Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Bisa Nggak Wahyu Ningsih Jadi CEO Microsoft?
Jika Guru Digaji Lebih Layak, Apakah Kualitas Pendidikan Indonesia Akan Meningkat?
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Ilustrasi (acehonline.info)
Dream - Mantan Menteri Keuangan RI Chatib Basri menilai, tidak perlu adanya mata uang tunggal dalam realisasi Masyarakat Ekonomi ASEAN.
Menurutnya, pelaksanaan mata uang tunggal tidak akan mudah mengingat struktur ekonomi dan pembangunan ke-10 negera ASEAN sangat beragam.
"Mata uang tunggal mungkin akan mendatangkan masalah sehingga kita harus berpikir hati-hati. Kita masih bisa memiliki integrasi dengan mata uang sendiri-sendiri," jelas Chatib seperti dikutip dari The Malay Mail Online, Senin, 23 Maret 2015.
Chatib menambahkan hal yang sangat penting adalah mendorong agar masing-masing negara ASEAN bis turut terlibat dalam perjanjian perdagangan ASEAN guna memperlancar proses integrasi tersebut.
"Kita harus berintegrasi. Kita harus siap untuk ini dan jika kita terus mengatakan kami tidak siap, maka kita akan menunda dan memperpanjang proses," tegasnya.
Selain Chatib, hadir pula perwakilan permanen Bank Investasi Eropa Ben Knapen dan Profesor Hukum Universitas Hong Kong, Chin Leng Lim dalam debat bertema "Integrasi Regional dan Integrasi Global: Apakah akan ada Konflik?'
Sementara itu, Knapen mengatakan integrasi regional dapat memungkinkan penyatuan yang cepat. Dengan demikian bisa menciptakan manfaat sosial ekonomi bagi masyarakat miskin jika lingkungan dibuat sekondusif mungkin untuk pembangunan sosial ekonomi.
Lebih lanjut, dia mengatakan pembangunan sosial ekonomi termasuk yang terpenting adalah infrastruktur, lingkungan, dan pendidikan dapat bergerak maju jika wilayahnya mau berinovasi.
"Ada keuntungan yang jelas dari integrasi regional yang dapatg meningkatkan pertumbuhan dan dapat menjangkau pasar yang lebih luas," jelasnya.
Knapen yang juga Sekretaris Negara Urusan Luar Negeri Belanda mengatakan, kawasan ASEAN haru belajar dari dampak integrasi regional di Eropa dalam hal pasar bebas.
"Jika Anda memutuskan untuk menganut pasar bebad dalam kondisi perekonomian yang beragam, maka Anda harus berhati-hati karena berpotensi mengalami gangguan," jelasnya.
"Anda harus melakukan secara bertahap, mengelolanya dengan cara yang tidak menganggu masyarakat dan perusahaan kecil serta menengah di negara-negara kurang berkembang," tambahnya.
Namun, lanjut Knapen, kerjasama regional jika berhasil, tidak hanya akan meningkatkan pertumbuhan. kekayaan dan posisi negara-negara ASEAN, tetapi juga akan meningkatkan pengaruh organisasi regional di dunia. (Ism)
Advertisement
Bagaimana Industri Pangan Mengurangi Limbah? Ini Strategi yang Dilakukan

Mengapa Sampah dari Industri Makanan Berbahaya bagi Lingkungan?

Ekonomi RI Ditekan Perang, Bencana, dan Korupsi, JK: 'Punya Uang Saja Tidak Cukup'

IHSG Dibuka Menguat Tipis, Investor Waspadai Aksi Profit Taking

IHSG Lanjutan Menguat ke Level 5.387, Saham Bank Pelat Merah Bermekaran


Inggris dan Jepang Minta Warga Siapkan Stok Makanan untuk 3 Hari, Ada Apa?

Benarkah Oksigen di Bumi Bisa Habis? Ilmuwan Perkiraan Kapan Hal Itu Bisa Terjadi

Sering Disalahpahami, Ini Perbedaan Frugal Living dengan Hidup Pas-pasan

Beeru Stevia Diduga Berisi Pemanis Buatan, Apa Risikonya bagi Penderita Diabetes Jika Terkonsumsi?

Usia Berapa Otak Manusia Paling Tajam? Ternyata Bukan Saat Masih Muda

Sering Dikira Flu, Virus yang Disebarkan Nyamuk Ini Bisa Menyerang Otak dan Berakibat Fatal

Gelembung AI di China Disebut Pecah, Apa Artinya dan Bagaimana Dampaknya bagi Kita?