Masyarakat Indonesia Makin Doyan Makan di Luar Rumah

Reporter : Arie Dwi Budiawati
Selasa, 10 Desember 2019 16:12
Masyarakat Indonesia Makin Doyan Makan di Luar Rumah
Masyarakat Indonesia juga makin peduli dengan gaya hidup sehat, lho.

Dream - Tingkat konsumsi masyarakat Indonesia menunjukkan tren kenaikan. Terutama soal konsumsi makanan dan minuman.

DBS Research Group merilis hasil riset konsumsi masyarakat Indonesia hasil perbandingan periode 2008-2010. Dari riset ini, diketahui bahwa masyarakat Indonesia makin doyan konsumsi makanan dan minuman di luar rumah, terutama siap saji. 

Dalam rilis yang diterima Dream pada Selasa, 10 Desember 2019, DBS mencatat pada 2010, orang Indonesia mengeluarkan uang 51,4 persen untuk makanan dan 48,6 persen non makananan.

Untuk kategori makanan, ada 12,8 persen pengeluaran dihabiskan untuk makanan dan minuman, 8,9 persen untuk sereal, serta 5,3 persen untuk rokok dan tembakau.

Di kategori non makanan, orang Indonesia menghabiskan 24,6 persen dari total belanja untuk membeli fasilitas rumah tangga, 12,5 persen barang dan jasa, serta 5,1 persen barang tahan lama.

Sedangkan hasil riset pada 2018 menunjukkan proporsi yang berubah. DBS mencatat kategori makanan (tak termasuk makanan dan minuman siap saji) dan kategori pakaian menyumbang persentase yang lebih kecil, yaitu 35,6 persen.

Di bagian keranjang konsumsi makanan, porsi belanja untuk sebagian besar produk makanan menurun. Misalnya, sereal turun 2,9 ppt (point persentasi).

1 dari 6 halaman

Belanja Penganan Siap Saji Meningkat

Tetapi, ada juga yang meningkat seperti belanja buah yang naik 0,3 ppt dan daging 0,2 ppt. Proporsi belanja rokok dan tembakau pun naik 0,07 ppt.

Angka-angka ini sesuai dengan pandangan pertumbuhan pendapatan menyebabkan pergeseran dalam pola konsumsi setelah pola dasar terpenuhi.

DBS juga mengungkap belanja makanan dan minuman siap saji melesat. Angkanya naik 5,4 ppt selama 2010-2018. Peningkatan ini berkaitan dengan makan di luar rumah serta konsumsi makanan dan minuman dalam kemasan.

2 dari 6 halaman

Proyeksi 2030

Riset ini juga memproyeksikan pengeluaran pada 2030. Diperkirakan belanja makanan dan makanan berkurang sampai 29,3 persen.

Untuk kategori makanan, tetap ada pengeluaran tertinggi pada produk makanan dan minuman siap saji. Hal ini berkaitan dengan gaya hidup masyarakat yang semakin doyan makan di luar rumah

Lalu, pengeluaran untuk konsumsi daging, sayur-mayur, dan buah-buahan juga akan naik. Tentu ini didorong oleh peningkatan pendapatan dan gaya hidup sehat.

Sementara untuk kategori non-makanan, DBS memperkirakan perumahan dan fasilitas rumah tangga serta barang dan jasa juga membukukan pertumbuhan lebih tinggi.

Diprediksi pengeluaran perumahan dan rumah tangga naik menjadi US$304 miliar, makanan (kecuali makanan dan minuman siap saji) US$248 miliar, makanan dan minuman siap saji US$170 miliar.

“ Mengingat luasnya kepulauan Indonesia, yang terdiri atas 34 provinsi dengan beragam pendapatan, penggerak ekonomi dan pola hidup, wajar jika keranjang konsumsi di satu provinsi berbeda dari provinsi lain. Dalam hal ini, DKI Jakarta, dengan pendapatan per kapita PDB jauh lebih tinggi, sangat berbeda dari semua daerah lain di Indonesia,” demikian pernyataan tim DBS.

3 dari 6 halaman

Hati-Hati! Kecanduan Belanja Online Bisa Bikin Gangguan Mental

Dream - Festival belanja online yang menebar promo dan diskon tak hanya membuat dompet jadi kosong. Jika sudah tak bisa dikendalikan, kebiasaan belanja online ternyata bisa membuat seseorang kecanduan dan mengidap gangguan mental.

Dikutip dari World of Buzz, Jumat 15 November 2019, pakar menyebut kecanduan belanja online sebagai buying shopping disorder (BSD). Istilah ini memang terkenal sejak puluhan tahun yang lalu. Tapi, istilah BSD sesuai dengan perkembangan teknologi.

Dikatakan ada 1 dari 20 orang yang bisa terserang BSD. “ Kondisi ini sudah terlalu lama tidak dikenali,” kata psikolog Hanover Medical School di Jerman, Muller.

