Sosok Low Tuck Kwong, Dulu Perantau Kini Raja Batu Bara Indonesia

Reporter : Editor Dream.co.id
Kamis, 17 September 2026 16:22
Sosok Low Tuck Kwong, Dulu Perantau Kini Raja Batu Bara Indonesia
Low Tuck Kwong santer dikabarkan bakal melepas saham PT Bayan Resources Tbk kepada Haji Isam. Kabar itu segera dibantah direksi perusahaan. Inilah sosok Low Tuck Kwong, raja batu bara RI

DREAM.CO.ID - Dua surat dari emiten berbeda datang ke laman otoritas Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu, 19 Agustus 2026. Keduanya berasal dari PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR) dan PT Bayan Resources Tbk (BYAN).

JARR adalah entitas bisnis yang selama ini bergerak di bidang perkebunan dan pengolahan minyak kelapa sawit terpadu. Sementara BYAN sudah termasyhur sebagai salah satu penguasa industri tambang batu bara di Indonesia yang punya proyek besar di Kalimantan Timur dan Selatan.

Berbeda bidang usaha, keduanya dipersatukan oleh satu isu. Rumor di lantai bursa yang membuat manajemen dua perusahaan itu harus memberikan penjelasan kepada investor, yang jadi pemegang sahamnya.

Isu ini bergulir dari kunjungan pengusaha Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam ke areal operasional tambang Bayan Resources di Kutai Kartanegara, Kaltim pada, Sabtu 15 Agustus 2026.

Dalam kunjungan itu, Haji Isam ditemani pemegang saham pengendali Bayan Resources Dato' Low Tuck Kwong dan pemilik Republik Korpora Indonesia (RKI), Norman Joesoef.

Low Tuck Kwong

1 dari 7 halaman

Yang awalnya kunjungan ke areal tambang berubah seketika menjadi isu besar. Haji Isam dikabarkan ingin membeli 62% saham BYAN milik keluarga Low Tuck Kwong. Rumor yang langsung ditangkap pelaku pasar dan membuat harga saham JARR serta BYAN bergerak liar.

Data perdagangan BEI menunjukan, saham JARR mulai merangkak naik sejak 18 Agustus 2026 kala ditutup di level 2.510 per saham. Hingga penutupan kemarin (Rabu, 16/9/2026), sahaam JARR kokoh di level 3.890 per saham.

Padahal sebelum rumor tersebut mencuat, relatif bergeral landai di level terendah 1780 sampai 2.010 per saham pada 14 Agustus 2026.

Kondisi hampir serupa juga terjadi pada saham BYAN. Harga saham perusahaan milik Low Tuck Kwong ini mulai melonjak pada 14 Agustus 2026 dan mencapai posisi tertinggi di level 17.275 pada 18 Agustus 2026.

Berbeda dengan JARR yang terus menguat, saham BYAN justru perlahan-lahan melaju melemah sejak level tertingginya itu. Pada penutupan perdagangan 16 September 2026, saham BYAN berada di level 11.350 atau lebih rendah dibandingkan periode sebelum rumor pengambilalihan saham BYAN milik Low Tuck Kwong muncul per 19 Juni 2026.

2 dari 7 halaman

Low Tuck Kwong

Volatilitas inilah yang membuat otoritas BEI bergerak meminta penjelasan sekaligus jawaban atas rumor tersebut. Dalam surat tersebut, manajemen kedua perusahaan menyatakan membantah adanya rencana aksi korporasi dan tidak mengetahui informasi terkait kabar rencana pengambilalihan saham BYAN oleh JARR dari salah satu pemegang sahamnya.

