Mirwan Suwarso, Orang Madiun Dibalik Melejitnya Klub Sepak Bola Eropa Como-1907

Reporter : Eko
Kamis, 17 September 2026 12:38
Mirwan Suwarso, Orang Madiun Dibalik Melejitnya Klub Sepak Bola Eropa Como-1907
Tangan dingin Mirwan Suwarso membawa klub yang dua kali bangkrut dan terlempar ke Serie D, Como 1907, menembus panggung elite Eropa.

DREAM.CO.ID - Dua-duanya tak banyak dikenal. Baik Como 1907, maupun para pucuk pimpinan. Klub sepakbola itu memang tidak segemilang Inter Milan, yang semenjak didirikan 1908 sudah menyabet scudetto pada prima categoria, yang pada masa itu menjadi laga dengan kasta terpucuk di negeri Italia.

Pada masa itu, juga lebih dari seratus tahun sesudahnya, Como 1907 juga bukan Juventus yang memenangi prima catagoria tahun 1905 dan terus benderang pada berbagai laga. Bukan pula AC Milan, yang berkali-kali menjadi scudetto, yang kemudian mengharumkan kota Milan kepada para pecinta sepakbola di seluruh penjuru dunia.

Como, kota di tepi utara negeri itu yang berbatasan dengan halaman belakang Swiss, lebih dikenal oleh sejarah oleh sebab memiliki begitu banyak bangunan arsitektur klasik, serta menjadi tujuan para pelancong sejarah ketimbang para pesepakbola. Kota sejarah. Bukan kota bola.

Dan di kota itu, Como 1907 hanyalah sebuah klub sepakbola yang didirikan oleh sejumlah warga. Kota kecil, yang menurut World Population Review, pada tahun 2026 ini jumlah penduduknya cuma 83 ribu orang. Dengan jumlah segitu, kalau mereka semua menonton di Stadion Utama Gelora Bung Karno Jakarta – yang daya tampungnya sekitar 78 ribu orang- maka kota bisa menjadi senyap.

Dalam sejarah sepakbola Italia, kasta tertinggi Prima Catagoria dalam hirarki klub dimulai 1898 hingga 1922. Kemudian menjadi Prima Divisione hingga 1926, diganti menjadi menjadi Divisione Nazionale hingga 1929 dan kemudian semenjak 1929 menjadi Seri-A yang kita kenal hari ini.

Dan Como 1907 dalam rentang nan panjang itu, hanya meninggalkan jejak persinggahan para bintang sepakbola. Tempat singgah. Bukan tujuan. Jauh sebelum berlabuh di PSG dan kemudian ke banyak klub, Marco Simone memulai karir di Como 1907 dari tahun 1986 hingga 1989.

Para pemain kelahiran Como juga tak kalah benderang di tingkat nasional. Diego De Ascentis adalah gelandang kelahiran Como 1976 pernah bermain untuk AC Milan.

Mirwan Suwarso, Presiden Como 1907 (Instagram @comofootballindonesia)

Gianluca Zambrotta, yang kemudian kita kenal sebagai pemain bek sayap kanan serba bertenaga kesebelasan Italia lahir di Como 19 Februari 1977. Dia memulai karir sepakbola di Como 1907 pada tahun 1994. Kemudian pindah ke Juventus 1999 hingga 2006, sempat ke Barcelona 2006 hingga 2008 dan kemudian ke AC Milan hingga 2012.

Zambrotta adalah pemain penting skuad Gli Azzurri yang secara harafiah berati “ si biru,” warna kebesaran yang dipetik dari warna tradisional Wangsa Savoy (blue savoia), sebuah kerajaaan yang didirikan oleh Umberto I Biancamano di perbatasan Prancis tahun 1003. Wangsa Savoy ini sungguh penting dalam sejarah negeri itu, oleh karena mereka lah yang menyatukan seluruh kerajaan yang hari ini menjadi Italia, termasuk Como di tepi perbatasan utara, kota yang memiliki Como 1907 tapi tak punya jejak gemilang dalam dunia sepakbola.

Semenjak didirikan tahun 1907 itu, Como 1907 memang sempat masuk Seri A tahun 1949, sebelum akhirnya terlempar ke liga Seri D, yang juga dikenal sebagai liga amatir. Klub ini sempat bangkrut dua kali. Utang menumpuk. Bahkan tak mampu bayar gaji para pemain yang susah payah berlaga di lapangan.

Awal Mula Pebisnis Indonesia Masuk

Dirangkum dari berbagai sumber berita, Djarum masuk Como 1907 bermula dari rencana syuting film dokumenter. Ini usaha media grup Djarum. Film tentang sepakbola Italia untuk ditayangkan di Mola TV- anak usaha media milik Djarum. Tentu dengan tujuan agar anak-anak muda Indonesia merasakan dan terpacu oleh denyut sepakbola dunia.

Ketika mencari Lokasi syuting itulah mereka bertemu dengan Como 1907 yang sedang terpuruk. Adalah Mirwan Suwarso yang menjadi CEO Mola TV saat itu, yang memimpin langsung syuting film berjudul “ Como 1907: The True Story”, itu.

Semenjak itulah mereka sering berhubungan dengan pemilik Como 1907, serta kemudian diakusisi dengan harga Rp.14 miliar -yang terhitung tidak begitu mahal untuk ukuran klub sepakbola Eropa.

Mirwan Suwarso, Presiden Como 1907 (Instagram @msuwarso)

Djarum sebetulnya bertekad menjadikan klub ini sebagai Markas Garuda Select, home base bagi pemain-pemain muda Indonesia, tapi tekad ini terhalang oleh regulasi sepakbola Italia yang sangat ketat. Ada pembatasan. Harus memiliki ijin tinggal menetap. Dan harus memiliki rekam jejak pernah terdaftar di klub lain di negeri itu. Susah benar.