Dari studi yang dilakukan kepada 122 pasien yang mencari pertolongan untuk menghentikan kecanduan belanja online ditemukan fakta ratusan pasien ini mengidap depresi dan tingkat kecemasan yang lebih tinggi.

 

 © Dream

 

Mereka beralasan maraknya toko online, aplikasi, dan layanan pengiriman barang telah memberikan “ rasa”. Kemajuan internet telah membuat orang semakin mudah berbelanja.

“ Maksud saya, lihatlah betapa gilanya pada hari-hari spesial, seperti 11.11 atau 11.12 di mana semua orang mengakses aplikasi kapan pun sepanjang hari dan membeli beberapa item sekaligus. Ini berarti anak yang lebih muda sekalipun menunjukkan tanda-tanda BSD,” kata dia.

Muller menegaskan bahwa BSD tidak bisa diklasifikasikan sebagain gangguan sendiri. Tapi dia termasuk ke dalam bagian yang disebut gangguan kontrol impulsif spesifik lainnya.

4 dari 6 halaman

Bisa Sebabkan Gangguan Pengendalian Diri dan Tertekan Karena Utang

Para peneliti menjelaskan BSD bisa membuat keinginan untuk membeli barang-barang dan puas saat menghabiskan uang. Tapi, ini juga bisa membuat gangguan dalam pengendalian diri, tekanan ekstrem, masalah kejiwaan lainnya, kesulitan hubungan, serta kekacauan fisik dan utang.

“ Kami berharap bahwa prevalensi belanja oline yang membuat kecanduan, akan mendorong penelitian di masa depan yang membahas karakterisitik fenomologis,fitur, dan konsep perawatan khusus,” kata Muller.

Sekadar informasi kajian ini dipublikasikan dalam jurnal Comprehensive Psychiatry.

5 dari 6 halaman

Stres Istri Belanja Online Rp601 Juta, Suami Nekat Mau Lompat dari Lantai 33

Dream - Pesta belanja online 11.11 telah berakhir. Sahabat Dream sudah mendapatkan barang incaran dan tak sabar menunggu paket itu datang? 

Pesta belanja online tak hanya dilakukan di Indonesia. Di China, pelaku e-Commerce juga menggoda warganya dengan menggelar pesta belanja 11.11 lewat event Single’s Day. Beragam promo membanjiri laman e-Commerce mulai flash sale, penjualan barang dengan harga sangat murah, sampai dengan gratis ongkos kirim.

Event pesta diskon ini bisa membuat banyak orang kalap. Tergiur dengan diskon atau promo yang ditawarkan, banyak orang yang membeli barang yang sebetulnya tak mereka butuhkan. Alhasil, pengeluaran bulanan menjadi membengkak.

Tak hanya kesehatan dompet, mental dan emosi pengguna juga akan terpengaruh. Terlebih lagi para suami.

 

 © Dream

 

Dikutip dari World of Buzz, Rabu 13 November 2019, seorang pria bernama Wang dari Luzhou, Sichuan, Tiongkok, sangat tertekan setelah mengetahui istrinya, Zhan, boros saat berbelanja di Single’s Day. Saking tertekannya, dia mengaku ingin bunuh diri.

Dilansir dari China Pres, polisi menerima laporan ada seseorang yang berniat lompat dari atap bangunan 33 lantai. Kejadian ini berlangsung pada 10 November 2019 sekitar jam 8 malam waktu setempat.

Polisi menyelamatkan sang pria dan menenangkannya. Terlihat Wang sangat emosional. Polisi mengembalikan pria itu kepada sang istri yang berjanji tidak akan boros berbelanja online.

6 dari 6 halaman

Belanja hingga Rp601 Juta

Belakangan, Wang diketahui stes berat karena istrinya memiliki utang yang besar selama promosi festival 11.11. Zhan membeli barang-barang mewah seperti tas, parfum, pakaian, dan lainnya senilai total 300 ribu yuan (Rp601,13 juta).

Pria ini memutuskan untuk mengakhiri hidup karena tak tahu cara melunasi utang ratusan juta itu.

Wang mengatakan kejadian itu bukan yang pertama kali. Istrinya memang dikenal gemar berbelanja. Namun kebiasaan itu semakin membuat usai istrinya melahirkan anak ketiga setahun yang lalu. 

Saat festival 11.11 tahun lalu, istrinya telah belanja senilai 200 ribu yuan (Rp400,75 juta). Zhan memang berjanji akan mengendalikan diri dalam berbelanja, tapi tahun ini keingannya dilanggar.

Wang mengatakan hanya menghasilkan beberapa ribu yuan per bulan dan menjadi tulang punggung keluarganya. Sementara itu, sang istri dulunya bekerja di perusahaan properti. Setelah menikah dan melahirkan, dia tinggal di rumah untuk mengurus anak-anaknya.

Beri Komentar
Indah Permatasari: Karena Mimpi Aku Hidup