Namun bukan berarti pintu negosiasi tertutup. Corporate Secretary PT Bayan Resources, Jenny Quantero dalam suratnya kepada otoritas BEI pada 19 Agutus 2026 menyampaikan, " Berdasarkan informasi dari pemegang saham utama, bahwa saat ini pemegang saham utama tidak melakukan transaksi apapun terkait kepemilikan sahamnya di Perseroan, Namun demikian sebagai investor, pemegang saham utama dapat saja mempertimbangkan berbagai kesempatan dan peluang untuk memaksimalkan investasi mereka di Perseroan."

3 dari 7 halaman

Miliarder Pemegang Gelar Raja Tambang Batubara

Munculnya rumor yang akhirnya dibantah kedua manajemen perusahaan ini membuat sosok Low Tuck Kwong kembali masuk radar media dan publik. Selama ini namanya memang tak pernah lepas dari sorotan. Apalagi sosok yang menginjak usia 78 tahun ini tak pernah absen di daftar Orang Terkaya Indonesia versi Forbes.

Kekayaan pria kelahiran Singapura yang telah menjadi Warga Negara Indonesia (WNI) mulai mencuri perhatian pada 2010. Mengutip laman Forbes, Low Tuck Wong saat itu ditaksir baru memiliki kekayaan bersih US$2,6 miliar.

Dengan kekayaan Rp23,8 triliun menurut kurs saat itu, Low Tuck Kwong tercatat sebagai orang terkaya Indonesia ketujuh.

Sepanjang perjalanannya wara-wiri di deretan orang terkaya Forbes, posisi tertinggi yang pernah diraih Low Tuck Kwong terjadi dalam 5 tahun terakhir. Low Tuck Wong pernah menjadi orang terkaya kedua di Indonesia dalam Indonesia's 50 Richest tahun 2022. Namun dalam tiga tahun berikutnya, posisi melorot ke posisi ketiga dan terakhir peringkat keempat pada tahun 2025 pada daftar yang sama.

Merosotnya peringkat Low Tuck Kwong setahun kemarin, tulis Forbes dalam laporannya, disebabkan kekayaanya yang mengupas US$2,1 miliar menjadi US$24,9 miliar per 10 Desember 2025. Kekayaan itu menghilang akibat turunnya nilai saham yang dipicu pelemahan harga batu bara dan membengkaknya ongkos produksi perusahaan.

4 dari 7 halaman

Tangan Dingin di Masa Krisis

Kembali Salip Hartono Bersaudara, Juragan Batu Bara Low Tuck Kwong Kembali Jadi Oranag Terkaya Indon

Kekayaan yang dihimpun Low Tuck Kwong bukan menunggu durian dari langit. Semua dibangun dari kerja keras dan kejelian bisnis. Sosok low profile yang lahir di Singapura pada 17 April 1948, memulai karier dari nol.

Low Tuck Kwong muda mulai belajar berbisnis dari perusahaan konstruksi ayahnya, David Low Yi Ngo, di Singapura.Pada tahun 1972, dia memutuskan merantau ke Indonesia. Merintis bisnis sebagai kontraktor melalui PT Jaya Sumpiles Indonesia (JSI).

Lewat tangan dinginnya, JSI dikenal sebagai salah satu pionir pekerjaan tanah dan konstruksi fondasi bawah tanah yang rumit di Indonesia. Pencapaiannya itu tak lantas membuatnya berpuas diri.

Pria yang mulai bekerja di usia 20-an ini memutuskan terjun ke sektor energi dengan merambah pertambangan batubara kontrak dan menjadi kontraktor tambang terkemuka pada akhir 1980-an.

Di tengah badai Krisis Finansial Asia menerjang pada November 1997 yang membuat banyak pengusaha tiarap, Low Tuck Kwong justru mengambil langkah nekat.

5 dari 7 halaman

Mengutip laman Bayan.com.sg, dia semakin dalam merambah bisnis pertambangan batu bara dengan mengakuisi PT Gunung Bayan Pratamacoal (GBP) dan PT Dermaga Perkaspratama (DPP) pada 1988. Saat itu GBP belum memulai pertambangan dan Balikpapan Coal Terminal (di bawah DPP) memiliki kapasitas 2,5 juta ton per tahun.

