Kedai Kopi Kito Rato, Bukti Penyandang Disabilitas Bisa Mandiri

Reporter : Arie Dwi Budiawati
Selasa, 3 Desember 2019 18:36
Kedai Kopi Kito Rato, Bukti Penyandang Disabilitas Bisa Mandiri
Pendiri Kito Rato sebagian besar merupakan peserta Disable Associate Program yang diselenggarakan Permata Bank.

Dream - Sebagian besar penyandang disabilitas Sampai kini masih terus berjuang untuk bisa diterima masyarakat. Umumnya, yang dihadapi oleh penyandang disabilitas adalah ketidakmampuan bersaing dalam berbagai sektor, terutama memperoleh pendidikan dan pekerjaan yang layak.

PT Bank Permata Tbk (Permata Bank) turut mendorong penyandang disabilitas untuk mendapatkan kesetaraan dengan program Brave (Because Everyone is Able and Creative).

“ Program Brave ini bertujuan untuk menciptakan kesetaraan bagi penyandang disabilitas,” kata Head of Corporate Affairs Permata Bank, Richele Maramis, di Jakarta, Selasa 3 Desember 2019.12.3

Richele mengatakan dukungan yang diberikan perusahaan berupa pendidikan literasi, inklusi keuangan dan pemberdayaan kewirausahaan. Untuk menggelar acara ini, pihaknya bekerja sama dengan Balai Besar Rehabilitasi Vokasional Penyandang Disabilitas (BBRVPD) Cibinong.

Dari kerja sama ini, BBRVPD melatih penyandang disabilitas dalam berbagai keterampilan, seperti pembentukan karakter serta literasi keuangan dan perbankan. Kemudian, mitra akan memilih pekerjaan sesuai dengan bidang yang disukai, seperti berbisnis.

Michele mencontohkan bisnis kopi “ Kito Rato” didirikan oleh sebagian besar pendirinya berasal dari Disable Associate Program dari Permata Bank.

 Kito Rato

Kedai kopi Kito Rato diketahui dibangun oleh tiga pemuda penyandang disabilitas. Mereka adalah Wahyu Alistia (25) asal Lampung yang beraktivitas tanpa satu tangan, Saldi Rahman (23) asal Padang tanpa satu kaki, dan Rendy Agusta (25) asal Pekanbaru tanpa satu tangan.

Bukan membuka toko, kedai kopi itu menggunakan konsep food truck. VW Combi berwarna cokelat putih itu menjadi tempat berdagang sehari-hari.

Sebelumnya, para pemuda asal Pulau Sumatera ini telah bekerja di perusahaan. Sekian lama menjadi pekerja, mereka memutuskan keluar dari zona nyaman demi mengubah hidup lebih bermanfaat dan mandiri.

" Kami ingin menunjukkan bahwa kami mampu berwirausaha seperti anak muda lainnya, tidak ada batasan dan alasan bagi kami untuk menggapai cita-cita yang sama," kata Wahyu dikutip Dream dari Liputan6.com

(Laporan : Diah Tamayanti)

1 dari 4 halaman

Sama Bisa Bisa Sama, Tampilan Menakjubkan Para Disabilitas di JFW 2020

Dream - British Council berhasil mencuri perhatian penonton Jakarta Fashion Week (JFW) 2020 di Senayan City, Jakarta. Para model yang mereka hadirkan membuat tamu undangan yang hadir ikut tersentuh.

Hadir untuk yang kedua kali di ajang JFW 2020 pada Kamis, 24 Oktober 2019, British Council menghadirkan para disabilitas yang menjadi dancer di salah satu bagian penampilan mereka. 

Di media sosial, British Council telah sejak lama mengampanyekan tagar #SamaBisaBisaSama untuk maksimalkan aksinya kali ini.

 British Council

Foto: Instagram.com/idbritish

Berkolaborasi dengan Cotton Ink, British Council mengajak para pelaku industri mode dan ekonomi kreatif agar lebih membawa aspek keberagaman pada setiap karyanya.

Keberagaman yang ditampilkan dalam show British Council bertajuk “ Intoart” ini menceritakan tentang eksistensi disabilitas dalam kehidupan masyarakat.

 ria sarwono

Foto: Instagram.com/ria.sarwono

2 dari 4 halaman

Karya Penyandang Disabilitas Mejeng di JFW 2020

Perlu kita tahu, saat ini tak sedikit orang menganggap kondisi distabilitas merupakan sebuah kekurangan mutlak, padahal anggapan itu tidaklah benar.

Kondisi ini juga kerap dianggap sebagai suatu ketidakberdayaan.

Dengan hadirnya " Intoart'' di panggung JFW 2020, stigma ini dipatahkan dengan keberadaan karya-karya para seniman dan model disabilitas yang dihadirkan.

Menggandeng ilustrator Ayang Cempaka, Cotton Ink mengusung 'Casual with A Twist' dengan melihatkan corak floral dan warna-warni penuh semangat pada koleksinya.

 Cotton Ink

Foto: Instastory @cottonink

 

3 dari 4 halaman

Ekspresi Penyandang Disabilitas di JFW 2020

Garapan Cotton Ink dan Ayang Cempaka ini dianggap mencerminkan semangat kreativitas dan eskpresi diri dalam kondisi disabilitas yang dipresentasikan tiga perempuan penyandang disabilitas dari beragam profesi yaitu Feby Widya Putri, Namira Zania, dan Marta Hardy.

 Cotton Ink

 Cotton Ink

 Cotton Ink

Foto: Instastory @cottonink

" Ini adalah kolaborasi yang sangat menarik bagi kami," terang Ria Sarwono selaku Owner dari Cottonink.

 Cotton Ink

Ria Sarwono & Carline Darjanto/Foto: Insagram @carlinedarjanto

 

4 dari 4 halaman

Tak cuma itu, seluruh penonton di fashion tent JFW 2020 berhasil dibuat haru dengan adanya penampilan Gigi Art of Dance yang memeriahkan pagelaran busana ini.

Mereka adalah lima orang penari distabilitas yang semangat menampilkan tariannya dengan mengenakan koleksi dari Cotton Ink dan Ayang Cempaka.

 Cotton Ink

Menyatakan dukungan tema ini, fashion hijab Tantri Namirah dan penyanyi Kallula juga ikut melenggang di panggung JFW 2020 'Casual with A Twist'.

Beri Komentar
Canggih, Restu Anggraini Desain Mantel dengan Penghangat Elektrik