Mau Berbuat Baik, Kalangan Miliarder Kebingungan `Buang` Uang

Reporter : Arie Dwi Budiawati
Selasa, 24 April 2018 08:15
Mau Berbuat Baik, Kalangan Miliarder Kebingungan `Buang` Uang
Selain dananya berlipat-lipat, investor ingin uangnya digunakan untuk kebaikan. Tapi...

Dream – Kalangan orang superkaya menginginkan investasi yang lebih banyak belakangan ini. Mereka juga menginginkan uang mereka bisa digunakan untuk kegiatan positif di dunia.

Namun, instrumen yang bisa memberikan kedua manfaat ini masih kurang.

Dilansir dari CNBC, Selasa 24 April 2018, UBS, bank pengelola kekayaan terbesar secara global, mengatakan masyarakat dunia selama ini mengenal istilah investasi berkelanjutan. Istilah ini merujuk kepada instrumen investasi yang tak hanya bertujuan laba tapi juga memberikan kebaikan untuk masyarakat banyak.

Sayangnya niat mulia produk investasi yang bertanggung jawab terhadap masyarakat ini masih relatif sedikit. Kalaupun ada tak sesuai dengan kemauan investor. Sebab, ada saja produk investasi yang menempatkan dana di sektor yang tidak diinginkan.

“ Mungkin Anda tak ingin berinvestasi dalam tembakau, senjata api, dan alkohol,” kata Chief Investment Officer UBS untuk orang yang super kaya, Simon Siles.

Alih-alih menghindari perusahaan “ buruk” dan hanya berinvestasi di perusahaan dengan peringkat kredit yang baik, Siles mengatakan investor ingin portofolionya mencerminkan apa yang mereka yakini.

Misalnya, investor ingin menjadi bagian dalam mendorong pembangunan global dan memilih surat utang yang diterbitkan oleh lembaga seperti World Bank dan Asia Development Bank. Investor juga bersemangat tentang surat utang yang hasilnya digunakan untuk kegiatan yang bermanfaat bagi lingkungan.

“ Sebagian besar peluang di industri fokus pada ekuitas, pendanaan, dan ETF tertentu daripada memikirkan konteks portofolio,” kata dia.

Ketidaksesuaian produk investasi berkelanjutan dengan apa yang diinginkan investor membuat penanam modal membuat proporsi yang kecil untuk investasi berkelanjutan di portofolio investasi.

Meskipun demikian, investasi berkelanjutan ini tumbuh 25 persen dari US$22,89 triliun (Rp264.028 triliun) pada 2014 menjadi US$26,3 triliun (Rp367.404 triliun) pada 2016.

Pada saat yang sama, kata Siles, orang super kaya masih memegang uang tunai dalam jumlah yang besar.

Mereka setidaknya memiliki uang sebesar US$30 juta (Rp419,09 miliar) dalam aset yang bisa diinvestasikan. Ada 35 persen orang ultra kaya yang menginvestasikan dananya ke uang tunai. Siles menyarankan investor untuk menanamkan modalnya ke investasi berkelanjutan.

(Sah)

 

Beri Komentar