Langkah spekulatif di tengah kejatuhan nilai tukar rupiah inilah yang menjadi titik balik dan fondasi awal dari seluruh imperium Bayan Resources saat ini.

Di bawah kepemimpinan Dato’ Dr. Low, Bayan Group dengan cepat bertransformasi menjadi perusahaan tambang batubara terintegrasi vertikal yang sukses dan bereputasi. Bayan Group dibentuk melalui sejumlah akuisisi strategis di sektor batubara dan didirikan dengan rekam-jejak terbukti dalam mengembangkan tambang batubara baru (greenfield).

Di tahun-tahun terakhir Proyek Tabang/Pakar telah berekspansi dari operasi pertambangan berskala kecil yang hanya memproduksi 1,9 juta ton pada tahun 2014 hingga memproduksi sekitar 22,7 juta ton batubara pada tahun 2018. Hal ini telah secara pesat meningkatkan posisi Bayan di pasar batubara, menjadi produsen batubara peringkat 5 teratas di Indonesia. Pertumbuhan lebih lanjut telah direncanakan untuk tahun-tahun berikutnya, dengan target untuk meningkatkan Proyek Tabang/Pakar agar memproduksi lebih dari 60 juta ton per tahun pada 2026.

6 dari 7 halaman

Filantropis yang Penyayang Satwa

Low Tuck Kwong

Kehidupan Low Tuck Kwong tak sepenuhnya hanya seputar bekerja dan menggali tambang batu bara. Di sela kesibukannya, dia masih menyempatkan waktu menyalurkan kecintaannya terhadap satwa. Low Tuck Kwong menginvestasikan dana pribadi lebih dari US$ 4 juta atau sekitar Rp60 miliar untuk membangun Tabang Zoo (Kebun Binatang Gunung Bayan) di dekat area tambangnya di Muara Tae, Kalimantan Timur.

Kebun binatang ini merawat ratusan hewan exotic yang habitatnya terancam, termasuk orangutan, harimau sumatra, hingga beruang madu. Uniknya, kebun binatang ini memegang rekor MURI karena merawat spesies hewan albino terbanyak di Indonesia.

Selain menyayangi binatang, Low Tuck Kwong juga memiliki perhatian besar pada dunia pendidikan. Melalui Yayasan Low Tuck Kwong, ia telah mendonasikan dana ratusan juta dolar di Indonesia dan negeri kelahirannya, Singapura.

7 dari 7 halaman

Di Indonesia, ia pernah mendonasikan Rp 50 miliar untuk Biaya Operasional Pendidikan di Universitas Indonesia (UI). Di Singapura, yayasannya mendonasikan 101 juta dolar Singapura ke Lee Kuan Yew School of Public Policy (NUS) dan jutaan dolar ke Nanyang Technological University (NTU) guna mendanai beasiswa bagi mahasiswa Asia, khususnya talenta berbakat dari Indonesia.

Low Tuck Kwong

Low Tuck Kwong juga dikenal memiliki apresiasi tinggi terhadap seni rupa, namun ia hanya muncul jika ada karya yang benar-benar menarik perhatiannya. Salah satu momen langka yang sempat menyita perhatian publik adalah ketika ia membeli lukisan karya Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang berjudul “ Standing Proud Like A Rock” senilai Rp 6,5 miliar dalam sebuah acara.

Kini setelah lebih dari 5 dekade merintis Bayan Group, tak mengherankan jika gelar Raja Batu Bara melekat pada nama Dato' Dr. Low Tuck Kwong. Gelar yang mungkin akan dilepaskannya jika pria berkacamata benar-benar melepas kepemilikan sahamnya di Bayan Resouces. Rumor yang sudah dibantah manajemen Bayan namun tidak ada yang bisa memastikannya di masa depan.

Beri Komentar