© Pexels.com/kaboompics.com
DREAM.CO.ID - Pernah membeli barang yang sudah lama diincar, merasa sangat senang di hari pertama, tapi tiga minggu kemudian perasaan itu memudar begitu saja? Atau mendapat kenaikan gaji yang awalnya membahagiakan, namun lama-kelamaan terasa biasa saja? Fenomena psikologis ini dikenal dengan istilah hedonic treadmill.
Apa Itu Hedonic Treadmill?
Hedonic treadmill, atau kadang disebut hedonic adaptation, merujuk pada kecenderungan manusia untuk kembali ke level kebahagiaan " normal" setelah mengalami peristiwa baik maupun buruk. Istilah ini diibaratkan seperti treadmill di pusat kebugaran, seseorang terus berjalan, tetapi posisinya tetap berada di tempat yang sama. Kebahagiaan manusia bekerja dengan pola serupa: kita terus mengejar hal-hal baru yang memberi kepuasan, namun perasaan itu selalu kembali ke titik semula.
Psikolog Philip Brickman dan Donald Campbell pertama kali memperkenalkan konsep ini pada 1971. Keduanya mengamati bahwa setiap individu memiliki " baseline" kebahagiaan masing-masing, dan pengalaman positif maupun negatif umumnya hanya menggeser baseline tersebut untuk sementara waktu, sebelum akhirnya kembali ke posisi semula.
Otak manusia dirancang untuk beradaptasi terhadap perubahan. Dari sudut pandang evolusi, kemampuan ini sebenarnya menguntungkan, jika manusia terus-menerus merasakan kebahagiaan atau kesedihan berlebihan, fokus untuk mengurus hal-hal penting demi kelangsungan hidup akan terganggu.
Persoalannya, mekanisme adaptasi ini turut berlaku pada hal-hal yang dikejar demi kebahagiaan. Ponsel baru, promosi jabatan, atau hubungan baru pada awalnya memberi kepuasan, tetapi otak secara bertahap menganggapnya sebagai bagian dari rutinitas. Begitu sesuatu menjadi rutin, dampaknya terhadap suasana hati pun berkurang drastis.
Penelitian terkenal mengenai pemenang lotre menunjukkan pola yang menarik. Individu yang memenangkan lotre memang merasakan kebahagiaan yang sangat tinggi pada awalnya, tetapi setelah beberapa bulan, level kebahagiaan mereka cenderung kembali mendekati kondisi sebelum kemenangan tersebut. Pola serupa berlaku sebaliknya: individu yang mengalami kecelakaan dan kehilangan sebagian fungsi tubuhnya juga cenderung beradaptasi, dengan level kebahagiaan yang perlahan naik kembali mendekati kondisi sebelum kecelakaan terjadi, meski tidak sepenuhnya sama.
Generasi yang tumbuh bersama media sosial merasakan fenomena ini secara lebih intens. Pembaruan perangkat elektronik setiap tahun, pembelian produk perawatan kulit setiap bulan, atau kebiasaan berbelanja daring saat menerima gaji memberi kepuasan sesaat yang cepat memudar, sebelum akhirnya mendorong pencarian kepuasan berikutnya.
Hedonic treadmill tidak berarti kebahagiaan mustahil dicapai. Konsep ini menjelaskan mengapa kebahagiaan yang bersumber dari hal-hal material atau pencapaian eksternal cenderung cepat memudar, bukan berarti kebahagiaan itu sendiri tidak dapat diraih secara berkelanjutan.
Sejumlah faktor terbukti memberi efek yang lebih tahan lama terhadap kebahagiaan dibanding barang atau pencapaian sesaat.
Pengalaman cenderung memberi kepuasan yang lebih awet dibanding kepemilikan barang. Liburan, mempelajari keterampilan baru, atau menghadiri pertunjukan musik memberi kepuasan yang bisa dikenang berulang kali, berbeda dengan objek fisik yang nilainya cenderung menurun seiring waktu.
Kualitas hubungan sosial memberi dampak jangka panjang terhadap kebahagiaan. Riset psikologi positif secara konsisten menunjukkan bahwa hubungan dengan keluarga, teman, atau pasangan menjadi salah satu prediktor kebahagiaan paling kuat, dengan efek yang tidak cepat memudar seperti kepuasan atas barang baru.
Rasa syukur membantu memperlambat proses adaptasi. Menyadari dan menghargai hal-hal yang sudah dimiliki membantu memperlambat kecenderungan otak untuk cepat " menormalkan" kebahagiaan yang sedang dirasakan.
Variasi kecil dalam keseharian terbukti lebih efektif dibanding menunggu momen besar. Menyisipkan pengalaman baru dalam rutinitas, seperti mencoba rute berjalan kaki yang berbeda atau mencicipi kuliner baru, dapat membantu menjaga kepuasan tetap segar dibanding hanya mengandalkan pencapaian besar sesekali.
Hedonic treadmill bukan alasan untuk berhenti mengejar hal-hal baik dalam hidup. Konsep ini lebih tepat dipahami sebagai pengingat bahwa kebahagiaan yang bersumber dari barang atau pencapaian eksternal memiliki masa berlaku yang lebih singkat dari yang sering diperkirakan. Pemahaman ini dapat membantu individu menentukan secara lebih bijak ke mana energi dan sumber daya sebaiknya diarahkan untuk kepuasan sesaat, atau untuk hal-hal yang memberi dampak lebih tahan lama bagi kebahagiaan jangka panjang.
Advertisement


5 Langkah Mengasah Pikiran Positif untuk Hidup yang Lebih Bahagia

Puting Lecet Saat Olahraga: Penyebab, Cara Mencegah, dan Mengatasinya

5 Ritual Mingguan yang Bisa Membuat Hubungan Tetap Harmonis dan Dekat Menurut Terapis

Hedonic Treadmill: Mengapa Kebahagiaan Terasa Cepat Berlalu?

Depresi Diduga Menghambat Kemampuan Otak Membentuk Sel Saraf Baru

5 Ritual Mingguan yang Bisa Membuat Hubungan Tetap Harmonis dan Dekat Menurut Terapis