Suhu yang Terus Meningkat Ternyata Memperlambat Perkembangan Anak Usia Dini

Reporter : Abidah
Senin, 31 Agustus 2026 06:00
Suhu yang Terus Meningkat Ternyata Memperlambat Perkembangan Anak Usia Dini
Bukti baru kini menunjukkan bahwa suhu yang terus meningkat juga bisa memperlambat aspek-aspek penting dalam perkembangan anak usia dini.

DREAM.CO.ID - Perubahan iklim, termasuk suhu ekstrem dan gelombang panas yang makin sering terjadi, sudah lama diketahui merusak ekosistem, pertanian, dan kesehatan manusia. Dilansir dari ScienceDaily, bukti baru kini menunjukkan bahwa suhu yang terus meningkat juga bisa memperlambat aspek-aspek penting dalam perkembangan anak usia dini.

Dipublikasikan di Journal of Child Psychology and Psychiatry, studi ini melaporkan bahwa anak-anak yang mengalami kondisi cuaca lebih panas dari biasanya, khususnya dengan suhu maksimum rata-rata di atas 30 derajat Celsius, cenderung lebih kecil kemungkinannya mencapai target perkembangan literasi dan numerasi yang diharapkan, dibanding anak-anak yang tinggal di lingkungan lebih sejuk.

" Meski paparan panas selama ini sudah dikaitkan dengan dampak buruk bagi kesehatan fisik dan mental sepanjang hidup, studi ini memberi wawasan baru bahwa panas berlebih berdampak negatif terhadap perkembangan anak-anak usia dini di berbagai negara," kata penulis utama Jorge Cuartas, asisten profesor psikologi terapan di NYU Steinhardt. " Karena perkembangan usia dini menjadi fondasi bagi proses belajar seumur hidup, kesehatan fisik dan mental, serta kesejahteraan secara keseluruhan, temuan ini sebaiknya menjadi peringatan bagi para peneliti, pembuat kebijakan, dan praktisi soal urgensi melindungi perkembangan anak di dunia yang semakin panas."

1 dari 2 halaman

Temuan Internasional Mengungkap Pola yang Jelas

Cuartas bersama rekan-rekannya menganalisis data dari 19.607 anak berusia tiga hingga empat tahun di Gambia, Georgia, Madagaskar, Malawi, Palestina, dan Sierra Leone. Negara-negara ini dipilih karena menyediakan data terperinci soal perkembangan anak, kondisi hidup rumah tangga, dan iklim, sehingga memungkinkan peneliti memperkirakan seberapa besar paparan panas yang dialami setiap anak.

Untuk mengevaluasi perkembangan anak, tim peneliti menggunakan Early Childhood Development Index (ECDI), yang melacak pencapaian di empat bidang: keterampilan membaca dan berhitung (literasi dan numerasi), perkembangan sosial-emosional, pendekatan terhadap pembelajaran, dan perkembangan fisik. Para peneliti menggabungkan data ECDI dengan data 2017-2020 dari Multiple Indicator Cluster Surveys (MICS), yang mencakup indikator demografis dan kesejahteraan seperti pendidikan, kesehatan, gizi, dan sanitasi. Dengan menggabungkan kedua dataset ini bersama catatan iklim yang menunjukkan suhu rata-rata bulanan, mereka menelusuri kemungkinan hubungan antara paparan panas dan perkembangan anak usia dini.

2 dari 2 halaman

Suhu Lebih Tinggi Berkaitan dengan Target Perkembangan yang Terlewat

Para peneliti menemukan bahwa anak-anak yang mengalami suhu maksimum rata-rata di atas 30 derajat Celsius 5 hingga 6,7 persen lebih kecil kemungkinannya memenuhi standar dasar literasi dan numerasi, dibanding anak-anak yang terpapar suhu di bawah 26 derajat Celsius pada musim dan wilayah yang sama. Anak-anak dari rumah tangga dengan keterbatasan ekonomi, rumah dengan akses terbatas terhadap air bersih, serta kawasan perkotaan berkepadatan tinggi, menunjukkan dampak paling kuat.

" Kami sangat membutuhkan lebih banyak riset untuk mengidentifikasi mekanisme yang menjelaskan dampak ini, serta faktor-faktor yang bisa melindungi anak atau justru meningkatkan kerentanan mereka. Riset semacam ini akan membantu menentukan target konkret bagi kebijakan dan intervensi yang memperkuat kesiapsiagaan, adaptasi, dan ketahanan seiring perubahan iklim yang semakin intensif," kata Cuartas.

Studi ini turut ditulis bersama Lenin H. Balza dari Inter-American Development Bank, Andrés Camacho dari University of Chicago, dan Nicolás Gómez-Parra dari Inter-American Development Bank.

Beri Komentar