Belajar dari SBY, Begini Cara Ubah Janji Kampanye Menjadi Program Nyata Pemerintahan
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Bisa Nggak Wahyu Ningsih Jadi CEO Microsoft?
Jika Guru Digaji Lebih Layak, Apakah Kualitas Pendidikan Indonesia Akan Meningkat?
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Rudiantara mengatakan permintaan maaf Pavel Durov secara tertulis telah dia terima melalui surat elektronik.
Dream - Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara menyatakan telah menerima permohonan maaf dari CEO Telegram, Pavel Durov.
Secara tertulis, kata Rudiantara, Durov mengakui telah mengabaikan surat elektronik berisi permohonan pemblokiran kanal yang menyebarkan materi seputar terorisme dan radikalisme.
"Saya sudah menerima email mengenai permintaan maaf dari Pavel Durov, CEO Telegram," kata Rudiantara, dikutip Dream dari setkab.go.id, Selasa, 18 Juli 2017.
Rudiantara mengatakan Durov tidak menyadari pemerintah melalui Kemenkominfo telah beberapa kali mengirimkan email permintaan penutupan saluran yang menyebarkan konten terorisme dan radikalisme kepada Telegram.
Durov baru memberikan respon usai pemerintah memblokir Telegram. Menurut Rudiantara, pihak Telegram kini mengusulkan adanya komunikasi khusus untuk menangani konten negatif terutama terkait terorisme dan radikalisme.
"Saya mengapresiasi respons Pavel Durov tersebut dan Kementerian Komunikasi dan Informasi akan menindaklanjuti secepatnya dari sisi teknis dan SOP bisa diimplementasikan," kata Rudiantara.(Sah)