Guru Honorer Semarang Terjerat Pinjol, Utang Rp3,7 Juta Harus Bayar Rp206 Juta

Reporter : Razdkanya Ramadhanty
Jumat, 4 Juni 2021 17:30
Guru Honorer Semarang Terjerat Pinjol, Utang Rp3,7 Juta Harus Bayar Rp206 Juta
Untuk melunasi utang itu, guru honorer itu harus menggadaikan sertifikat rumah orangtuanya.

Dream - Pinjaman online (pinjol) kembali menjerat gugu honorer. Kali ini, menimpa seorang guru SD di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Guru wanita berinisial AM itu harus mengembalikan uang Rp206 juta meski awalnya hanya meminjam Rp3,7 juta melalui salah satu aplikasi.

AM mengaku terlilit utang pinjol karena terdesak kebutuhan membeli susu anak saat tidak punya uang sama sekali. Dia mengaku pada 21 Maret 2021, ekonomi keluarganya benar-benar berada di ujung tanduk.

" Sementara saya mempunyai dua orang anak dimana anak pertama berusia lima tahun dan anak ke dua 16 bulan, sementara kebutuhan harus tetap lanjut,," kata AM, dikutip dari Joglosemar, Jumat 4 Juni 2021.

1 dari 4 halaman

Kebutuhan susu untuk anak-anak memang sangat mendesak, sementara uang simpanan sama sekali tidak ada. Oleh karena itulah dia mengajukan kredit melalui aplikasi yang diunduk lewat playstore.

Aplikasi pinol itu menawarkan pinjaman maksimal Rp5 juta dengan tenor 91 hari. Bunganya 0,04 persen. " Karena saya hanya guru honorer, kalau kredit sebesar Rp5 juta selama tiga bulan masih bisa membayar," tutur AM.

depresi-akibat-teror-pinjaman-online-warga-tulungagung-bunuh-diri-210625c.html" id="link-box-terkait-2" data-position="2">Diduga Depresi Akibat Teror Pinjaman Online, Warga Tulungagung Bunuh Diri

Saat memasang aplikasi pinjol itu, AM melihat banyak sub aplikasi lain yang tidak lain juga pinjalan online. Kala itu dia hanya butuh Rp5 juta dan memilih tiga sub pinjol.

" Bayangan saya dapatnya Rp5 juta kalau plus bunga Rp5,5 juta. Tapi ternyata yang ditransfer ke rekening saya Rp3,7 juta," ujar AM.

2 dari 4 halaman

Tapi, ketentuan pinjaman online itu rupanya tak seperti penawaran awal, yang dibayar hingga 91 hari. Ketika uang sudah masuk rekening, AM diminta membayar utang selama tujuh hari.

" Belum sampai tujuh hari atau masih berjalan lima hari saya sudah diteror untuk melunasi sebesar Rp5,5 juta dan mendapatkan ancaman seluruh data di ponselnya akan disebarkan," tuturnya.

Jaddilah utang yang baru saja cair tersebut tidak terpakai dan langsung dikembalikan. Celakanya, karena takut kurang, AM kembali meminjam di sub aplikasi pinjol tersebut untuk menutup utang sebelumnya.

" Tiga aplikasi pinjol lunas tapi masih enam sub aplikasi yang belum lunas karena untuk melunasi saya harus merangkul aplikasi pinjol lain hingga banyak aplikasi. Sementara untuk melunasi satu utang harus merangkul dua aplikasi pinjol lain," papar dia.

3 dari 4 halaman

Cara itu terus berjalan, akhirnya AM tidak bisa merinci berapa banyak aplikasi yang telah diakses. Akhirnya, utang AM di pinjol itu menumpuk sampai Rp206 juta. " Yang sudah saya lunasi Rp158 juta dan sisanya tinggal Rp47 juta," kata dia.

Namun, AM kemudian memilih tidak membayar sisa tagihan dan memutuskan membawa perkara itu ke jalur hukum. " Karena bunga dari mereka bisa untuk menutup pinjaman saya," tuturnya.

Untuk melunasi utang Rp158 juta juga melalui transaksi di pinjol tersebut. Dia juga mengeluarkan uang pribadi sebanyak Rp20 juta.

" Saat pencairan tidak dibubuhkan surat perjanjian, dan tanda tangan elektronik. Juga tidak ada penyelesaian dengan baik. Tidak ada peringatan, langsung teror," tutur dia.

 

4 dari 4 halaman

Suami AM, WY, bingung membayar tagihan pinjol itu. Dia harus mengambil jalan pintas meminjam di BPR.

" Jaminan saya menggandaikan sertifikat rumah orang tuanya. Tapi hingga saat ini belum lunas masih ada 10 aplikasi lagi yang belum lunas," tutur WY.

Penasehat hukum AM, Muhammad Sofyan, mengatakan bahwa dalam sehari kliennya diteror dan diintimidasi hingga ratusan kali. Teman-teman di kontak AM juga mendapat teror dengan bahasa kasar.

" Terornya itu ada foto AM dan KTP lalu dibubuhi tulisan wanted, dan disebarkan di seluruh kontak AM dan media sosialnya," tutur Sofyan.

Saat mengajukan pinjaman, kata Sofyan, tidak ada perjanjian sama sekali. AM tidak pernah menandatangani surat perjanjian apapun.

" Sehingga jika disebut pinjam-meminjam tidak memenuhi syarat," tutur Sofyan. Kini, AM telah membuat laporan perkara ini ke Polda Jawa Tengah.

Beri Komentar