Mengeluh Harga Eceran Rokok Naik, Ini Alasan Pengusaha

Reporter : Arie Dwi Budiawati
Selasa, 11 Oktober 2016 10:13
Mengeluh Harga Eceran Rokok Naik, Ini Alasan Pengusaha
Tahun depan, tarif cukai dan harga eceran rokok naik.

Dream – Tak seperti dibayangkan akan naik Rp 50 tibu per bungkus, pemerintah hanya menaikkan tarif cukai rokok sebesar 10,54 persen mulai 1 Januari 2017. Meski publik menganggap terlalu kecil, para pengusaha rokok justru keberatan dengan kenaikan tarif ini.

Ketua Umum Gabungan Produsen Rokok Putih Indonesia (Gapprindo), Muhaimin Moeftie, menilai kenaikan ini bakal memukul industri rokok, terlebih bagi rokok sigaret putih mesin (SPM).

Dalam hitungannya, cukai SPM naik 12 persen dan harga per batang bisa naik 10 persen.

“ Sekarang industri saja stagnan. Kasih kami nafas dulu,” kata Muhaimin di Jakarta, dilansir dari Merdeka.com, Selasa 11 Oktober 2016.

Dia beralasan, jika kenaikan cukai rokok seiring dengan laju inflasi yang mencapai 6 persen, pelaku industri rokok masih bisa mengimbanginya.

Namun dengan kenaikan cukai dan harga jual eceran, diakui akan memukul industri rokok, terlebih daya saing industri yang terus melemah.

Selama dua tahun ini, dia mengatakan volume industri masih tetap, tanpa perkembangan berarti.

“ Setelah naik ini, (kalau) kami masih stagnan, itu sudah sangat bagus,” kata dia.

Muhaimin mengatakan industri rokok akan semakin tergerus apabila bahan baku dan upah buruh naik. “ Volume industri stagnan dan prospek itu akan semakin tergerus,” kata dia.(Sah)

1 dari 1 halaman

Bukan Rp50 Ribu, Ini Harga Jual Baru Rokok di 2017

Dream – Pemerintah telah menaikkan cukai rokok rata-rata sebesar 10,54 persen per 1 Januari 2017. Dengan demikian, harga rokok resmi naik mulai tahun depan.

Dilansir dari setkab.go.id, Senin 10 Oktober 2016, perubahan tarif cukai tersebut tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan No. 147/PMK.010/2016 tentang Perubahan Ketiga Atas Peraturan Menteri Keuangan No. 179/PMK.011/2012 tentang Tarif Cukai Hasil Tembakau.

“ Ketentuan mengenai Batasan Harga Jual Eceran per Batang atau Gram dan Tarif Cukai per Batang atau Gram sebagaimana tercantum dalam Lampiran II (produk dalam negeri) dan Lampiran III (untuk hasil tembakau yang diimpor), mulai berlaku pada tanggal 1 Januari 20017,” bunyi Pasal 2 ayat (2b,c).

Mengacu terhadap payung hukum itu per 1 Januari 2017, harga jual eceran rokok sigaret kretek mesin (SKM) paling rendah sebesar Rp655 per batang dan harganya naik dari Rp590 per batang. Kemudian, harga rokok sigaret putih mesin (SPM) sebesar Rp585 per batang dan harganya naik dari Rp505 per batang.

Harga baru rokok sigaret kretek tangan (SKT) dijual paling rendah seharga Rp400 per batang. Harganya naik Rp30 per batang dari Rp370 per batang.

Harga rokok sigaret kretek tangan filter (SKTF) dan sigaret putih tangan filter (SPTF) dijual minimal seharga Rp655 per batang. Sebelumnya, kedua jenis rokok ini dibanderol dengan harga Rp590 per batang.

Bagaimana dengan rokok impor? Berbagai jenis rokok impor pun juga turut naik. Harga eceran terendah rokok SKM impor sebesar Rp1.120 per batang, SPM sebesar Rp1.030 per batang, SKT/SPT sebesar Rp1.215 per batang, serta SKTF dan SPTF sebesar Rp1.120 per batang.

“ Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan,” berikut bunyi Pasal II ayat 3 PMK No. 147/PMK.010/2016 yang diundangkan oleh Dirjen  Perundang-undangan Kementerian Hukum dan HAM, Widodo Ekatjahjana pada 4 Oktober 2016 itu.(Sah)

Beri Komentar
Tutorial Ikuti Audisi LIDA 2020 Indosiar di KapanLagi Lewat Handphone