© Pexels.com/Konstantin Mishchenko
DREAM.CO.ID - Suasana festival musik metal biasanya jauh dari kesan tenang. Ribuan orang berkumpul, musik dimainkan dengan volume tinggi, dan energi penonton terus terjaga selama pertunjukan. Namun, di tengah atmosfer “ lebih cepat, lebih keras, lebih bising” tersebut, para peneliti justru menemukan sesuatu yang menarik: pengalaman mengikuti festival musik metal tampaknya berkaitan dengan kemampuan menahan rasa sakit lebih lama.
Temuan tersebut berasal dari penelitian Lydia Schneider dan Tom Fritz dari Max Planck Institute for Human Cognitive and Brain Sciences di Leipzig, Jerman. Mereka melakukan penelitian langsung di Wacken Open Air 2023, salah satu festival musik metal terbesar di dunia yang setiap tahun dihadiri sekitar 80.000 penggemar.
Hasil penelitian tersebut kemudian diterbitkan dalam jurnal Scientific Reports. Studi ini menarik karena peneliti tidak sekadar melihat apakah musik metal dapat mengurangi rasa sakit, tetapi bagaimana pengalaman emosional dan sosial selama festival memengaruhi cara seseorang menghadapi sensasi yang tidak menyenangkan.
Sebanyak 122 penggemar musik metal mengikuti eksperimen di lokasi festival. Sebelum pengujian, peneliti mengukur detak jantung dan variabilitas detak jantung peserta menggunakan elektrokardiogram atau ECG.
Selanjutnya, peserta diminta memasukkan tangan dan lengan bawah ke dalam wadah berisi air yang sangat dingin. Peneliti mengukur berapa lama mereka mampu bertahan sebelum menarik tangan dari air.
Para peneliti juga membandingkan peserta yang diuji sebelum konser-konser utama dimulai dengan kondisi setelah mereka menjalani pengalaman festival selama beberapa hari. Dengan cara ini, peneliti dapat melihat apakah pengalaman intens selama festival berkaitan dengan perubahan toleransi terhadap rasa sakit.
Hasilnya cukup mengejutkan. Peserta yang telah menjalani pengalaman festival ternyata mampu menahan rasa sakit akibat air dingin lebih lama dibandingkan kelompok pembanding.
Namun, ada hal penting yang perlu diperhatikan. Para peserta bukan berarti menjadi kurang sensitif terhadap rasa sakit.
Menurut peneliti, peserta tidak mengatakan bahwa rasa sakit terasa lebih ringan atau tidak terlalu mengganggu. Mereka juga tidak menunjukkan bahwa sensitivitas terhadap rasa sakit menghilang.
Perbedaannya terletak pada kemampuan bertahan menghadapi rasa tidak nyaman tersebut.
Dengan kata lain, pengalaman festival tampaknya tidak membuat rasa sakit menjadi lebih kecil, tetapi membantu seseorang bertahan lebih lama sebelum memutuskan mengakhiri situasi yang tidak menyenangkan.
Peneliti menduga kondisi ini berkaitan dengan peningkatan ketahanan psikologis atau resilience. Seseorang mungkin menjadi lebih mampu menerima sensasi tidak nyaman tanpa langsung berusaha menghindarinya.
Pengalaman festival juga memberikan konteks sosial yang kuat. Penggemar tidak menghadapi musik dan lingkungan festival seorang diri. Mereka berada di antara orang-orang dengan minat yang sama, menikmati musik yang mereka sukai, serta mengalami berbagai aktivitas secara bersama-sama.
Musik metal sering menggunakan suara, lirik, dan ekspresi emosional yang intens. Kemarahan, agresi, kesedihan, dan berbagai emosi tidak menyenangkan justru menjadi bagian dari ekspresi dalam banyak karya musik metal.
Hal tersebut menjadi menarik jika dikaitkan dengan penelitian mengenai rasa sakit. Selama ini, musik dalam konteks kesehatan sering digunakan untuk menciptakan suasana positif, menenangkan pikiran, atau membantu seseorang merasa rileks.
Namun, menurut Tom Fritz, pendekatan tersebut bukan satu-satunya kemungkinan. Ketika seseorang mengalami rasa sakit yang disertai kemarahan atau frustrasi, musik yang mengekspresikan kemarahan mungkin justru membantu mereka menghadapi emosi tersebut daripada berusaha menutupinya dengan suasana positif.
Kemampuan menerima emosi dan situasi yang tidak menyenangkan merupakan salah satu komponen penting dalam ketahanan psikologis. Karena itu, musik yang terdengar agresif bagi sebagian orang mungkin memiliki fungsi berbeda bagi pendengarnya.
Para peneliti melihat kemungkinan bahwa temuan ini dapat menjadi petunjuk bagi penelitian mengenai nyeri kronis. Nyeri yang berlangsung lama tidak hanya berkaitan dengan sensasi fisik, tetapi juga dapat memengaruhi emosi, kecemasan, frustrasi, dan kemampuan seseorang menjalani aktivitas sehari-hari.
Musik yang memungkinkan seseorang mengenali dan menerima emosi negatif mungkin dapat menjadi salah satu pendekatan pendukung untuk membangun ketahanan terhadap situasi tersebut.
Meski demikian, hasil penelitian ini belum berarti musik metal dapat digunakan sebagai terapi nyeri kronis. Penelitian dilakukan dalam konteks festival dan melibatkan penggemar musik metal, sehingga hasilnya belum tentu berlaku pada semua orang. Faktor seperti pengalaman bermusik, suasana sosial, ekspektasi peserta, dan kondisi selama festival juga dapat berpengaruh.
Selain itu, konsumsi alkohol menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan karena dapat memengaruhi toleransi terhadap rasa sakit. Karena itu, hubungan yang paling jelas dalam penelitian terlihat ketika analisis difokuskan pada peserta yang tidak minum, hanya sedikit, atau mengonsumsi alkohol dalam jumlah sedang selama hari pengujian.
Penelitian ini menunjukkan bahwa cara manusia menghadapi rasa sakit tidak hanya ditentukan oleh seberapa kuat sensasi tersebut. Pengalaman emosional, lingkungan sosial, dan kemampuan menerima ketidaknyamanan juga dapat memengaruhi berapa lama seseorang mampu bertahan. Bagi penggemar musik metal, mungkin inilah salah satu alasan mengapa festival yang keras dan penuh energi justru dapat menjadi pengalaman yang memperkuat ketahanan diri.
Advertisement


5 Langkah Mengasah Pikiran Positif untuk Hidup yang Lebih Bahagia

Puting Lecet Saat Olahraga: Penyebab, Cara Mencegah, dan Mengatasinya

5 Ritual Mingguan yang Bisa Membuat Hubungan Tetap Harmonis dan Dekat Menurut Terapis

Ukuran Betis Ternyata Bisa Mengungkap Kondisi Kesehatan Pria, Ini Penjelasan Ilmiahnya

Orang yang Menguasai Banyak Bahasa Diduga Memiliki Otak hingga 13 Tahun Lebih Muda

Mengapa Wadah Plastik Menyimpan Bau dan Noda, tetapi Kaca Tidak?