Bukan Cuma Bikin Melek, Penelitian Ungkap Peminum Kopi Punya Lemak Lebih Sedikit dan Massa Otot Lebih Besar

Reporter : Abidah
Minggu, 30 Agustus 2026 12:00
Bukan Cuma Bikin Melek, Penelitian Ungkap Peminum Kopi Punya Lemak Lebih Sedikit dan Massa Otot Lebih Besar
Penelitian terbaru dari Finlandia menemukan hubungan menarik antara kebiasaan minum kopi dengan komposisi tubuh, metabolisme, dan hormon.

DREAM.CO.ID - Secangkir kopi biasanya identik dengan cara sederhana untuk mengusir kantuk pada pagi hari. Namun, penelitian terbaru dari Finlandia menemukan hubungan menarik antara kebiasaan minum kopi dengan komposisi tubuh, metabolisme, dan hormon. Orang yang mengonsumsi kopi lebih banyak dalam penelitian tersebut cenderung memiliki lemak tubuh dan lemak visceral lebih sedikit serta massa otot rangka lebih besar, meskipun indeks massa tubuh (BMI) mereka tidak jauh berbeda.

Dilansir dari ScienceDaily, penelitian yang dilakukan para ilmuwan University of Oulu tersebut menganalisis data 2.264 orang berusia 46 tahun yang menjadi bagian dari Northern Finland Birth Cohort 1966. Para peneliti melihat hubungan antara kebiasaan konsumsi kopi dengan berbagai metabolit dalam darah, indikator kesehatan kardiometabolik, serta kadar hormon seks. Hasilnya menunjukkan bahwa peserta yang minum kopi lebih banyak cenderung memiliki kadar lemak total dan lemak visceral yang lebih rendah. Mereka juga memiliki massa otot rangka yang lebih besar. Menariknya, perbedaan tersebut tetap terlihat meskipun kelompok dengan konsumsi kopi berbeda memiliki BMI yang relatif serupa.

Peminum Kopi Punya Profil Metabolisme Berbeda

Penelitian tersebut juga menemukan perbedaan pada kadar branched-chain amino acids (BCAA), yakni asam amino rantai bercabang yang terdiri dari leusin, isoleusin, dan valin. Peserta yang mengonsumsi lebih banyak kopi memiliki kadar BCAA yang lebih rendah dalam sirkulasi darah, baik pada laki-laki maupun perempuan. Kadar BCAA yang terus-menerus tinggi sebelumnya telah dikaitkan dengan resistensi insulin dan peningkatan risiko diabetes tipe 2.

Temuan ini menarik karena memberikan kemungkinan penjelasan baru mengenai hubungan kopi dengan kesehatan metabolik. Sejumlah penelitian sebelumnya memang telah mengaitkan konsumsi kopi dengan risiko lebih rendah terhadap beberapa penyakit, termasuk diabetes tipe 2 dan penyakit kardiovaskular. Namun, para ilmuwan masih belum sepenuhnya memahami mekanisme biologis yang mendasari hubungan tersebut. Penelitian dari Finlandia ini memberikan petunjuk bahwa metabolisme dan hormon mungkin menjadi bagian dari mekanisme tersebut.

1 dari 2 halaman

Ada Perbedaan antara Laki-laki dan Perempuan

Bagian yang cukup menarik dari penelitian ini adalah temuan mengenai hormon seks. Hubungan antara konsumsi kopi dan hormon ternyata tidak sepenuhnya sama pada laki-laki dan perempuan.

Pada laki-laki, konsumsi kopi yang lebih tinggi dikaitkan dengan profil glukosa-insulin yang lebih baik, kadar testosteron total dan bioavailable testosterone yang lebih tinggi, serta peningkatan sex hormone-binding globulin (SHBG). Namun, kadar testosteron bebas dan free androgen index justru sedikit lebih rendah.

Sementara itu, hubungan hormonal pada perempuan terlihat lebih terbatas. Konsumsi kopi yang lebih tinggi terutama dikaitkan dengan peningkatan SHBG dan ukuran androgen bebas yang lebih rendah. Perbedaan ini membuat peneliti melihat adanya semacam " tanda tangan hormonal" yang berbeda antara laki-laki dan perempuan.

Luca Verroest, peneliti utama sekaligus peneliti doktoral di University of Oulu, mengatakan bahwa salah satu hal yang paling menonjol adalah pola hormonal tersebut tetap terlihat setelah peneliti memperhitungkan BMI dan faktor gaya hidup.

2 dari 2 halaman

Jangan Langsung Menganggap Kopi Bisa Menurunkan Berat Badan

Meski hasil penelitian terdengar menjanjikan bagi pencinta kopi, ada satu catatan penting: penelitian ini bersifat observasional. Artinya, penelitian menemukan hubungan antara kebiasaan minum kopi dan karakteristik tubuh atau metabolisme, tetapi tidak dapat membuktikan bahwa kopi secara langsung menyebabkan seseorang memiliki lebih sedikit lemak atau lebih banyak otot.

Bisa saja terdapat faktor lain yang memengaruhi hasil tersebut. Karena itu, temuan ini belum dapat dijadikan alasan untuk meningkatkan konsumsi kopi dengan tujuan menurunkan lemak tubuh atau meningkatkan massa otot.

Konteks penelitian juga menarik karena Finlandia merupakan salah satu negara dengan konsumsi kopi tertinggi di dunia. Rata-rata konsumsi kopi di negara tersebut mencapai sekitar 11,8 kilogram per orang per tahun. Para peneliti mengatakan temuan ini dapat menjadi titik awal untuk penelitian berikutnya yang menguji apakah kopi benar-benar menyebabkan perubahan biologis tersebut dan senyawa apa yang mungkin bertanggung jawab.

Penelitian yang diterbitkan dalam European Journal of Nutrition itu pada akhirnya menambah satu lapisan baru dalam pembahasan mengenai kopi. Minuman yang selama ini terutama dikenal karena kandungan kafeinnya ternyata mungkin memiliki hubungan yang lebih kompleks dengan metabolisme, komposisi tubuh, dan sistem hormonal.

Namun, untuk saat ini, kesimpulan yang paling aman bukanlah " semakin banyak minum kopi semakin sehat" . Temuan tersebut masih menunjukkan hubungan, bukan hubungan sebab-akibat. Penelitian lanjutan, termasuk studi intervensi pada manusia, masih diperlukan sebelum hasilnya dapat digunakan untuk membuat rekomendasi konsumsi kopi.

Beri Komentar