan para kompetitor bidang yang lain, salah satunya dengan menciptakan Mie Sedaap di bawah anak perusahan yaitu PT Karunia Alam Semesta.

Wings Group tak hanya memproduksi berbagai produk kebutuhan rumah tangga, kini perusahaannya terus berkespansi di berbagai bisnis sektor lain seperti perbankan, jasa keuangan, properti, dan lain sebagainya.

Ferdinand Katuari meninggal pada usia 90 tahun akibat komplikasi pada 2010 silam.

3 dari 7 halaman

Dulu Dianggap Gila, Merek Asli Indonesia Ini Sekarang Jadi yang Terbesar di Dunia

Dream - Aqua. Brand air mineral ini paling populer di Indonesia. Saking tenarnya, kita menyebut semua air mineral dalam kemasan dengan nama Aqua. Apapun mereknya.

Perusahaan pembuat Aqua didirikan oleh Tirto Utomo. Bermula saat pria Wonosobo ini bertugas menjamu delegasi perusahaan Amerika Serikat yang berkunjung ke Permina, Perusahaan Minyak Nasional, cikal-bakal Pertamina, tempatnya bekerja.

Tirto mendapat tugas khusus itu setelah istri ketua delegasi dari Paman Sam terkena diare setelah minum air yang disajikan. Kala itu, para delegasi disuguhi air tanah yang dimasak secara tradisional. Padahal, mereka terbiasa minum air yang disterilkan.

4 dari 7 halaman

Produk pertama Aqua mirip dengan Polaris

Ilustrasi© shutterstock

Tugas khusus itulah yang memberikan ilham kepada Tirto untuk berbisnis air minum dalam kemasan. Apalagi, Tirto yang sudah kenyang pengalaman tugas di luar negeri sudah tidak asing dengan budaya air minum dalam kemasan.

Akhirnya, Tirto mendirikan perusahaan. Tentu tidak mudah. Di Indonesia minum air putih dalam kemasan merupakan budaya baru. Sebagian masyarakat kala itu masih meminum air sumur yang direbut. Air putih bisa didapat dengan gratis.

Tapi Tirto yakin dengan bisnisnya. Dia bahkan mengirim sang adik, Slamet Utomo, magang ke Polaris, perusahaan Thailand yang kala itu sudah 15 tahun membikin air dalam kemasan. Slamet diminta mempelajari cara kerja pembuatan air minum dalam kemasan (AMDK).

5 dari 7 halaman

Rp75, harga pertama Aqua

Tak heran, produk pertama Aqua mirip dengan Polaris, mulai dari kemasan, proses produksi, hingga merek mesin pengolah air.

Tirto dan Slamet mendirikan perusahaan di Pondok Ungu, Bekasi, pada 1973. Modal Rp150 juta. Perusahaan mereka bernama PT Golden Missisippi. Produk pertama bernama Puritas. Perusahaan itu kemudian berubah nama menjadi PT Aqua Golden Missisippi.

Nama Aqua merupakan usulan Eulindra Lim, designer asal Singapura yang merancang logo perusahaan itu. Selain bermakna air, nama Aqua dianggap lebih cocok untuk citra air dalam kemasan. Tirto akhirnya mengubah Puritas menjadi Aqua.

6 dari 7 halaman

Jadi sponsorship PON

Ilustrasi© shutterstock

Produk pertama Aqua dikemas dengan botol kaca ukuran 950 ml dan dijual dengan harga Rp75 pada tanggal 1 Oktober 1974. Banderol tersebut hampir dua kali lipat lebih mahal dari harga bensin pada waktu itu.

Butuh perjuangan keras untuk mengenalkan Aqua kepada masyarakat. Apalagi, kala itu masyarakat Indonesia sedang gandrung dengan produk minuman soda. Usaha Tirto disebut ide gila.

Tapi ide yang dianggap gila itu bertahan hingga empat tahun berikutnya, meski permintaan pasar masih sangat rendah. Lagi-lagi Tirto punya ide gila. Di tengah permintaan yang tak seberapa, dia malah menaikkan harga tiga kali lipat.

7 dari 7 halaman

Mengganti bahan baku air

Namun ide yang tak masuk akal itu justru berhasil. Masyarakat semakin percaya bahwa Aqua merupakan air mineral dengan kualitas tinggi. Aqua mulai mendapat kepercayaan. Diminta beberapa restoran kondang hingga jadi sponsor Pekan Olahraga Nasional (PON).

Lalu, distribusi Aqua beralih dari masyarakat biasa ke perusahaan asing seperti perusahaan Korea, Hyundai, yang saat itu sedang menangani proyek Tol Jagorawi.

Perkembangannya juga dibantu oleh anak kandungnya, Willy Sidharta, selaku sales dan perakit mesin pabrik pertama guna memperbaiki sistem pendistribusiannya.

Willy mengusung konsep delivery door to door khusus yang pada akhirnya menjadi sistem pengiriman langsung Aqua dan membuat penjualannya secara perlahan semakin membaik.

Tahun 1981, kemasan kaca berganti plastik. Perubahan dilakukan untuk mempermudah distribusi. Setahun berselang, bahan baku juga berubah, dari air sumur ke mata air pegunungan yang dianggap mengandung komposisi alami dan kaya nutrisi.

Tahun 1985, Aqua juga mulai memperkenalkan kemasan yang lebih kecil, yaitu 220 ml yang berbentuk gelas plastik. Dua tahun kemudian, Aqua mulai merambah pasar luar negeri, seperti Singapura, Malaysia, Fillipina, Afrika, dan Australia.

Namun, sepeninggal Tirto Utomo pada 16 Maret 1994, sempat terjadi guncangan. Pada tahun 1998, perusahaan ini diambil alih oleh raksasa Prancis, Danone.

Meski keluarga Tirto bukan lagi pemegang saham mayoritas, keputusan yang diambil ini dinilai sebagai langkah tepat di tengah ketatnya persaingan dengan merek-merek baru dengan produk serupa.

Bergabungnya Danone dalam perusahaan ini membuat Aqua berhasil mencapai produksi 3,5 miliar liter per tahun dan menguasai 40 persen pangsa air mineral di Indonesia.

Mineral ini juga dinobatkan sebagai merek air minum dalam kemasan terbesar di Asia Pasifik dan air minum dalam kemasan nomor dua terbesar di dunia, berdasarkan survei Zenith International, Inggris.

Beri Komentar