Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi
Dream - Neraca perdagangan Indonesia pada Juli 2015 mencetak rekor tertinggi sepanjang 19 bulan terakhir. Rekor ini terjadi di tengah aktivitas ekspor dan impor yang justru mengalami penurunan.
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan Indonesia pada Juli 2015 mencatat surplus sebesar US$ 1,33 miliar. Nilai ekspor Indonesia bulan lalu mencapai US$ 11,41 miliar, sedangkan nilai impor US$ 10,08 miliar.
" Ini adalah surplus terbesar sejak Januari 2014," kata Deputi Bidang Statistik Produksi BPS Adi Lumaksono dalam jumpa pers di kantornya, Selasa, 18 Agustus 2015.
Meski neraca perdagangan mengalami surplus, kegiatan ekspor dan impor Indonesia sepanjang Juli 2015 justru menurun dibandingkan sebulan maupun setahun sebelumnya.
Nilai ekspor Juli 2015 tercatat turun sebesar 15,53 persen dibanding Juni 2015 yang mencapai US$ 13,5 miliar. Sementara bila dibanding Juli 2014, nilai ekspor tersebut turun 19,23 persen.
Penurunan nilai ekspor tersebut terjadi baik pada sektor migas maupun nonmigas. Pada sektor migas, ekspor Juli 2015 hanya mencapai US$ 1,42 miliar turun 1,26 persen dibanding Juni 2014 yang mencapai US$ 1,43 miliar. Sedangkan pada sektor nonmigas, ekspor Indonesia pada Juli 2015 mencapai US$ 9,9 miliar turun 17,23 persen dari sebulan sebelumnya yang mencapai US$ 12,06 miliar.
Begitupula pada kegiatan impor Juli 2015 yang mencapai US$ 10,08 miliar. Nilai tersebut turun 22,36 persen dibanding Juni 2015 yang mencapai US$ 13 miliar. Pun bila dibandingkan Juli 2014, impor bulan ini turun 28,44 persen.
" Penurunan ekspor dan impor ini dipengaruhi oleh faktor global, dimana mata uang negara-negara di dunia cenderung melemah terhadap dolar Amerika Serikat. Tapi selama neracanya masih surplus, menurut saya itu masih sehat," pungkas Adi Lumaksono.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya