Prediksi Kondisi Ekonomi RI Setelah Sebulan Masa Transisi PSBB

Reporter : Syahid Latif
Senin, 22 Juni 2020 10:35
Prediksi Kondisi Ekonomi RI Setelah Sebulan Masa Transisi PSBB
Ada kabar baik tapi juga informasi kurang menyenangkan yang membuat kita mesti waspada.

Dream - Sudah sekitar dua pekan masa transisi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) diberlakukan di ibu kota, DKI Jakarta. Sebagai pusat ekonomi dunia, langkah baru membuka akses aktivitas masyarakat demi memacu ekonomi Indonesia ini menjadi perhatian lembaga keuangan asing.

Salah satu analisa dibuat PT Bank DBS Indonesia yang membuat laporan DBS Grup Reserach terkait kembalinya aktivitas pekerja di masa ini. Analisa tersebut dibuat Ekonom DBS group, Radhika Rao.

Dalam keterangan tertulis yang diterima Dream dijelaskan masa transisi PSBB dilakukan secara bertahap di Jakarta dengan empat tahapan. Akhir pekan kemarin atau Sabtu, 20 Juni 2020 merupakan tahap terakhir penerapan transisi PSBB pertama dengan dibukanya tempat rekreasi untuk masyarakat umum.

" Seperti ditekankan dalam catatan kami sebelumnya, tanggapan Indonesia terhadap COVID-19 tidak seketat sebagian besar negara-negara ASEAN. Oleh karena itu, diperlukan kewaspadaan lebih tinggi untuk menekan kurva infeksi saat berbagai kebijakan dihapus," ungkap DBS dalam keterangan tertulisnya.

Analisa DBS menilai beberapa faktor memerlukan pengamatan cermat. Di antara blok ASEAN-6, Indonesia termasuk dalam kelompok negara-negara di mana kasus terus meningkat, bertolak belakang dengan negara-negara seperti, Vietnam atau Thailand, di mana jumlah kasus pada umumnya telah stabil.

 

1 dari 2 halaman

Menurut DBS angka sesungguhnya kasus harian terus meningkat. Pengujian yang dilakukan berada di bawah sebagian besar negara-negara Asia. Secara wilayah, jumlah kasus terkonsentrasi di Pulau Jawa, yang menyumbang separuh dari jumlah kasus nasional dan Jakarta, khususnya, yang menyumbang seperempat jumlah kasus.

Meski tetap harus waspada, DBS menilai pasar domestik Indonesia mengantisipasi masa setelah pandemik sejalan dengan pergerakan harga regoional dan global. Koreksi kurs rupiah dilaporkan telah berkurang dan keluar sebagai pemain unggul di kawasan pada awal Juni lalu.

" Namun, penguatan rupiah akan membuatnya rentan terhadap pembelian saham yang telah mencapai titik support dalam jangka pendek. Kondisi global lebih suram juga tidak membantu."

DBS juga menilai perlambatan ekonomi di Indonesia belum sepenuhnya selesai. PDB triwulan pertama menandai awal lemah untuk tahun 2020 karena pertumbuhan melambat menjadi 3% yoy lebih rendah dari tahun 2029 sebesar 5%. Ini adalah pertumbuhan terlemah sejak akhir 2001 dan lebih dalam dari perlambatan pasca-GFC (lihat di sini).

Indikator ekonomi seperti ekspor April, penjualan ritel, kepercayaan konsumen, indeks PMI, impor barang modal, dan indikator lain cenderung lebih rendah pada bulan April dan kemungkinan pada bulan Mei. " Dengan demikian, penurunan pada triwulan kedua kemungkinan akan lebih dalam sebelum tren berubah menjadi lebih baik pada semester kedua."

Sementara dari indikator lain, DBS menemukan data mobilitas dari Google mengindikasikan kenaikan menjelang minggu ketiga Mei sebelum menurun. Hal ini kemungkinan dipengaruhi oleh Idul Fitri. Setelah itu, pergerakan harga berkurang.

Dari sektor otomotif, penjualan sepeda motor di bulan April 20020 turun lebih dari 70 persen dengan kemungkinan masih tetap lemah di bulan Mei. Diperkirakan pada bulan ini kinerjanya Juni tidak terlalu negatif.

Kemacetan lalu lintas saat jam sibuk masih di bawah kondisi normal dibandingkan dengan periode sama tahun lalu. Kemacetan akan meningkat dalam beberapa minggu ke depan karena kegiatan industri dimulai kembali bersamaan dengan pengoperasian kembali angkutan umum.

 

2 dari 2 halaman

Ada Harapan dai Faktor Eksternal

Dari faktor ekstral, neraca berjalan dalam neraca pembayaran diperkirakan akan membawa secercah harapan dalam situasi penuh tantangan ini. Ekspor di bawah standar kemungkinan diiringi dengan pelemahan impor, memperkuat neraca perdagangan. Neraca dasar pembayaran kemungkinan akan tetap mencatat surplus kecil.

Sementara itu DBS juga mencatat cadangan devisa telah beranjak dari titik terendahnya, dan ini membantu meningkatkan cadangan untuk menutupi biaya impor (cadangan vs impor) menjadi lebih tinggi dibandingkan dengan tingkat cadangan saat guncangan yang ditimbulkan oleh taper tantrum (efek pengumuman kebijakan moneter AS) pada 2013.

Terakhir pergerakan nilati tukar dollar AS terhadap mata uang asing kemungkinan takkan terlalu menekan dan hanya bergerak terbatas. Ini dikarenakan dukungan lewat transaksi mata uang asing (FX swap) dengan bank sentral regional dan global serta lembaga multilateral bersama dengan fasilitas repo senilai USD60 miliar dengan Bank Sentral Amerika Serikat

Beri Komentar