Oleh karena sudah dibeli, tidak ada pilihan lain selain menjadi Como 1907 sebagai klub sepakbola yang profesional. Dan Djarum memilih Mirwan Suwarso menjalankan misi ini.

Siapa Mirwan Suwarso

Lahir di Madiun, 29 Desember 1985, Mirwan belajar di jurusan consumer science and retail management di Purdue University, sebuah kampus yang bediri di West Lafayette, Indiana, Amerika Serikat.

Berbekal ilmu dan pengetahuan consumer science and retail management itulah dia lama membenam masa mudanya pada industri media dan hiburan. Dia pernah bekerja pada agensi periklanan sebagai account director di Saatchi & Saatchi Adverstising.

Dari sana karirnya terus menanjak. Menjadi direktur pada Destiny Films selama lima tahun hingga 2007. Lalu menjadi creative head pada MSP Entertainment tahun 2012. Mirwan kemudian menjadi business development untuk Super Soccer TV. Ini adalah platform milik Djarum, yang secara khusus menyiarkan sepak bola Eropa. Kinerja dan ketekunan membawanya dipercaya menjadi CEO Mola TV.

Mirwan Suwarso, Presiden Como 1907 (Instagram @msuwarso)

Dari situlah perjalanannya terus menyala bersama Grup Djarum, hingga melenting sebagai Presiden Como 1907. Lama malang melintang di industri kreatif, tentu saja Mirwan paham bagaimana mengelola sebuah entitas bisnis.

Dan, Mirwan sesungguhnya tidak sekadar membangun kembali sebuah klub sepakbola yang tersuruk. Sebagai pebisnis kreatif dia berusaha menghubungkan bisnis sebuah klub sepakbola menyatu dengan denyut sebuah kota. Tentu bekerjasama dengan pemerintah Kota Como. Menjadikan bola sebagai mesin narasi sebuah kota. Sebagai pusat bisnis. Pariwisata. Dan gaya hidup. Narasi itulah yang dikirim ke seluruh dunia.

Dari bisnis bola, begitu banyak hal yang dipadukan dengan denyut kota Como. Selain membangun stadion, juga membangun sekian unit usaha ritel, tempat warga lokal ikut menikmati bisnis dari deru sepakbola. Danau Como yang indah itu dipromosikan sebagai destinasi wisata olahraga. Dan di situ warga lokal berjualan dengan para pelancong yang berduyun. Di situ, mereka yang datang merasakan keriangan olahraga serta nilai yang dijunjung sebuah kota.

Thierry Henry, legenda sepakbola Prancis, begitu girang ketika diajak masuk Como 1907 pada Agustus 2022 sebagai pemegang saham minoritas. Dia bilang sudah lama menunggu diajak terlibat dalam proyek Como. Oleh karena nilai yang dibawa Djarum, sama dengan nilai yang dicita-citakannya. Bukan sekadar urusan sepakbola, “ Tapi juga membantu warga lokal,” kata Thierry Henry.

Mirwan Suwarso, Presiden Como 1907 (Instagram @msuwarso)

November 2023 Cesc Fabregas, legenda Spanyol, yang malang melintang di sejumlah klub elite Eropa, direkrut sebagai pelatih sementara. Mirwan Suwarso, atas restu pemegang saham, kemudian menetapkan Cesc Fabregas sebagai pelatih tetap 19 Juli 2024.

Jika hari ini Como 1907, bukan lagi tumpuan untuk melompat tapi dia adalah tujuan itu sendiri, bukan lagi tempat persinggahan tapi dia adalah destinasi itu sendiri, semua itu terjadi karena bekerjasama dengan Thierry Henry dan Fabregas, Mirwan Suwarso membawa ilmu pengetahuan ke dalam dunia sepakbola. Memakai data. Pakai analisis.

Metode ini dipakai dari hulu hingga muara. Dari penjaringan pemain hingga laga. Tim mereka merekrut pemain berdasarkan data statistik. Jika lolos dari tim rekrutment, calon diteruskan kepada tim validasi. Melihat gaya bermain. Memastikan akurasi data, memastikan analisis dari tim rekrument, dan memastikan cocok tidak dengan filosofi pelatih.

Data, analisis, dan hasil validasi itulah yang diserahkan kepada Cesc Fabregas sebagai pelatih. Data dan analisis dianggap tidak selalu benar. Fabregas kadang melihat pemain yang kurang bagus oleh karena klub asalnya memang kurang gemilang. Keputusan tentang pemain di Como 1907, bukan keputusan pemilik klub atau murni pelatih, tapi diputuskan dalam Dewan Sepak Bola. Duduk di dewan itu adalah kepala rekrutmen, pelatih, hingga manajemen.

Dengan sistem itulah Como 1907 yang lama tersuruk ke seri D itu perlahan merangkak lalu kembali melambung ke Seri A Liga Italia. Lalu masuk Liga Champions- liga paling bergensi di seluruh Eropa.

Dan tampil perdana dalam liga Champions mereka sangat memukau. Menekuk RB Leipzig 4-1 pada Jumat, 11 September. Prestasi klub ini terus menyala. Pada Liga Italia melawan Parma, Senin 14 September, pasukan Como menang 2-1. Como bertengger di papan atas klasemen.

Dan, Mirwan Suwarso mungkin manusia di belakang layar dari kebangkitan Como 1907 itu, tapi namanya memenuhi halaman depan begitu banyak media massa.

Beri Komentar